
Malam ini aku sengaja bergadang untuk segera menyelesaikan pekerjaan ku, berharap akan selesai akhir bulan ini. Agar aku dapat segera pulang kampung dan menemui Ibu dan Bapak.
Sudah hampir tiga jam aku berkutat dengan laptop ku, tapi pekerjaan ku masih saja belum selesai.
Kantuk sudah mulai menyerang, tapi tetap ku paksakan terjaga agar pekerjaan cepat selesai. Huh, tapi mataku benar-benar sudah terasa berat.
Aku tidak boleh kalah oleh rasa ngantuk ini, aku beranjak dari tempat duduk ku dan pergi ke dapur untuk membuat kopi. Setelah selesai membuat kopi, aku langsung ke ruang kerjaku lagi sambil menyeruput kopi yang ku buat.
Lama aku berkutat dengan laptop, sampai aku ketiduran di ruang kerja.
Setengah jam kemudian alarm hp ku berbunyi, aku langsung membuka hp ku dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Aku kalap dan langsung beranjak dari tempat dudukku. Aku berjalan menuju ke kamar mandi dengan sempoyongan karena kepala ku terasa sangat berat sekali.
Selesai mandi dan bersiap-siap, aku langsung menghidupkan mobil dan langsung melaju menuju ke toko. Dan aku melewatkan sarapan pagi ku.
Bekerja dengan perut kosong membuat aku jadi tidak fokus, sudah beberapa kali aku mengulang menghitung pengeluaran dan penghasilan hari ini karena selalu salah menghitungnya.
Aku yakin ini bukan hanya karena aku tidak sarapan, tapi juga karena bergadang semalaman. Kepala ku benar-benar sangat terasa berat, badan ku juga sangat lemas.
Aku harus kuat karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari ini juga aku ada janji bertemu dengan beberapa klien.
Tapi saat aku beranjak dan keluar dari ruangan kerja ku, tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Semuanya menjadi gelap, yang ku ingat hanyalah teriakan para pegawai ku.
***
Aku merasakan ada tangan yang memijit-mijit kaki ku, kemudian dengan lembut mengusap tanganku.
"Gimana, Al. Nyonya sudah sadar belum?" Terdengar suara pegawai ku Andin.
"Belum sadar, mbak. Apa kita panggil dokter saja ya?" Suara Aldo terdengar begitu khawatir.
"Jangan dulu deh, Al. Tunggu nyonya sadar dulu, terus nanti kita tanya masih sakit atau tidak. Nah kalo masih ada yang sakit baru kita panggil dokter." Usul Andin.
"Tapi, mbak. Saya khawatir kepada nyonya, takut kenapa-kenapa."
Apa?! Aku tidak salah dengar kan? Aldo mengkhawatirkan ku. Wah rasanya aku tidak ingin dulu membuka mata, kapan lagi kan bisa dikhawatirkan oleh Aldo.
"Semoga aja tidak terjadi apa-apa kepada nyonya. Yasudah, aku ambilkan air hangat dulu ya." Terdengar suara langkah kaki Andin menjauh pergi.
Ini artinya, aku dan Aldo sedang hanya berdua saja. Aaahhh…. Aku benar-benar sangat ingin berteriak.
Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki datang mendekat. "Ini Al, air hangat untuk nyonya. Kamu bantu nyonya minum ya, pas sadar nanti."
"Loh, memangnya mbak mau kemana?"
"Saya mau kembali bekerja, masih banyak yang harus saya kerjakan." Jawabnya.
"Tapi ini nyonya bagaimana?" Tanya Aldo kebingungan.
__ADS_1
"Kamu saja yang menemani ya, Al. Soalnya ini saya masih banyak pekerjaan, saya harus mengejar target penjualan bulan ini." Berlalu pergi.
Aku mendengar Aldo menghela nafas panjang. Hahaha, dia ini lucu sekali. Walau aku tidak melihatnya, namun aku bisa merasakan kalau dia sekarang sedang gugup.
"Kenapa nyonya tidak sadar-sadar ya? Sepertinya aku harus menelpon dokter."
Hahaha, lama-lama kasian juga membuat dia bingung. Jadi aku langsung berakting pura-pura baru sadar.
"Ah, aku dimana?" Berakting seperti artis sinetron.
"Nyonya sudah sadar? Nyonya sedang berada didalam ruang kerja nyonya sendiri."
Aku juga tau, aku hanya sedang berakting saja. Hehehe….
"Apakah nyonya mau minum? Ini ada air hangat." Langsung membantu ku untuk meminum air hangat itu. "Apa ada yang nyonya inginkan?"
"Saya mau makan."
"Makan? Nyonya mau makan apa, biar saya belikan."
"Tidak usah, lebih baik kamu antar saja saya makan di luar."
"Makan di luar? Tapi nyonya terlihat masih lemas, wajah nyonya juga terlihat pucat."
Ya, aku benar-benar masih merasakan tidak enak badan. Mungkin ini karena efek bergadang dan tidak sarapan pagi. Kepalaku juga terasa berat.
Aku melihat Aldo terdiam sejenak, lalu dengan ragu dia mengangguk. "Baik, nyonya. Saya permisi." Menunduk sopan, lalu keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, Aldo datang dengan membawa dua bungkus nasi Padang seperti yang aku perintahkan.
"Ini dua bungkus nasi padangnya, nyonya."
Aku mengambil satu bungkus nasi Padang, dan memberikan bungkusan lainnya kepada Aldo. Dia tampak melihat satu bungkus nasi Padang yang ku berikan itu dengan bingung.
"Makanlah disini bersama dengan saya."
Wajahnya tampak berubah menjadi terkejut. "A-apa? Tapi nyonya."
"Ini perintah!" Tegas ku.
Aldo pun langsung mengangguk dan membuka bungkusan nasi Padang itu, lalu memakannya dengan lahap. Ah…. Kita sekarang sedang makan berdua, rasanya bahagia sekaligus deg-degan.
"Aldo, kamu itu usia berapa tahun?" Tanya ku berusaha untuk membuka obrolan.
"Saya berusia 26 tahun, nyonya." Jawabnya.
"Kalau begitu kamu satu tahun lebih tua dari saya." Dia tampak mengangguk sopan. "Saya suka dengan ketekunan dan semangat berkerja kamu, kamu itu orangnya rajin dan pekerja keras. Itu membuat saya kagum kepada mu."
"Terimakasih banyak, nyonya. Semua itu saya lakukan agar tidak mengecewakan keluar saya, juga nyonya yang telah sudi menerima saya sebagai pegawai nyonya disini."
__ADS_1
Aku benar-benar tak henti-hentinya tersenyum mendengar perkataan dari Aldo. Sungguh laki-laki yang baik dan rendah hati.
"Eeemmm, Aldo. Minggu depan kamu bisa tidak ikut dengan saya pergi ke kampung halaman saya. Kamu tenang saja, semua ini ada kaitannya dengan pekerjaan."
"Ke kampung halaman nyonya?"
"Iya, saya berniat ingin membuka toko juga disana. Jadi kamu bisakan membantu saya?"
"Baik, dengan senang hati nyonya." Mengangguk sopan.
***
Selesai pekerjaan di toko, dan melakukan pertemuan dengan klien. Aku langsung melajukan mobilku menuju ke caffe tempat aku dan Kanaya janjian untuk bertemu.
Sebenarnya aku merasa sangat lelah dan pusing, tapi hari ini aku usahakan untuk bisa bertemu Kanaya sebelum dia berangkat ke luar kota.
Sampai di caffe aku langsung mengedarkan pandangan mencari sosok Kanaya, dan tidaklah sulit untuk bisa mengenali sahabat ku itu.
"Kanaya, apa kamu sudah lama menunggu? Maaf ya, tadi aku ada pertemuan dengan beberapa klien."
"Iya tidak apa-apa."
"Jadi kamu besok akan berangkat?" Tanya ku.
"Aku berangkat malam ini, tiba-tiba rekan bisnis ku memajukan jadwalnya. Jadi besok pagi aku harus sudah ada disana." Jelasnya.
"Malam ini? Kanaya untung saja aku menyempatkan waktu untuk bisa bertemu dengan mu, kalau tidak aku akan sangat menyesal karena tidak menemui dulu sebelum kamu pergi keluar kota."
"Iya, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk bisa bertemu dengan ku."
Hampir dua jam kami berbincang-bincang berdua, dari membicarakan hal sepele sampai membicarakan tentang pekerjaan.
"Bagaimana dengan toko elektronik mu?" Tanya Kanaya.
"Aku bersyukur karena usaha ku semakin berkembang. Kamu, bagaimana dengan butik mu? Pasti semakin berkembang kan." Kata ku disusul tawa oleh Kanaya.
"Ya, aku bersyukur usaha yang kita rintis semakin berkembang. Dan semoga usaha kita ini semakin berkembang dan sukses."
"Aamiin."
Berbincang-bincang dengan sahabat ku Kanaya sepertinya tidak pernah membuat ku bosan, karena dia selalu pandai membuat bahan perbincangan.
Dan sampailah dia sekarang berpamitan pada ku.
Sahabatku Kanaya, semoga kamu selalu sehat, dan sukses selalu. Aku bangga pada kegigihan dan kerja keras mu.
***
Jangan lupa like, komen, rate, vote, dan Favorit ya💞
__ADS_1