
Aku sangat menikmati udara segar disini, jarang-jarang bisa mendapatkan udara seperti ini di kota, yang ada hanya polusi yang menyesakkan.
Andai saja aku memiliki banyak uang, aku mau beli rumah dan membangun usaha disini saja. Senangnya kalau setiap hari bisa menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah seperti ini.
Nanti akan aku ajak Ibu dan Bapak untuk pindah kesini. Iya, Ibu dan Bapak. Sudah lama juga aku tidak menghubungi mereka. Bagaimana sekarang ya keadaan mereka.
"Talia, bagaimana apa kamu suka?"
"Iya, aku sangat suka. Pemandangannya sangat indah."
"Mau berfoto?" Aku mengangguk cepat mendengar perkataan Presdir Zukril.
Jepret....
Aku terkejut saat Presdir Zukril tiba-tiba memfotoku. "Eh, aku belum siap."
"Tidak apa-apa, lihat kamu cantik kok." Katanya dengan senyum manisnya.
Emangnya secantik apa sih aku dimatanya. Tentunya aku pastinya masih jauh kalah cantik dibandingkan mantannya, Kanaya.
Aku dan Kanaya benar-benar jauh berbeda, begitupun juga dari segi kecantikan. Kalau lagi jalan berdua nih, pastinya yang selalu jadi pusat perhatian para laki-laki itu ya Kanaya. Dan aku? Aku hanyalah sebuah bayangan yang sama sekali tidak akan dilirik.
Ibaratnya, Kanaya itu adalah cahaya dan aku hanyalah pantulan bayangannya. Dan aku rasa selamanya akan begitu. Makannya aku tidak akan pernah yakin kalau Presdir Zukril akan memiliki perasaan cinta kepadaku.
"Kamu lagi mikirin apaan sih, dari tadi bengong Mulu. Hati-hati loh kerasukan cinta." Gelaknya.
"Lagi gak pengen bercanda, tiba-tiba gak mood."
"Gak mood kenapa sih? Niatnya kan kita kesini buat happy, please jangan ada kesedihan hari ini."
Loh, kok aku malah jadi merasa bersalah gini ya. Aku jadi merasa telah menghancurkan liburan indahnya. Maaf Presdir Zukril, sungguh aku benar-benar tidak bermaksud begitu.
Perlahan aku menghampiri Presdir Zukril, lalu dengan perlahan menyentuh tangannya. "Maaf ya udah bikin acara liburan kamu jadi kacau, harusnya tadi kamu gak ngajak aku. Aku itu orangnya emang gak tahu diri."
Eh.... Kok tiba-tiba dia meluk aku sih, aduh aku kan jadi degdegan. Semoga aja dia gak denger suara detak jantungku. Aduh.... Ngelus kepala lagi, makin lemah deh ini hati.
Pengen dilepas tapi kok nyaman banget rasanya, jadi pengen terus ada diposisi seperti ini. Terimakasih Tuhan, mungkin engkau tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa mendapatkan dirinya, jadi Kau membuat dia memelukku sebelum hatiku patah karena sadar tidak akan pernah bisa memilikinya.
Lah, ini kenapa lagi air mata pake keluar. "Kamu nangis?" Tuh kan ketahuan. Aku menggeleng kuat, lalu dengan lembut Presdir Zukril mengusap air mataku.
__ADS_1
"Aku merasa tidak berguna."
"Hah?"
"Untuk apa aku berada di sisimu tapi kalau kamu tetap merasa sedih dan terluka. Aku ingin kamu bahagia, hidup bahagia bersamaku."
Tunggu dulu, aku benar-benar bingung sekarang. Apa maksud dari perkataannya itu, dia....
"Aku mencintaimu Talia, sangat mencintaimu. Entah kamu merasakan rasa yang sama atau tidak, aku tidak perduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah aku mencintaimu."
Duaarr!
Rasanya seperti ada kilatan petir diatas kepalaku. Apa tadi dia bilang? Mencintaiku. Apakah ini mimpi, atau jangan-jangan aku mengalami halusinasi akut.
Tolong siapa saja, sadarkan aku dari mimpi yang indah ini. Mimpi yang tidak mungkin akan tergapai olehku, tapi entah kenapa aku sangat menyukai mimpi ini.
"Kenapa bengong? Kamu pasti terkejut ya." Dia tertawa sumbang. "Aku juga tahu, mana mungkin perempuan sehebat kamu mau bersama laki-laki cacat sepertiku. Rasanya mustahil."
Loh kok dia berfikir seperti itu, justru malah aku yang merasa tidak pantas bersanding dengannya. Justru akulah yang butiran debu disini, dan kamu adalah permata.
"Aku tahu kalau aku tidaklah berguna, aku...."
"Kenapa?"
"Karena aku merasa tidak pantas bersanding denganmu, aku hanyalah butiran debu." Aku menunduk lesu mendengar ocehanku sendiri.
"Bodoh!"
Apa?
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu, coba saja kalau kamu dari dulu mengungkapkannya mungkin saja hari ini kita sudah bahagia bersama."
Kenapa dia malah nyalahin aku sih, diakan yang laki-laki disini harusnya kan dia yang mengungkapkan perasaan duluan. Bukannya aku.
"Tapikan kamu laki-laki, jadi...."
"Jadi harus aku yang mengungkapkan perasaan duluan?" Aku mengangguk sebagai jawaban.
Dia tertawa, lalu memelukku dengan erat. Nyaman, itulah yang aku rasakan saat ia memelukku. Ternyata begini ya rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Bahagia, sangat bahagia.
__ADS_1
Dapat aku rasakan cinta yang amat sangat tulus dari sentuhan dan tatapannya. Tuhan, terimakasih banyak. Bahagia itulah yang aku rasakan sekarang.
***
Senja menemani lajuan mobil yang dikendarai oleh Presdir Zukril. Dapat aku lihat wajah berserinya itu, dia sangat tampan. Entah aku pernah melakukan kebaikan besar apa, aku sampai mendapatkan cinta dari laki-laki yang nyaris hampir sempurna.
Entah harus berapa kali lagi ku katakan, kalau aku benar-benar sangat bahagia. Aku bahagia....
Sampai didepan rumah. Presdir Zukril langsung membukakan pintu mobil untukku. Padahal aku sudah sering diperlakukan seperti ini, tapi kenapa kali ini sangat berbeda rasanya. Apa karena aku tahu kalau dia juga mencintaiku.
"Tersenyum terus dari tadi, kayak anak kecil habis diajak jalan-jalan aja." Ledeknya.
"Kamu ini ngeledek Mulu aku, nyebelin."
"Hahaha...."
Dih malah ketawa, apa dia gak tahu kalau ketawanya itu bikin jantung aku menari-nari. Udah dong stop, kenapa dia manis banget sih.
"Kamu ini manis banget sih, Talia. Jadi pengen cepet-cepet dinikahi." Aku melotot mendengar perkataannya.
Aku tidak ingin mengambil resiko kalau aku terus melayani ledenkannya. Gimana kalau aku pingsan, lebih baik aku masuk duluan kedalam rumah sebelum dia melancarkan serangan lainnya lagi.
Didalam aku sudah melihat nenek sedang membaca buku, dengan kacamata tebal yang ia pakai. "Nenek." Seru Presdir Zukril yang ternyata mengikuti aku dari belakang.
"Hey, Zu. Bagaimana, apakah berhasil?"
"Berhasil dong, nek."
"Berhasil apa?" Tanyaku bingung.
Nenek dan Presdir Zukril langsung tertawa, tentunya saja itu membuat aku jadi tambah bingung. Lalu kulihat mereka ber toss.
"Jangan-jangan Nenek dan Presdir Zukril...."
"Iyap, kamu benar. Kami memang sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari, yaitu menyatakan perasaan cintaku kepadamu."
"Jadi nenek dan Presdir Zukril bekerja sama."
"Iya cucuku. Zu itu adalah laki-laki pemalu dalam hal menyatakan perasaan, jadi nenek membantunya dengan cara seperti ini. Tapi nenek sangat bahagia kalau kalian benar-benar saling mencintai, dan kalian menjadi pasangan yang bahagia."
__ADS_1
Presdir Zukril menghampiriku dan langsung memelukku dihadapan nenek, sebenarnya aku malu. Tapi lagi-lagi perasaan nyaman ini mengalahkan rasa malu itu.