
Hari ini tampak raut wajah gelisah dan gugup terlukis di wajah Presdir Zukril yang sedang duduk di sebelahku, jujur saja lucu sekali melihat wajahnya itu. Ia tak henti-hentinya melirik ke arahku, sambil terus menggenggam tanganku.
Sedangkan di sofa sebrang, Ibu dan Bapak tampak menatap Presdir Zukril. Tatapannya tajam dan meneliti setiap detail yang ada dalam Presdir Zukril. Mungkin saja Ibu dan Bapak terkejut melihat Presdir Zukril, pasalnya aku dulu selalu bersama dengan Aldo, tapi sekarang malah membawa laki-laki lain untuk dihadapkan dengan kedua orang tuaku.
"Ehem...." Bapak mendehem, mengisyaratkan kalau beliau akan berbicara hal yang sangat penting. "Nak Zukril."
"Iya, Pak?" Menjawab dengan gaya sok kalem dan berwibawa, padahal mah tangannya gemetar. Dan dengan pintarnya ia menyembunyikan tangan gemetarnya itu di bawah meja.
"Kamu tahukan kalau Talia itu adalah putri tercinta kami satu-satunya." Dijawab dengan anggukan oleh Presdir Zukril. "Dengan datangnya kamu ke sini, lalu meminta restu untuk menjadi pendamping hidup putri kami berarti kamu harus siap dengan segala tanggung jawab yang akan kamu emban. Dan juga segala Konsekuensi ketika suatu saat kamu menyakiti hati putri kami...."
"Tidak, Pak. Saya tidak akan pernah menyakiti Talia. Saya sangat mencintai Talia, mana mungkin saya akan sanggup untuk menyakitinya." Sela Presdir Zukril dengan suara yang lantang.
Mendengar jawaban Presdir Zukril, Bapak menatapnya lekat-lekat. "Hey, anak muda. Saya belum selesai bicara. Lagian apa pantas bicara dengan nada suara lantang seperti itu kepada orang tua."
Deg!
Dapat aku lihat keringat dingin membasahi dahi dan lehernya. Ah, aku juga sebenarnya jadi ikut takut dan gugup. Aku terkejut dengan sikap Bapak yang dingin seperti ini kepada Presdir Zukril. Bapak biasanya adalah pribadi yang hangat dan ramah kepada siapa saja, tapi entah kenapa sikap Bapak malah seperti ini kepada Presdir Zukril.
Bapak terus menatap tajam Presdir Zukril, ingin sekali rasanya aku menghentikan semua ini. Bertanya kenapa Bapak sangat sinis kepada Presdir Zukril. "Bapak." Ujarku.
"Diam, Lia. Bapak sedang bicara kepada nak Zukril." Sela Bapak memotong pembicaraanku.
Ah, aku benar-benar frustasi. Bisa-bisa anak orang sawan kalo terus diperlakukan seperti ini. Bapak ini apa-apaan sih. Kesayanganku malah dipelototi seperti itu. "Maafkan saya, pak. Sungguh saya minta maaf." Akhirnya hanya kata-kata itulah yang terlontar di mulut Presdir Zukril, dari nada bicaranya ia tampak pasrah.
__ADS_1
"Kamu ingin saya merestui kamu untuk bersanding dengan anak saya?"
"I-iya, pak."
"Kalau begitu kamu harus melakukan persyaratan yang saya buat. Apa kamu sanggup?!"
"S-saya akan melakukan apapun agar Bapak merestui kami."
Bapak melihat ke arahku dengan senyum penuh kemenangan. Aku membalas dengan wajah cemberut. Habisnya kesal, anaknya mau dilamar malah dipersulit begini. "Pertama, kamu pergilah keluar dulu. Saya akan membicarakan sesuatu kepada Putri dan istriku dulu."
Dengan perlahan Presdir Zukril bangkit dari duduknya, kemudian mengangguk ramah sebelum keluar dari rumah. Kasihan sekali dia, pasti dia sangat kebingungan sekarang. Sungguh aku sangat ingin memeluknya saat melihat dia tegang seperti tadi.
"Bapak ini apa-apaan, kok malah sinis begitu sama Presdir Zukril?!" Tanyaku kesal.
"Tapi tidak begitu juga dong, Pak. Nanti kalau dia gak jadi ngelamar aku karena sikap Bapak yang seperti itu bagaimana?"
"Ya, berarti mentalnya lemah. Gak pantas untuk menjadi pendamping kamu. Laki-laki itu harus kuat fisik dan mental, agar nantinya bisa melindungi kamu. Kan laki-laki itu yang akan menafkahi kamu nantinya."
Niat Bapak memang baik, tapi tentu caranya yang salah. Sejujurnya Bapak tidak melakukan seperti itupun aku sudah yakin kalau Presdir Zukril akan selalu mampu untuk menjaga dan mendampingi aku. Ia adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Tentunya sangat berbanding terbalik dengan Aldo.
****
Malam harinya, aku dan Ibu sedang memasak untuk makan malam kami. Sedangkan Presdir Zukril bersama dengan Bapak di ruang tengah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sebetulnya aku sangat penasaran, tapi ya mau bagaimana lagi, Bapak melarang aku mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu melamun saja? Pasti sedang memikirkan apa yang dibicarakan Bapak dan nak Zukril itu ya." Ujar Ibu sambil tangannya sibuk memotong sayuran.
"Hehehe.... Iya, Bu. Lia takut Bapak terlalu keterlaluan mengerjai Presdir Zukril, kan kasihan dia."
Ibunya hanya tersenyum melihat kekhawatiran yang aku rasakan. "Bapakmu juga dulu diperlakukan seperti itu oleh kakekmu saat akan melamar Ibu dulu."
"Hah, serius! Gimana ceritanya, Bu?" Tanyaku yang amat sangat penasaran.
"Jadi, dulu Bapak kamu datang ke rumah Ibu. Sama seperti nak Zukril, Bapakmu juga mau meminta restu untuk melamar Ibu. Saat itu kondisi Bapakmu juga sama, dipelototi sama kakekmu. Malahan Bapakmu lebih parah, kakek mengintrogasi Bapakmu sambil megang golok."
"Golok?! Terus keadaan Bapak gimana?"
"Kata Ibu juga kondisi Bapakmu sama seperti nak Zukril, tangannya gemetar sama keluar keringat dingin."
Aku dan Ibu tertawa bersama, ternyata Bapak juga dulu sama diperlukan seperti itu saat akan melamar Ibu. Pantas saja Bapak melakukan hal tersebut kepada Presdir Zukril.
"Kakek menyuruh Ibu untuk membantu nenekmu memasak di dapur, terus kakek dan Bapak berbincang-bincang di ruang tengah. Ibu dilarang untuk mendengarkan waktu itu, ya sama seperti yang terjadi sama kamu sekarang ini. Tapi dulu Ibu bandel, diam-diam Ibu menguping pembicaraan kakek dan Bapakmu, terus membiarkan nenek memasak sendiri."
"Terus-terus, kakek bilang apa ke Bapak?" Tanyaku.
"Kakek bilang begini, 'nak, saya merestui hubungan kalian. Ia adalah putri saya satu-satunya, saya sangat menyayanginya. Ingat.... Jangan pernah kamu sakiti hatinya, jangan kamu lukai jiwa dan raganya. Kalau sampai itu terjadi, kamu akan berhadapan langsung dengan saya! Cintai dia sebagaimana saya mencintainya, sayangi dia sebagaimana saya menyayanginya, rawat dan jaga dia sebagaimana saya dulu merawat dan menjaganya.' Begitu kakekmu bilang, lalu Bapakmu menjawab dengan penuh percaya diri. 'Saya akan mencintai, menyayangi, merawat dan menjaga anak Bapak dengan jiwa dan raga saya. Tak akan saya biarkan setitik kesengsaraanpun menyentuhnya.' Hahaha...." Ibu tertawa saat selesai bercerita kepadaku.
"Wah, Bapak hebat ya. Berani bicara dengan percaya diri seperti itu di depan kakek yang bersenjatakan golok, hahaha."
__ADS_1
"Namanya juga perjuangan cinta." Kata Ibu sambil tersenyum. "Setelah malam itu, besoknya Bapakmu datang dengan keluarga besarnya untuk melamar Ibu secara sah. Kamipun bertunangan, dan berselang beberapa bulan acara pernikahan dilangsungkan. Setahun kemudian, kamupun lahir menjadi pelengkap kisah cinta Bapak dan Ibu." Mendengar ucapan Ibu membuat aku jadi terharu, aku sangat sayang kepada Bapak dan Ibu. Sangat....