Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Masih sama


__ADS_3

Seperti kata ku waktu itu, hari ini aku dan Aldo sedang dalam perjalanan menuju ke kampung ku. Kami berdua menaiki mobil pribadi ku yang dikendarai oleh Aldo. Aku awalnya tidak menyangka kalau Aldo bisa mengendarai mobil.


Aku sangat bahagia dan lega sekali, akhirnya aku bisa menepati janji kepada Ibu dan Bapak untuk pulang kampung menemui mereka. Dan aku berniat akan membuka toko juga di kampung.


Aldo terlihat sangat fokus mengendarai mobil. Dalam beberapa menit kami hanya saling diam, tidak ada satupun dari kami yang berniat untuk memulai percakapan.


Mungkin saja Aldo merasa canggung untuk memulai percakapan terlebih dahulu kepada ku. "Ekhem." Aku mendehem untuk mengusir rasa canggung.


"Eeemmm. Aldo, sebelum kamu bekerja padaku kamu dulu bekerja dimana?" Tanya ku yang mencoba untuk memulai percakapan.


"Dulu saya bekerja di bengkel, nyonya. Tapi bengkel itu tutup, sehingga saya harus mencari pekerjaan lain. Dan akhirnya saya diterima bekerja di toko nyonya." Jawabnya.


"Memangnya kenapa bekelnya bisa tutup?"


"Saya tidak tau, nyonya. Padahal bekel itu selalu ramai, tapi entah kenapa malah tutup. Mungkin saja pemilik bengkel itu ingin mencari tempat yang lebih strategis." Jelasnya.


"Oh begitu." Jawab ku singkat, karena memang aku tidak tau lagi harus menjawab apa.


Suasana kembali hening. Aku benar-benar bosan sekarang, mau ngobrol pun tapi tidak ada topik yang seru untuk dibicarakan.


Aku sudah mencoba mengusir rasa bosan ku dengan segala cara. Mulai dari bermain game, mendengarkan musik, sampai mengobrak-abrik barang-barang yang ada didalam tas ku. Tapi tetap saja aku masih merasa bosan.


Sampai kantukku pun datang, dan tak terasa aku mulai tertidur.


***


"Nyonya, maaf nyonya bangun. Nyonya, sudah sampai." 


Aku merasakan ada yang menepuk pundak ku. Kemudian aku menggeliat dan perlahan membuka mata.


"Ada apa Aldo?" Tanya ku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Maaf, nyonya. Kita sudah sampai." Katanya.

__ADS_1


Aku langsung menatap keluar kaca mobil, dan benar saja sekarang mobil ku berhenti didepan rumah Ibu dan Bapak.


"Yasudah, ayo kita turun. Kamu jangan lupa bawa barang-barang yang ada di bagasi."


"Siap, nyonya."


Perlahan aku turun dari mobil dan berjalan mendekat ke rumah Ibu dan Bapak. Ternyata semuanya masih sama seperti terkahir saat aku meninggalkan rumah ini, lalu pergi ke kota untuk mengadu nasib.


Mulai dari halaman rumah yang masih seperti dulu dipenuhi dengan bunga-bunga dan tanaman hias, sampai cat rumah yang masih menggunakan warna yang sama, warna kesukaan ku hijau. 


Tok tok tok….


Aku mengetuk pintu, lalu tak lama terdengar sahutan dari dalam. "Sebentar." Pintu pun terbuka. Dan aku melihat sosok yang sangat aku rindukan, seorang pahlawan cantik berhati malaikat yang telah banyak berjuang untuk ku. Ibu….


"Masya Allah, Lia." Seru Ibu langsung memeluk ku.


Tangisnya pecah, Ibu memeluk ku dengan erat. Menciumi kening ku, menyalurkan rasa rindu yang selama ini bersemayam di hatinya.


"Apa kabar, nak? Anak ku Lia, Masya Allah."


"Ibu kangen sekali sama kamu, nak. Kenapa baru datang sekarang, dari dulu Ibu nyuruh kamu pulang." 


Aku tersenyum melihat cinta yang begitu dalam dan besar dari Ibu untuk ku. Seorang wanita yang telah banyak berjuang, yang selalu memanjatkan doa siang dan malam bahkan setiap saat untuk kebahagiaan, keselamatan dan masa depan anaknya.


Seorang Ibu yang kasih sayangnya begitu tulus, bahkan kasih sayangnya melebihi dalam dan luasnya lautan, yang kasih sayangnya tak akan terganti oleh apapun di dunia ini. 


"Lia juga sangat kangen sama Ibu." Aku benar-benar sudah tidak bisa membendung air mata.


Ibu mengelus-elus kepala ku. Ah, aku rindu elusan dari Ibu ini. Saat melihat wajah Ibu hati ku menjadi sangat tenang. Rasanya semua beban ku meluap begitu saja.


Lalu Ibu mempersilahkan aku dan Aldo masuk kedalam rumah. Dengan penuh semangat Ibu menghidangkan berbagai macam cemilan dan minuman sampai memenuhi meja ruang tamu. Dan kalau tidak ku cegah Ibu malah akan pergi belanja membeli cemilan lagi.


"Bu, Bapak kemana?" Tanya ku yang dari tadi tidak melihat Bapak.

__ADS_1


"Bapak sedang melakukan kerja bakti, paling pulangnya sore. Tapi coba Ibu suruh pulang sekarang saja." Sudah mau beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak usah, bu. Bapak kan sedang sibuk, nanti sore juga akan ketemu."


Ibu tersenyum pada ku. Lalu tiba-tiba pandangannya teralihkan pada Aldo. "Nak, siapa laki-laki itu?" Bisik Ibu padaku.


"Dia Aldo, pegawai toko Lia."


"Oh. Pegawai, Ibu kira itu calon menantu Ibu."


"Ah, Ibu ini." Kata ku dengan raut wajah kesal.


Tapi sebenarnya dalam hati aku mengamini ucapan Ibu. Ucapan bisa jadi doa kan? Siapa tau jadi kenyataan kalau dia akan menjadi calon menantu Ibu, alias calon suami ku. Hehehe….


Tiba-tiba aku jadi teringat saat aku ketiduran di mobil. Kira-kira apa Aldo melihat wajah ku saat tidur tidak ya? Pasti lihatlah, orang diakan yang membangunkan aku. Aaaahhh, memalukan sekali. Apalagi wajah ku benar-benar tidak bisa dikondisikan saat sedang tidur. 


Pernah aku melihat kondisi wajahku saat sedang tidur, waktu itu Bapak dengan iseng yang memfoto ku saat aku ketiduran di kursi ruang tamu. Dan wajahku benar-benar tidak bisa dikondisikan saat tidur, mulutnya mangap dan ileran.


Apakah kondisi wajahku juga seperti itu saat ketiduran di mobil di samping Aldo. Huaaaa…. Memalukan sekali.


"Yasudah, pasti kalian lelah kan karena habis menempuh perjalanan jauh. Kalian beristirahatlah dulu. Lia segera ke kamar mu untuk istirahat, dan nak Aldo ayo Ibu antar ke kamar tamu."


Aku langsung beranjak masuk ke kamar ku. Saat membuka pintu aku terkejut melihat kamar ku, benar-benar tidak ada yang berubah saat terakhir kali aku meninggalkan kamar ini. Mulai dari posisi rak buku, boneka sampai posisi pulpen yang tergeletak diatas meja belajar.


Ah, aku jadi merasa kembali ke masa lalu. Masa dimana Ibu dan Bapak yang sangat sayang dan selalu memanjakan ku. Dan aku yakin rasa sayang Ibu dan Bapak tidak akan pernah berkurang dari dulu sampai sekarang.


Kulihat selebar kertas yang tergeletak di atas meja, sebuah quotes penyemangat yang kubuat sendiri. Quotes yang ku buat saat aku sedang berjuang untuk mencapai tujuan ku, yaitu membanggakan kedua orang tuaku dan menjadi pengusaha yang sukses.


Quotes itu berbunyi "Berjuanglah dan berusaha dengan kuat, tidak lupa berdoa dan bersholawat, maka kamu akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan yang berlipat."


Aku tersenyum membaca kembali quotes yang ku buat waktu dulu, quotes yang menambah power semangat ku dalam menggapai mimpi. Quotes pembangun semangat disaat aku terjatuh, dan menghilangkan rasa putus asa dalam menggapai apa yang aku impikan.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, vote, dan Favorit 💞


__ADS_2