Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Presdir Zukril


__ADS_3

Semenjak melakukan kerjasama dengan perusahaan X usahaku semakin maju, bahkan aku dapat membangun beberapa anak cabang tokoku dibeberapa kota besar.


Aku juga melakukan penambahan pegawai, dan produk baru yang aku luncurkan ini benar-benar laku dipasaran.


"Andin." Panggil ku.


"Iya, nyonya?" Sahutnya.


"Siang nanti jangan lupa untuk mengirimkan data-data pegawai baru kepadaku, aku bukannya tidak percaya kepadamu, tapi aku hanya ingin melihat siapa-siapa saja yang akan menjadi pegawai baru disini."


"Siap, nyonya."


Aku langsung masuk kedalam ruangan ku. Hari ini aku benar-benar sibuk, jadi tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain.


Tiba-tiba hp ku berbunyi, aku langsung melihat layar hpku itu untuk melihat siapa yang menelpon ku. Tapi aku sama sekali tidak mengenal nomor yang menelpon ku itu. Akupun tidak mengangkatnya.


Tapi hp ku berdering lagi mendapat panggilan dari nomor yang sama, tapi aku abaikan saja. Sampai begitu seterusnya sampai nomor itu sudah hampir sepuluh kali mencoba untuk menelpon ku.


Aku tidak memperdulikan nomor tidak dikenal itu, aku sekarang sedang fokus dengan pekerjaan ku. Dan hp ku berdering lagi, saat kulihat ternyata itu panggilan kali ini Andin yang menelpon.


Tumben sekali Andin menelpon saat jam kerja seperti ini, biasanya kalau ada perlu apa-apa dia langsung saja masuk keruangan ku.


"Halo, Andin ada apa?"


"Nyonya, ada yang ingin menemui anda." Kata Andin.


"Siapa yang ingin menemui ku?" Tanya ku.


"Dia bilang, dia adalah Presdir dari perusahaan X."


Aku langsung tersentak kaget. Presdir dari perusahaan X? Kenapa tiba-tiba dia datang kemari, bukankah kalau ada perlu dia cukup saja menelpon aku.


Tanpa pikir panjang aku langsung keluar untuk menemuinya. Benar saja aku melihat dia sedang jalan-jalan didalam tokoku sambil melihat beberapa produk-produk elektronik ku.


Akupun menghampirinya. "Selamat siang Presdir." Sapaku kepadanya.


"Oh, siang nona Talia." Balasnya. "Apa kabar, nona?"


"Kabar ku baik, Presdir. Ada perlu apa?" Tanya ku.


Dia tersenyum, dan menurut ku senyumnya itu cukup aneh. "Saya ingin mengajak nona pergi minum kopi bersama saya."


"Presdir ingin mengajak saya pergi minum kopi, lalu kenapa tidak menelpon saya dulu?"


"Saya sudah mencoba untuk menelpon anda, namun tidak diangkat. Bahkan saya sudah hampir sepuluh kali berusaha untuk menelpon anda." Jelasnya.


"Tapi saya sama sekali tidak mendapatkan panggilan telepon dari Presdir."


"Ah, saya lupa. Saya menelpon anda dengan nomor yang berbeda."

__ADS_1


Aku langsung ingat kepada nomor telepon yang tidak dikenal itu, dan ternyata itu adalah nomor pribadi Presdir.


"Bagaimana, apakah anda mau jalan bersama saya?"


Matanya terlihat penuh harap kepadaku. Aku sebenarnya sedang malas untuk keluar, tapi mau bagaimana lagi Presdir sudah banyak membantu kemajuan untuk tokoku. Jadi aku tidak enak untuk menolak.


"Baiklah, tapi saya akan mengambil mobil saya dulu di bagasi."


"Tidak perlu, nona. Naik mobil saya saja, kitakan hanya akan pergi berdua." Katanya.


Mau tidak mau aku harus menurutinya, akhirnya aku mengangguk pasrah. Aku langsung naik kedalam mobilnya saat dipersilahkan masuk.


Mobil Presdir sangat mewah, berbeda jauh dengan mobilku. Dan tempat duduknya juga cukup luas. Mungkin suatu saat aku akan membeli mobil seperti ini, agar aku bisa nyaman saat jalan-jalan nanti bersama Aldo. Hehehe….


"Anda menyukai mobil ini?" Tanyanya.


Apakah dari tadi dia memperhatikan aku? Astaga, malu sekali aku saat ketahuan melihat-lihat mobilnya ini.


"Ah, tidak Presdir." Elak ku.


Eh, kenapa dia malah tertawa. Aku kan jadi malu. Tapi ketampanannya malah semakin bertambah saat dia tertawa seperti itu.


Aduh apa-apaan aku ini, ingat Talia kamu ini sudah punya kekasih. Jadi kamu jangan coba-coba untuk memperhatikan bahkan terpesona dengan laki-laki lain.


Tapi siapa yang tidak tergoda dengan laki-laki setampan Presdir? Huaaa….


"Bisa tidak kamu jangan memanggilku dengan sebutan Presdir? Inikan diluar kantor ku, kamu cukup memanggilku dengan nama asliku. Zukril."


"Tapi saya tidak terbiasa."


"Kalau begitu kamu harus membiasakannya mulai hari ini." Titahnya.


"Baik." Menurut saja.


"Bagus, dan ya aku akan mengajakmu ke rumahku."


Mendengarnya aku langsung terkejut. Dia mau membawa ku kerumahnya? Mau ngapain.


"Kerumah anda?"


"Iya, kerumah ku. Tapi kamu jangan salah paham dulu, aku mengajakmu untuk menemui nenekku."


"Untuk apa?"


"Untuk memperkenalkan kamu sebagai tunangan ku."


"Apa?" Aku tersentak kaget mendengarnya.


***

__ADS_1


Sore ini aku berdandan rapi dirumah Presdir Zukril yang rencananya akan menemui neneknya. Akhirnya aku setuju saat Presdir Zukril menjelaskan semuanya kepadaku.


"Apa?" Aku tersentak kaget mendengarnya.


"Aku mohon padamu nona Talia, ini semua demi kebaikan nenekku." Dia memohon kepadaku.


"Memangnya kenapa anda harus melakukan ini?" Tanyaku bingung.


"Nenekku mengidap penyakit kanker otak, dan dia diponis hidupnya tidak akan lama lagi. Nenek memiliki keinginan ingin melihat ku hidup bahagia bersama seorang wanita yang akan menjadi istriku, maka dari itu aku meminta nona Talia berpura-pura menjadi tunangan ku." Jelasnya yang membuat aku tersentuh.


Maka dari itu sekarang aku menerima permintaannya itu, aku sangat tidak tega untuk menolaknya. Apalagi saat aku tau kalau Presdir Zukril sudah tidak memiliki siapapun selain neneknya itu.


Aku bisa merasakan kesedihannya itu, pasti sangat menyakitkan saat mengetahui orang yang sangat kita sanyangi dan yang kita miliki satu-satunya tidak akan lama lagi pergi meninggalkan kita selamanya.


Sekarang aku sedang dikamar Presdir Zukril, aku sibuk merias wajahku. Dia mengatakan kalau semua make up ini adalah milik neneknya dulu. Pantas saja sangat lengkap sekali make upnya.


"Nona Talia, anda sangat cantik sekali dengan make up natural itu." Ujar Presdir Zukril.


"Ah, anda bisa saja. Bukan aku cantik, tapi make upnya yang bagus."


"Make upnya memang bagus, apalagi saat dipakai oleh wanita secantik nona."


"Anda terlalu berlebihan."


"Bagaimana kalau kita bicara layaknya seorang teman, jangan terlalu formal seperti ini." Pintanya.


"Baiklah, Zukril." Katanya ku dengan nada humor.


"Nah begitu, Talia."


Kami berdua langsung tertawa lepas. Tidak ku sangka kalau Presdir Zukril akan sangat ramah seperti ini, ya walau sikapnya agak sedikit aneh. Apalagi saat dia tersenyum, terlihat sangat aneh.


Senyumnya itu begitu manis tapi aneh. Entahlah kenapa aku bisa berfikir seperti itu, mungkin karena aku baru bertemu dengannya jadi belum terlalu mengenalnya.


Tapi entah kenapa aku begitu nyaman bila ada didekatnya, seperti saat aku dekat dengan Aldo.


Aku juga merasa kalau aku pernah bertemu dengannya, sebelum aku dan dia bertemu di perusahaannya. Tapi kapan? Hmmm, mungkin hanya perasaan ku saja.


"Kenapa melamun?"


Dia menepuk bahuku yang membuat aku tersadar dari lamunanku.


"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan bagaimana aku harus bersikap saat didepan nenekmu."


"Tidak perlu bingung dan terlalu dipikirkan. Kamu cukup bersikap sopan dan ramah didepan beliau, nenekku itu suka kepada wanita yang memiliki sikap sopan dan ramah."


"Semua orang juga menyukai itu." Kata ku.


Dia langsung tersenyum lagi, dan senyum anehnya itu membuat aku merinding.

__ADS_1


__ADS_2