Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Nenek


__ADS_3

"Apakah kamu sudah siap?" Tanya Presdir Zukril.


Aku mengangguk. Lalu dia berjalan dan membukakan pintu mobil untukku, aku jadi sangat malu dibuatnya.


Saat didalam mobil aku sangat gugup, dan aku tidak tau cara untuk menghilangkan kegugupan ini.


"Tidak perlu gugup seperti itu saat di dekatku, Talia." Ujarnya.


Aku dan Presdir Zukril bersepakat untuk memanggil satu sama lain dengan nama asli saat di luar urusan pekerjaan.


"A-apakah sangat terlihat?" Pertanyaan bodoh itu tiba-tiba terucapkan begitu saja.


Dia malah tertawa saat mendengar pertanyaan dariku. "Tentu saja sangat terlihat, apalagi wajahmu itu merah sekali seperti kepiting rebus."


Aku benar-benar menyesal menanyakan hal itu kepadanya. Jadi kesannya aku itu begitu sangat menyukainya, dan gugup saat didekatnya. Huh, mengesalkan. Kenapa coba aku tidak bisa bersikap sok keren di depannya.


"Talia, apakah kamu sudah mempunyai kekasih?" Tanyanya.


"Iya, aku sudah punya."


Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat kepalaku terbentur ke depan.


"Ada apa Zukril, kenapa kamu tiba-tiba menghentikan mobilnya secara mendadak seperti itu?" Tanyaku sedikit kesal.


Kepalaku sakit sekali terbentur ke depan, untung saja kepalaku ini tidak terluka.


"Ma-maafkan aku, Talia. Aku tidak sengaja. Apakah kamu terluka?"


"Aku tidak apa-apa."


"Sekali lagi aku minta maaf."


Dia kembali melajukan mobilnya, dan entah kenapa raut wajahnya berubah seperti itu. Tidak seperti saat akan berangkat tadi.


Untuk beberapa menit kami saling diam, tidak ada yang bersuara diantara kami. Entahlah aku tidak tau ada apa dengannya, kenapa dia tiba-tiba menjadi berubah seperti itu.


"Apa rumah nenekmu masih jauh?" Tanyaku.


"Ekhem." Dia mendehem." Sebentar lagi juga akan sampai."


Eh, kenapa wajahnya cemberut seperti itu? Seperti orang yang sedang pms saja, suasana hatinya berubah-ubah.


"Zukril." Panggilku.


"Hem." Dia hanya menjawab seperti itu saja.


"Jangan menunjukkan wajah seperti itu, aku takut melihatnya." Kataku dengan jujur.


"Memangnya kenapa? Ini wajahku, ya terserah aku." Jawaban dengan jutek.


Ini orang kenapa sih?! Membuat aku jadi merasa bersalah saja, apakah aku sudah berbuat salah kepadanya, tapi apa yang telah aku lakukan sampai dia terlihat semarah itu?

__ADS_1


Laki-laki itu memang aneh, marah tanpa ada sebab yang jelas. Ya kalaupun aku melakukan kesalahan, diakan bisa memberi tau kesalahan ku.


Aku tidak mau kalah darinya, jadi aku juga memasang wajah yang sama sepertinya.


"Hey, kenapa kamu ikut-ikutan memasang wajah seperti itu?" Tanyanya.


"Memangnya kenapa? Ini wajahku, ya terserah aku."


Dia menghela nafas. "Sudahlah jangan seperti ini lagi. Aku minta maaf kalau membuatmu tersinggung."


"Aku juga minta maaf kalau telah berbuat salah kepadamu."


Mendengar perkataan ku, dia langsung mengelus kepalaku. Entah mengapa rasanya sangat nyaman dielus seperti ini, aku jadi rindu kepada Aldo.


Kira-kira sedang apa Aldo sekarang, aku sangat ingin menelponnya. Tapi aku takut kalau dia akan marah lagi kepadaku.


"Zukril." Panggilku.


"Iya?"


"Aku ingin bertanya kepadamu."


"Langsung tanyakan saja?" Dia tampak fokus menyetir.


Aku terdiam beberapa saat. "Apakah kamu akan merasa risih saat ditelpon oleh kekasihmu saat kamu ada tugas diluar kota?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Dia terlihat tersenyum. "Tentu saja aku tidak akan merasa risih, justru aku akan sangat merasa senang kalau kekasihku menelpon ku lebih dulu."


"Kenapa senang?"


"Karena aku jadi tau dia sangat rindu kepadaku dan tidak tahan ingin mendengar suaraku. Dan aku jadi tau kalau dia benar-benar mencintaiku." Jelasnya.


Andai saja Aldo memiliki pemikiran yang sama seperti Presdir Zukril, mungkin aku akan sangat bahagia. Aldo aku sangat merindukanmu.


***


Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat mewah dan besar. Baru aku jumpai rumah sebesar dan semewah ini.


"Kita sudah sampai." Ujar Presdir Zukril.


"Ini rumah nenekmu?" Tanyaku.


"Iya, ini rumah nenekku."


"Besar dan mewah sekali rumahnya." Kataku terkagum-kagum.


Presdir Zukril tertawa melihat kelakuanku. "Sudah, ayo kita masuk. Nenek sudah menunggu di dalam."


Seperti saat akan berangkat, Presdir Zukril membukakan pintu mobil untukku. Lalu dia meminta aku untuk melingkarkan tanganku ke tangannya, dengan senang hati aku melakukannya.

__ADS_1


"Selamat sore Tuan muda." Sapa satpam yang sedang berdiri didepan pintu masuk.


"Sore. Apakah nenek ada di dalam?" Tanya Presdir Zukril.


"Ada, Tuan muda. Nenek sudah menunggu di dalam." Jawab satpam itu, lalu dia membukakan pintu untuk aku dan Presdir Zukril masuk.


Saat masuk ke dalam, aku tambah dikejutkan lagi dengan isi rumah ini. Sangat mewah dan dipenuhi dengan hiasan yang mewah dan pastinya mahal.


"Mari kita ke ruang tamu, nenek sepertinya ada disana." Kata Presdir Zukril. Dan aku hanya ikut saja.


Dan benar saja, aku melihat ada seseorang yang sedang duduk disebuah kursi goyang sambil membaca buku.


"Nenek." Panggil Presdir Zukril.


Mendengar panggilan dari Presdir Zukril, neneknya pun langsung mendongakkan kepalanya. Dan aku langsung terkejut saat melihat wajah nenek Presdir Zukril.


Apakah aku tidak salah lihat, bukankah dia adalah nenek pemulung yang pernah aku beri roti dan uang waktu itu?


Dan ternyata ekspresi si nenek juga sama seperti ekspresi ku. Nenek tampak terkejut sekaligus senang melihat ku.


"Cucu baik, itu kamu?" Tanya nenek dengan raut wajah bahagia.


Presdir Zukril langsung melihat kearah ku dengan tatapan bingung. "Nenek mengenalnya?" Tanyanya.


"Dia cucu baik hati yang memberi nenek makanan, lalu cucu itu juga yang memberi nenek uang." Kata nenek itu.


"Ternyata kamu orangnya, orang baik hati yang selalu diceritakan oleh nenekku." Ucap Presdir Zukril.


"Nenek mau peluk cucu baik hati itu." Pinta nenek.


Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri nenek untuk memelukku. Pelukan nenek begitu lembut dan hangat, membuat aku rindu kepada pelukan Ibu.


"Cucu baik apa kabar?" Tanya nenek.


"Baik, nenek apa kabar?"


"Baik juga. Kenapa cucu baik tidak bilang kalau mau kesini, nanti biar nenek buatkan kopi racikan khas keluarga ini. Yang resepnya diturunkan secara turun-temurun." Kata nenek dengan bersemangat.


Presdir Zukril berlutut di depan nenek. "Nenek sudah makan?" Tanya Presdir Zukril dengan nada suara yang sedang bicara kepada anak kecil saja.


"Nenek mau buatkan kopi untuk cucu baik."


"Nenek, Zu sedang bertanya kepada nenek. Apakah nenek sudah makan?"


"Nenek tidak mau makan, nenek mau buatkan kopi untuk cucu baik." Nenek tetap kukuh.


Presdir Zukril menghela nafas. "Kalau nenek tidak mau makan, Zu akan membawa pergi cucu baik agar tidak bisa menemui nenek lagi." Ancam Zu walau dengan nada suara yang masih lembut.


"Kenapa Zu jahat kepada nenek?"


"Zu tidak jahat kepada nenek. Zu hanya ingin nenek makan dulu, baru setelah itu membuatkan kopi untuk cucu baik."

__ADS_1


Aku sebenarnya ingin tertawa melihat tingkah gemas mereka saat mengobrol. Presdir Zukril tampak seperti seorang ayah yang sedang membujuk anaknya untuk makan, dan nenek seperti seorang anak yang susah makan dan harus dibujuk ini dan itu agar mau makan.


__ADS_2