
Akhirnya dengan pasrah nenek mau makan juga, dengan pelan-pelan Presdir Zukril menyuapinya bubur.
Aku tidak menyangka kalau Presdir Zukril memiliki sisi penyayang seperti ini, sungguh laki-laki yang baik dan berbakti.
Ku doakan semoga Presdir Zukril selalu bahagia dan mendapatkan pasangan hidup yang baik untuknya. Aku terharu melihatnya dengan telaten menyuapi nenek.
"Sudah, ya." Ujar nenek.
"Yaudah, sekarang nenek istirahatlah." Kata Presdir Zukril.
"Nenek mau membuatkan kopi untuk cucu baik."
"Baiklah, tapi nenek jangan terlalu lelah ya." Akhirnya Presdir Zukril mengalah.
Tiba-tiba nenek mengedarkan pandangannya, seperti mencari seseorang.
"Nenek mencari siapa?" Tanya Presdir Zukril.
"Katanya kamu mau membawa tunangan mu, tapi mana dia sekarang?" Tanya nenek.
Presdir Zukril langsung melihat kearah ku. "Itu tunangan ku, nek." Menunjukku.
"Jadi cucu baik tunangan, Zu? Kemarilah." Panggil nenek.
Aku langsung mendekati nenek dan ikut duduk berlutut seperti Presdir Zukril.
"Nenek setuju kalau cucu baik yang menjadi tunangan Zu." Nenek mengelus kepalaku. "Siapa namamu?"
"Namaku Talia, nek. Nenek bisa memanggilku Lia, sama seperti orang tuaku memanggilku." Kataku.
"Iya, nenek mau memanggil cucu baik dengan nama Lia. Karena sekarang nenek juga sudah menjadi orang tuamu."
Ada apa ini, kenapa rasanya aku sangat terharu dan mau menangis. Dan benar saja air mataku benar-benar sudah keluar dan mengalir di pipiku.
"Lia, kenapa menangis?" Tanya nenek.
"Lia senang kalau nenek anggap Lia sebagai keluarga nenek."
Nenek tersenyum, begitupun aku melihat Presdir Zukril juga ikut tersenyum.
"Sekarang Lia adalah bagian dari keluarga ini. Nenek berpesan setia dan cintailah Zu, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dia cucu nenek yang sangat nenek sayangi, Zu butuh perhatian darimu."
__ADS_1
"Iya, Lia berjanji."
Tiba-tiba Presdir Zukril menatap kearah ku, yang entah aku tidak tau apa arti dari tatapannya itu. Tapi aku menangkap ada ekspresi terkejut di wajahnya.
Nenek tersenyum. "Nenek mau membuatkan kopi untuk Lia dan Zu." Nenek beranjak dari tempat duduknya.
Dengan sigap Presdir Zukril membantu nenek untuk bangun. "Bi Susi." Seru Presdir Zukril.
"Iya, Tuan muda." Sahut seorang wanita yang kira-kira seusia Ibuku, dia berlari kecil menghampiri kami.
"Bi, tolong temani nenek di dapur, katanya nenek ingin membuat kopi."
"Baik, Tuan muda. Mari nyonya besar." Berlalu bersama nenek.
Presdir Zukril melihat kearah ku, dan langsung menarik tanganku menuju ke suatu tempat di rumah ini. Aku hanya ikut saja tanpa banyak bertanya.
Dan ternyata Presdir Zukril mengajakku ke sebuah taman yang ada di belakang rumah besar ini. Taman yang sangat indah, penuh dengan bunga berwarna-warni. Semerbak harumnya sampai tercium begitu kuat. Dan ada beberapa air mancur dan tempat duduk juga ditaman ini.
"Tamannya indah sekali, semua bunganya juga sangat harum." Kataku yang benar-benar terpesona.
"Kamu suka? Kita akan minum kopi buatan nenek disini."
Aku sangat senang mendengar perkataan Presdir Zukril kalau kita akan minum kopi di taman yang indah ini.
"Terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih karena kamu telah bersedia berpura-pura menjadi tunangan ku, dan juga aku sangat berterimakasih karena kamu telah memberi nenek roti dan uang saat itu."
"Sama-sama, tapi bolehkah aku bertanya?"
"Ya, silahkan. Kamu ingin bertanya apa?"
"Kenapa nenek bisa ada di pinggir jalan dan menjadi pemulung waktu itu? Bahkan nenek terlihat sangat kelaparan."
Presdir Zukril terlihat menghela nafas panjang, dia terlihat sangat sedih. "Aku lupa memberitahumu kalau nenek bukan hanya mengidap penyakit kanker otak, tapi nenek juga sudah mengalami kepikunan. Maka dari itu nenek jadi sering hilang saat jalan-jalan keluar, itu membuatku sangat sedih."
Aku mengusap bahu Presdir Zukril, entah mengapa aku seperti bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan sekarang.
Tak lama nenek datang dengan dua cangkir kopi yang dia bawa diatas nampan. "Ini kopinya sudah siap, kalian jangan lupa diminum ya kopinya." Kata nenek. "Sebenarnya nenek masih mau mengobrol dengan Lia disini, tapi nenek ngantuk."
"Itu efek obat yang nenek minum, yasudah nenek istirahatlah." kata Presdir Zukril Nenek pun berlalu dengan diantar oleh Bi Susi.
__ADS_1
Jadilah sekarang aku dan Presdir Zukril minum kopi hanya berdua.
***
Aku terbangun di sebuah kamar berwarna biru terang, kamarnya cukup luas dengan hiasan dinding bunga-bunga yang sangat cantik. Aku baru ingat, setelah minum kopi aku langsung ke kamar nenek untuk menemaninya tidur. Tapi sekarang nenek kemana, kenapa aku malah tidur sendiri?
Dan tak lama pintu kamar terbuka, terlihat nenek masuk dengan membawa sebuah buku besar. Kemudian nenek duduk di sampingku.
"Nenek membawa buku apa?" Tanya ku.
"Ini album foto."
Ternyata aku salah, itu bukan buku tapi album foto.
"Ini adalah album foto yang berisi foto-foto Zu saat masih kecil dulu." Nenek membuka album itu.
Terlihat seorang anak laki-laki sedang memegang mobil-mobilan sambil tersenyum lebar, terlihat gigi depan anak laki-laki ompong. Sangat lucu sekali.
"Ini Zu saat berusia 6 tahun, dulu dia sangat menyukai mainan mobil-mobilan ini. Sampai kalau hilang harus tetap dicari sampai ketemu. Kalau tidak ketemu, Zu akan menangis dan mengamuk."
Nenek tampak menghela nafas. "Tapi sungguh malang nasib cucu ku itu, dia harus kehilangan Ayah dan Ibunya saat dia baru menginjak usia 4 tahun. Saat Zu sedang senang-senangnya bermanja dan aktif." Nenek mulai meneteskan air matanya.
Aku sangat tersentuh dengan cerita nenek, bahkan rasanya aku ingin sekali ikut menangis. Beruntungnya aku karena masih memiliki keluarga yang lengkap, berbeda dengan Presdir Zukril yang harus kehilangan Ayah dan Ibunya di usia yang masih sangat belia.
"Kecelakaan mobil yang merenggut kedua orang tua Zu, saat itu Zu juga ada di dalam mobil. Tapi karena kebaikan Tuhan, Zu selamat dalam kecelakaan itu. Walau Zu harus kehilangan satu mata sebelah kanannya."
Aku terkejut mendengar perkataan dari nenek, Presdir Zukril kehilangan satu matanya?
"Kehilangan matanya? Ta-tapi aku melihat…."
"Kamu melihat matanya lengkap?" Kata nenek memotong ucapan ku.
Aku mengangguk, lalu nenek terlihat tersenyum lembut kepadaku. "Zu menggunakan mata palsu. Nenek melakukan itu karena takut nantinya Zu akan minder."
Nenek memegang tanganku. "Setelah kamu mengetahui kekurangan Zu, nenek mohon jangan pernah kamu tinggalkan Zu. Terima apa yang menjadi kekurangannya, nenek yakin Zu juga akan menerima kekuranganmu nak."
Nek, andai dirimu tau kalau aku dan Presdir Zukril hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih dari itu, aku juga tau diri akan posisi ku. Aku tidak mungkin bisa bersanding dengan Presdir Zukril yang sangat baik itu.
"I-iya, nek. Aku berjanji."
Maaf karena aku telah berbohong, nek. Aku benar-benar sangat minta maaf.
__ADS_1
Nenek memelukku dengan erat, lalu mencium keningku. "Yasudah, sekarang kamu bersiap-siap ya. Pelayan sudah menyiapkan untuk acara dinner kamu dan Zu."
"Apa?! Dinner?"