Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
S2. Aku Relakan Untukmu


__ADS_3

Pagi hari mulai menyapa. Dengan malas-malasan aku mencoba untuk membuka mata, lalu berguling-guling di kasurku yang luas. Tapi tiba-tiba aku terdiam, merasakan ada sesuatu yang janggal. Namun, apa yang janggal itu. Aku seperti melupakan sesuatu.


Setelah berfikir keras, akhirnya aku menemukan jawabannya. Kanaya.... Ya, dia seharusnya tidur di sampingku. Tapi sekarang kemana dia pergi sepagi ini, kenapa sudah tidak ada di dalam kamarku.


Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mencari Kanaya, mungkin saja dia ada di kamar mandi. Tapi setelah aku periksa hasilnya nihil, dia sama sekali tidak ada di sana. Ku coba periksa di dapur, ruang tengah, dan halaman belakang rumah juga tetap tidak ada.


Lalu aku melangkah menuju ke halaman depan rumah. Ya, pintuku tidak terkunci. Itu artinya baru saja ada yang keluar. Ku buka pintu lalu aku keluar dari rumah, mencari Kanaya yang entah pergi kemana pagi-pagi begini. Apa mungkin ia berniat untuk lari pagi? Hum.... Mungkin saja.


Tapi tetap saja aku khawatir padanya, apalagi sekarang ia tengah mengandung. Aku takut nantinya Kanaya terlalu lelah dan itu akan berpengaruh terhadap keadaan bayinya.


"Kanaya, di mana kamu sih?" Aku terus melangkah menyusuri jalanan kampung dengan pandangan yang kesana-kemari mencari keberadaan Sahabatku Kanaya.


Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seorang perempuan, teriakan yang begitu mengiris hati. Terdapat nada marah, sedih, dan kecewa dalam teriakan tersebut. Dan aku kenal suara itu.... Ya, itu adalah suara Kanaya.


Cepat-cepat aku berlari mencari sumber suara tersebut. Khawatir akan keadaan Kanaya, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Kanaya, kamu di mana? Tolong jangan buat aku khawatir, Kanaya!" Teriakku memanggil-manggil Kanaya.


Lalu tak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat seorang Perempuan tampak sedang berdiri di tepi jurang sambil menangis. Terlihat tangannya tak henti-hentinya memukul-mukul perutnya.


Saat aku menajamkan penglihatan, ternyata perempuan yang sedang berdiri di tepi jurang itu adalah Kanaya. Selangkah demi selangkah ia mulai mendekati jurang yang curam dan dalam itu. Apa yang akan ia lakukan? Apakah ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya?


Tidak.... Kanaya tidak boleh melakukan itu, jangan sampaikan melalukan hal senekat itu. "Tidak, jangan lakukan itu Kanaya!" Teriakku sambil berlari kearahnya.


Kanaya terkejut mendengar teriakanku, lalu dia pun cepat-cepat berlari dan mencoba untuk loncat ke jurang. Tapi untungnya aku dapat lebih dulu menarik tangannya, sehingga ia tidak sampai masuk ke dalam jurang itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Lepaskan!" Teriaknya sambil meronta-ronta ingin melepaskan cekalan tanganku pada tangannya. "Aku ingin mati.... Sungguh aku sudah tidak kuat lagi dengan semua kehidupan ini, sangat menyakitkan. Huhuhu...."


"Kanaya, kamu tahu hidupmu di dunia ini menderita, dan apa kamu mau hidupmu juga di akhirat menderita? Bunuh diri adalah perbuatan yang hina, jangan kamu lakukan itu!" Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?! katakan padaku, APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!!!" Teriak Kanaya.


"Andaikan kamu berada diposisi ku, aku yakin kamu juga tidak akan sanggup untuk menjalani kehidupan ini Talia! Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan.... Sekarang katakanlah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan hidupku dan anak dalam kandunganku? Ayo katakan Talia.... Bagaimana? BAGAIMANA DENGAN HIDUPKU INI?!!!"


"K-Kanaya...."


"Bagaimana nanti dengan kehidupan aku selanjutnya? Bagaimana nanti dengan masa depan anakku ini? Bagaimana hidup kami nanti tanpa adanya seorang laki-laki yang disebut sebagai suami dan Ayah...." Kanaya menatap lurus ke arah sawah yang berada di sebrang sungai. "Cemoohan, pengasingan, dan tatapan jijik dari semua orang. Huhuhu...."


"Tidak, Kanaya. itu semua tidak akan terjadi." Tukas ku.


"Kamu yakin itu tidak akan terjadi, lalu bagaimana caranya? Aku mengandung tanpa adanya seorang laki-laki yang mau bertanggung jawab, lantas bagaimana caranya agar semua itu tidak akan terjadi?!"


Zukril....


****


Setelah berpamitan kepada Bapak dan Ibu, aku dan Kanaya berangkat ke kota pagi ini juga. Mendadak memang, tapi untungnya Aku bisa meyakinkan Ibu dan Bapak agar mengizinkan kami untuk pergi. Semua ini aku lakukan demi Kanaya.


Ku tatap Kanaya yang tengah terpejam di sampingku yang sedang mengemudi. Wajahnya tampak letih dan terdapat raut kesedihan di sana. Oh, Kanaya. Sahabat terbaikku, mengapa nasibmu begitu malang.


Tapi aku janji semua ini akan segera berakhir, semua penderitaanmu akan segera sirna. Kamu hanya butuh Laki-laki yang nantinya akan menjadi suami dan Ayah untuk anakmu kan? Baiklah, akan aku berikan. Aku akan mengalah demi kebahagiaanmu juga masa depan anakmu itu.

__ADS_1


Aku yakin ini akan sangat menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi. Ada masa depan seorang anak yang akan dipertaruhkan. Walau bagaimanapun anak yang ada di dalam kandungan Kanaya tidak bersalah, ia berhak bahagia. Mendapatkan pengakuan dari semua orang, bukan hinaan dan cibiran.


Setelah mengemudi selama berjam-jam, akhirnya aku sampai juga di depan apartemen Presdir Zukril. Apartemennya terlihat begitu sepi, mungkin Presdir Zukril sekarang sedang di kantor.


Ku tatap Kanaya untuk yang sekian kalinya. Dia masih saja tertidur, belum bangun. Pasti dia sangat kelelahan. Lelah dengan semua cobaan hidup yang seakan mempermainkan dirinya, yang seakan sengaja ingin menguji seberapa kuat pundaknya.


Aku mengeluarkan hp, mencoba untuk menghubungi Presdir Zukril. Dalam satu panggilan Presdir Zukril langsung mengangkatnya.


"Halo, Talia sayang. Apa kabar?" Terdengar suara gembira Presdir Zukril di seberang sana.


"Halo, Zu. Aku baik...."


"Syukurlah kalau kamu baik. Aku sangat merindukanmu sayang, aku ingin cepat-cepat ke kampung untuk menemui mu."


"Tidak perlu ke kampung, aku ada di depan apartemen mu."


"Kamu sekarang berada di depan apartemenku? Baiklah, aku akan ke sana sekarang." Ucapnya.


"Kalau kamu sibuk tidak apa-apa, aku mungkin akan menunggu di hotel."


"Untuk apa ke hotel?! Aku akan ke sana sekarang, kamu tunggu saja ya, aku tidak akan lama. Aku sayang kamu...." Kemudian Presdir Zukril memutus sambungan teleponnya.


Aku melihat ke arah Kanaya, tanpa aku sadari ternyata ia sedari tadi sudah bangun dari tidurnya. Aku tersenyum kepadanya sambil mengelus-elus kepalanya, ia pun juga balas tersenyum padaku.


"Talia. Kamu sudah banyak berkorban untukku, aku begitu malu. Dengan berlapang dada kamu merelakan Zukril untukku." Dia memelukku dengan erat.

__ADS_1


"Aku relakan Zukril untukmu, demi kebahagiaanmu dan juga anakmu." Ujarku dengan wajah datar, yang sebenarnya dalam hati ini menangis dengan pilu.


__ADS_2