
Saat dirasa kondisiku sudah mulai membaik, Presdir Zukril melajukan mobilnya menuju ketempat yang sudah dijanjikan dengan nenek.
Jujur sebenarnya aku masih tidak enak hati dengan kejadian saat ditempat wahana tadi, rasanya aku telah menghancurkan kesenangan Presdir Zukril.
"Talia, aku senang sekali karena kamu mau ikut bersama denganku."
"Bagaimana aku bisa menolak ajakanmu dan nenek, justru aku merasa sangat terhormat karena kalian sudah menganggap aku sebagai keluarga."
Terlihat olehku Presdir Zukril menyunggingkan senyum, begitu manis sekali. Bagaimana bisa Kanaya menyia-nyiakan seorang laki-laki tampan dan baik hati seperti Presdir Zukril ini. Sungguh kerugian yang sangat besar untukmu Kanaya.
Kalau aku boleh menggambarkan sosok seperti apa Presdir Zukril ini, mungkin berjuta kata kesempurnaan yang terlontarpun belum juga cukup sebagai gambaran dirinya.
Laki-laki yang sempurna tentunya untuk perempuan yang sempurna juga. Tidak seperti diriku yang banyak kurangnya ini.
"Ada apa? Dari tadi kamu merhatiin aku terus, terpesona ya."
Astaga, aku benar-benar sangat malu dibuatnya, bagaimana bisa aku terus memperhatikan Presdir Zukril begini. Aduh, Talia tolong walaupun kamu bodoh juga tapi jangan sampe bodoh-bodoh amat dong.
"Eng-enggak merhatiin kok."
"Yang bener?" Godanya.
Spontan aku langsung mengalihkan pandanganku darinya, dan justru itu malah membuatnya tergelak dengan tingkahku. Taliaaaa.... Sangat memalukan.
Kalau begini jadi teringat Aldo. Ya walau dia telah mengkhianati aku, tapi jujur saja aku masih memiliki sedikit perasaan kepadanya. Bahkan aku sekarang malah merindukannya.
Stop Talia, apa-apaan kamu ini. Udah disakitin masih aja dipikirin. Ingat! Belum tentu juga dia lagi mikirin kamu.
Aduh, kalau diingat seberapa besar pengkhianatan yang telah dia lakukan kepadaku benar-benar sakit rasanya. Rasa sakit yang dahsyat rasanya.
Benar orang bilang, cinta pertama memang sangat sulit untuk dilupakan. Cinta pertama memang adalah rasa yang sangat manis, tapi kenapa rasa manis itu malah berakhir dengan kecut.
Ada tidak ya yang benar-benar mencintai aku, tanpa melihat fisik maupun hal apapun dari dalam diriku. Kecuali kebaikan hati, walau aku tidak merasa jadi orang baik sih.
Untuk masalah Aldo ini, aku berharap akan segera melupakannya. Tapi jujur saja aku masih sangat mengharapkan dirinya. Aku masih mencintainya, dan harus mendapatkannya kembali kepadaku.
Tapi bagaimana dengan Kanaya? Dia tidak bersalah, Kanaya hanya seorang korban kedua yang tidak tahu menahu tentang persoalan aku dengan Aldo.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku bisa melukai hatinya, dia tidak pernah berniat untuk menyakiti hatiku. Bisa kulihat dari matanya, dia menyayangiku seperti saudaranya sendiri.
"Talia, kenapa dari tadi kamu diam saja. Apakah kamu masih sakit?"
Aku langsung membenarkan posisi dudukku saat mendengar ucapan dari Presdir Zukril. "T-tidak kok, aku cuma agak mengantuk saja."
"Kalau kamu merasakan sakit tolong beritahu aku ya, jangan kamu sembunyikan dariku." Ujarnya.
"Iya siap. Tapi kapan ya kita sampai ketempat nenek, kok sepertinya lama sekali untuk sampai."
"Sebentar lagi kita akan sampai kok, kamu yang sabar ya tadi memang sedikit macet dijalan besar. Sekarang kita sudah dijalan kecil." Jelasnya sambil mengusap kepalaku.
Benar saja, baru aku sadari kalau kita bukan lagi berada dijalan besar yang sesak dengan kendaraan. Sekarang kita seperti berada di jalanan pedesaan yang terlihat indah dan segar sekali udaranya.
***
Sampai ditempat nenek, Presdir Zukril langsung membukakan pintu mobil untukku. Kita sungguh terlihat seperti sepasang kekasih, tapi kenyataannya bukan. Hiks....
Bayangkan saja mana mungkin laki-laki yang hampir sempurna seperti Presdir Zukril menyukaiku, sungguh mustahil bukan.
Aku melangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki jenjang Presdir Zukril. Satu langkahnya saja seperti dua langkah kakiku, jadi aku sedikit susah untuk mengimbangi langkahnya.
"Dimana nenek?"
"Nenek ada dikamar, beliau menyuruh kita untuk menunggu disini."
Aku hanya mengangguk paham. Dan benar saja, tak lama nenek datang dengan diantar oleh dua orang bodyguard.
"Wah. Cucu-cucuku sudah menunggu ya, maaf nenek tadi harus minum obat dulu jadi agak telat kesini." Kata nenek sambil memeluk aku dan Presdir Zukril secara bergantian.
"Tidak kok nek, kita juga baru saja sampai. Justru maaf sekali, kita yang telat." Ucapku.
Nenek tersenyum manis sambil menatapku. "Yasudah, kalian istirahatlah. Pasti kalian lelah karena perjalanan jauh."
"Nek, kalau begitu aku akan mengantarkan Talia dulu ke kamarnya."
"Baiklah, hati-hati ya Zu. Jaga cucu kesayanganku baik-baik, lantai masih licin karena baru saja habis di pel."
__ADS_1
"Iya, nenek. Aku akan menjaganya dengan sangat baik, nenek tenang saja." Lalu menarikku untuk mengikutinya.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan kemewahan rumah ini. Sekaya apa sebenarnya nenek dan Presdir Zukril, aku tidak pernah menduga kalau mereka memiliki rumah seindah ini. Apa jangan-jangan Presdir Zukril adalah orang terkaya nomor satu di negara? Hahaha, maaf kalau aku halu.
Tapi kalau memang benar kalau dia orang terkaya di dunia, berarti aku benar-benar ditakdirkan hanya menjadi butiran debu disisinya. Yang artinya aku sama sekali tidak pantas bersanding dengannya, memangnya siapa aku.
Sudahlah aku tidak perlu memikirkan kata-kata menyakitkan itu. Aku sudah dianggap keluarga oleh nenek dan Presdir Zukril saja itu sudah menjadi kehormatan bagiku.
Aku menyayangi nenek seperti sayangku kepada nenekku sendiri, tapi kepada Presdir Zukril?
Huh....
Sampai saat ini aku masih memikirkan tentang perasaanku kepadanya. Tapi jujur saja aku sama sekali tidak berharap lebih untuk perasaan Presdir Zukril terhadapku, aku takut kalau aku hanya mencintainya sendirian. Aku takut kalau kisah cintaku bersama dengan Aldo akan terulang kembali bersama Presdir Zukril.
***
Aku membuka mata dengan perlahan, meregangkan otot-otot tubuhku. Aku terbangun karena mendengar ketukan pintu dari luar kamar.
"Talia, ayok bangun. Kita akan segera berangkat untuk jalan-jalan."
Terdengar suara bariton Presdir Zukril dari luar, ia terus memanggil namaku sambil mengetuk pintu. Perlahan aku terbangun dan membukakan pintu.
"Talia, ayok kita langsung berangkat. Kitakan mau jalan-jalan."
"Nenek mana?"
"Nenek katanya tidak bisa ikut, dia tiba-tiba seperti tidak enak badan."
Aku terkejut mendengar ucapan Presdir Zukril. "Nenek sakit? Kalau begitu kita tidak jadi berangkat saja, kasihan nenek kalau ditinggal."
"Justru kalau kita tidak jadi berangkat nenek akan merasa bersalah, nenek akan merasa kita tidak jadi berangkat karena dia." Jelasnya.
Benar juga ya, aku tidak mau kalau nenek sampai merasa seperti itu. "Yaudah, kita berangkat sekarang. Tapi aku mau ganti pakaian dulu ya."
"Gak usah, kamu udah cantik kok." Langsung menarik tangan ku untuk mengikutinya.
Sampai di mobil, Presdir Zukril segera melajukan mobilnya. Aku hanya diam menuruti semua perkataannya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, kita sampai juga ditempat yang dituju. Tempat yang sangat indah. Udaranya begitu segar dan jauh dari bau-bau polusi. Ah.... Aku ingin merasakan udara yang seperti ini setiap hari.