Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Tumbal masalah


__ADS_3

Aku menatap Presdir Zukril dengan perasaan takut, situasi yang seperti ini benar-benar membuatku benci. Tapi harus bagaimana lagi, semua ini demi sahabatku Kanaya. Aku rela menyakiti laki-laki yang sangat aku cinta ini.


Terlihat tangan Presdir Zukril bergetar menahan amarah, wajahnya menatapku dengan tajam, seperti ingin melahap diriku hidup-hidup. Dan kalimat yang ia ucapkan, lebih membuat aku takut lagi. "Kau adalah perempuan terbodoh yang pernah aku temui, hingga aku berfikir ingin meninggalkan dunia ini dengan segera." Ia berbicara dengan santai, tapi mampu membuat diriku bergetar ketakutan.


"Tega sekali dirimu inginkan diriku menjadi pengganti laki-laki yang telah menghamili sahabatmu itu, di mana sebenarnya letak otakmu itu?! Laki-laki manapun akan sangat marah dan terluka apabila diperlakukan seperti ini oleh orang yang dicintainya."


Deg....


Sakit, hatiku sungguh sakit mendengarkan penuturannya itu. Ini untuk pertama kalinya Presdir Zukril berkata kasar kepada diriku. Bagaimana ini? Apakah aku harus meminta maaf dan membatalkan semua rencana yang telah aku buat? Tapi bagaimana dengan nasib Kanaya nantinya? aku tidak mau dia menderita, aku tidak mau bayinya lahir dengan status tanpa ayah. Tapi sejujurnya, aku juga tidak rela menyerahkan Presdir Zukril kepadanya. Aku cinta Presdir Zukril, sangat cinta.


"Zu, a-aku tahu telah menyakiti hatimu. Tapi tega kah dirimu dengan anak yang dikandungnya? Bagaimana nanti penghinaan yang akan ia dapat?"


"Apa peduli mu?!" Bentaknya. "Itu masalahnya, kenapa kamu yang harus berkorban? Kenapa kamu yang belaga ingin menjadi pahlawan di sini?! PAHLAWAN BODOH!!!"


"Zu!"


Aku sangat tidak terima dengan ucapannya itu, hatiku sangat sakit. Bagaimana mungkin dia sebagai seorang laki-laki mengatakan hal seperti itu kepada perempuan. Tapi aku tetap harus bersabar, bagaimanapun juga aku harus tetap meyakinkan Presdir Zukril.


"Aku mohon padamu, atas nama cinta."


Presdir Zukril tertawa sumbang. "Mengatasnamakan cinta dalam kebodohan yang entah berasal dari mana?!" Bentaknya.


Iya aku memang bodoh, tapi ku mohon semua ini bukan atas kemauan hatiku. Aku hanya ingin melakukan pengorbanan untuk sahabatku yang malang. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain aku, kedua orang tuanya telah tiada. Dan sekarang hanya padaku lah ia mengharapkan belas kasih.


Aku pejamkan mata sejenak, mencoba untuk berfikir dengan jernih agar nantinya kalimat yang akan aku lontarkan selanjutnya dapat meyakinkan Presdir Zukril. Semoga aja ia akan luluh dan mau menerima Kanaya.

__ADS_1


"Zu, bukankah kamu dulu sangat mencintainya? kamu dulu menjalin kasih dengan dirinya, lalu mengapa sekarang kamu malah mencampakkannya di tengah kesusahan yang ia hadapi?" Aku melihat kedua bola matanya berputar, aku tahu ia sudah mual dengan semua ini. Tapi aku harus tetap mempertahankan apa yang menjadi keputusanku. "Coba kamu bayangkan, bagaimana kalau seandainya aku yang berada di posisi Kanaya saat ini, tengah hamil dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab."


Cih!!


Hah? Kenapa dia malah mendecih seperti itu? "Coba bayangkan kalau aku yang mengalami semua itu, Zu. Apakah kamu tega akan membiarkan aku seperti itu, sendirian dengan semua penderitaan itu?" Lalu aku mendengar ia mendesah dengan diikuti helaan nafas panjang.


"Aku rasa kamu sudah tidak waras, besok aku akan antar kamu ke psikolog. Kewarasan kamu itu rupanya sudah bilang ya."


"Terserah kamu akan menyebut aku gila atau semacamnya, Zu. Tapi aku mohon, demi anak tidak berdosa itu." Aku mengatupkan kedua tanganku padanya.


"Aku siap menjadi Ayah dari anak itu, tapi untuk menikahi Kanaya aku tidak mau! Aku sangat mencintaimu Talia, bagaimana mungkin aku menikahi Kanaya?!" Teriaknya.


Aku sangat terkejut dengan teriakannya itu, untung saja kami berada di ruangan VIP Caffe ini, jadi tidak mungkin ada orang yang akan mendengar teriakkan dari Presdir Zukril dan juga percakapan kami ini.


Tiba-tiba Presdir Zukril mencengkram erat tanganku, membuat tanganku kesakitan karena cengkeramannya yang begitu kuat. Terlihat dari kuku jarinya yang tampak memutih, tentu saja pasti dia mencengkram tanganku dengan sekuat tenaga. Aku merintih kesakitan, ingin ku lepaskan tanganku darinya, tapi tenagaku kalah kuat.


"Le.... Lepaskan aku, i.... Ini sakit."


Menyadari aku begitu kesakitan, akhirnya Presdir Zukril melepaskan cengkeramannya. "Aku mohon cukup, Talia. Sudah cukup jangan menyakiti hatiku lagi, cukup! Jangan mengatakan apa-apa lagi tentang hal ini, aku sudah tidak mau mendengarnya apalagi membahasnya lagi. Sudah.... Sudah cukup."


"Kalau kamu sudah tidak mampu membahas hal ini lagi, maka hubungan kita selesai sampai di sini." Terlihat Presdir Zukril langsung terdiam membeku saat mendengar perkataanku. "Kita akan hidup masing-masing dan menjadi orang yang seakan tidak pernah saling mengenal. Aku rasa itu cukup sebagai bayaran atas permintaanmu itu untuk tidak membahas hal ini lagi...."


Sedetik kemudian, Presdir Zukril menatapku dengan tajam. Tatapannya itu bagaikan anak panah yang siap melesat dan menghujam hatiku. Namun, perkataannya selanjutnya entah itu membuatku senang atau justru kesedihan untukku.


"Baiklah aku setuju, aku setuju menikah dengan sahabatmu itu." Katanya dengan nada suara yang datar.

__ADS_1


Seharusnya aku bahagia kan? Ini jawaban yang aku mau dari tadi, tapi entah kenapa hatiku ini malah sangat sakit. Oh, iya. Inilah yang dinamakan patah hati, aku pernah merasakannya dulu saat Aldo mengkhianati diriku.


Ta.... Tapi, inilah harapanku. Inilah yang aku mau dan inilah keputusanku, maka aku harus menerima semuanya. "Syukurlah kalau kamu setuju."


Terlihat Presdir Zukril menyeringai mendengar perkataanku tadi. Melihat itu perasaanku jadi tidak enak, seperti ada yang Presdir Zukril rencanakan. "Aku setuju, tapi tentu semua itu harus ada bayarannya seperti katamu tadi."


Sudah aku duga, dia tidak akan membuat ini menjadi mudah. "Apa yang kamu mau? Katakanlah. Bayaran seperti itu?"


Dia tersenyum sambil menatapku tanpa berkedip. Tatapannya tajam dan dalam, entahlah.... Aku jadi takut dia menatapku seperti itu. "Ayolah, bayaran seperti apa yang kamu maksud?"


"Nanti akan aku tagih saat aku perlu." Katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. "Kamu sudah puaskan dengan keputusanku? Tapi ingat, suatu hari kamu harus membayar semuanya dan kamu tidak boleh menolaknya saat aku minta bayaran itu." Lalu pergi meninggalkan ruangan VIP.


***


Diperjalanan pulang aku terus kepikiran dengan perkataan Presdir Zukril. Ia bilang kalau suatu hari akan menagih bayaran dari ia menikahi Kanaya, tapi yang jadi pertanyaannya bayaran berupa apa yang ia mau? Tentu aku yakin bukan uang dan sejenisnya yang dimauinya karena ia sama sekali tidak kekurangan hal seperti itu


"Talia, kenapa dari tadi kamu diam saja. Apa semuanya baik-baik saja? Bukankah Zukril telah setuju untuk menikah denganku?" Tanya Kanaya yang mungkin ia bingung melihat aku dari tadi melamun.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya kecapean aja."


"Kalau begitu kita istirahat dulu saja, perjalanan dari kota ke Kampung kamu cukup jauh, itu akan sangat berbahaya kalau kamu tetap melanjutkan perjalanan dengan keadaan lelah."


Aku tersenyum menanggapinya. "Tenang saja, walau cape aku masih tetap kuat untuk menyetir kok. Kamu yang harusnya istirahat. Tidurlah, bayi kamu pasti lelah." Kanaya mengangguk dan mulai memejamkan matanya.


Kembalilah lagi aku ke dalam lamunanku, yang memaksa diriku untuk mengingat semua rasa sakit itu. Sakit akan kehilangan orang yang sangat aku cintai untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2