
Delapan bulan kemudian….
Usaha Aldo semakin maju dan berkembang, semua itu tidak lepas dari usaha yang dia kerjakan. Dan juga dari bantuan promosi dan suntikan dana dari ku yang tidak pernah berhenti ku lakukan.
Sebenarnya Aldo sama sekali tidak tau kalau setiap bulan aku selalu menyuntikan dana untuk perkembangan usahanya, aku merahasiakan semua darinya karena takut kalau nantinya dia akan menolak.
Bahkan aku sudah bekerjasama dengan Lusi pegawai yang dia tempatkan di bagian keuangan, Lusi sangat menghargai ku karena itulah dia mau aku ajak kerjasama untuk tidak mengatakan kepada Aldo kalau setiap bulannya aku selalu menyuntikan dana untuk usahanya itu.
Aku bahagia usaha Aldo berkembang pesat dalam waktu hanya beberapa bulan, tapi aku juga jadi merasa sedih karena dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya itu.
Dia sepertinya sulit meluangkan waktu walau hanya untuk sekedar ngobrol santai dengan ku. Aku jadi merasa kesepian.
Apalagi saat ku dengar kalau Aldo hari ini akan pergi keluar kota selama beberapa hari, dan pastinya kami akan tidak dapat bertemu. Saat dia ada didekatku saja kami jarang mengobrol, apalagi kalau dia jauh dariku begini.
"Aldo, aku akan sangat rindu kepadamu." Ucapku yang sedang didalam ruangan kerjanya.
Aldo mengusap kepala ku, kemudian tersenyum. "Kita kan bisa bicara lewat telepon, jadi kamu jangan sedih seperti ini."
"Tapikan bicara lewat telepon dan bicara secara langsung itu sangat berbeda, dan juga aku merasa sekarang kamu tidak pernah ada waktu untuk ku."
"Ayolah, Talia. Kamu harus bisa mengerti aku, kalau aku itu benar-benar sedang sibuk. Jadi kamu jangan merengek seperti anak kecil begini." Katanya.
Lalu Aldo mengambil tas kerjanya yang tergeletak diatas meja. "Sekarang aku akan berangkat, kamu jaga dirimu baik-baik disini."
"Apakah aku boleh menelpon mu duluan, Aldo?"
"Sebaiknya jangan, kamu tunggu saja aku yang akan menelpon mu duluan. Aku takut saat kamu menelpon, aku dalam posisi sedang bekerja dan menemui klien."
Dengan hati yang kecewa aku pun memaksakan diri untuk mengangguk. "Gadis pintar." Mengelus kepala ku. "Aku berangkat, ya."
"Hati-hati sayang."
__ADS_1
"Siap, terimakasih."
Aku mengantarnya sampai dia memasuki mobil, dan mobil itu melaju pergi. Aldo aku akan sangat merindukanmu, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
Selama beberapa jam ini aku terus menunggu Aldo untuk menelpon ku duluan, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Aldo akan menelpon ku.
Aku gelisah menunggu, hatiku rasanya tidak karuan. Ingin sekali rasanya aku menelponnya duluan, tapi aku teringat pesannya untuk jangan menelponnya duluan.
Aldo, kamu ingin aku mengerti. Tapi kamu sendiri tidak mengerti aku. Aku hanya ingin sedikit waktumu, tapi kamu seperti tidak bisa walau hanya sekedar meluangkan waktu untukku.
Sungguh aku sangat merindukan masa-masa dimana kita selalu bersama dulu, aku rindu saat kamu selalu perhatian kepadaku. Aku rindu saat kamu tiba-tiba menelpon ku ditengah malam hanya untuk mengatakannya kalau kamu rindu kepadaku.
Aku rindu saat kamu menggodaku dan melontarkan kalimat gombalan untukku. Aku rindu semua itu Aldo, sangat rindu.
Sekarang kamu benar-benar berbeda, tidak sehangat dulu saat bicara denganku. Apakah semua ini karena kamu sibuk dengan pekerjaanmu? Aku juga sama memiliki kesibukan, tapi aku masih bisa meluangkan waktu untuknya.
Bukannya aku sombong, bisnis dari usahaku jauh lebih besar darinya. Tapi aku masih bisa hanya untuk sekedar meluangkan waktu dengannya. Tapi dia kenapa tidak bisa.
Aku sangat rindu dirimu yang dulu, Aldo. Aku mohon kembalilah menjadi Aldo yang dulu, Aldo yang sangat mencintai ku dan Aldo yang perhatian kepadaku.
***
Aku berpikir kalau mana mungkin malam hari begini Aldo masih bekerja, pasti dia sedang istirahat sekarang. Jadi aku langsung saja menelponnya.
"Halo?" Suara Aldo di seberang sana.
"Halo sayang." Seruku dengan sangat bahagia, akhirnya aku bisa mendengar suara Aldo.
"Talia, kenapa kamu menelponku malam-malam begini?"
"Aku sangat merindukanmu, Aldo."
__ADS_1
"Iya, kamu merindukan ku kan?! Tapi coba lihatlah jam, ini sudah sangat larut. Kamu mengganggu waktu istirahat ku Talia."
"Tapi, Aldo. Dari siang aku terus saja menunggumu untuk menelpon ku, tapi sama sekali kamu tidak menelpon ku bahkan sampai sekarang. Jadi aku berinisiatif untuk menelpon mu duluan."
Aku mendengar dengusan diseberang sana. "Dari pagi sampai siang kan aku sibuk bekerja, mana sempat aku menelpon mu. Dan sekarang waktunya aku untuk istirahat, Talia. Aku sangat lelah bekerja, dan kamu malah mengganggu waktu istirahat ku."
Apakah yang ku telpon ini adalah Aldo? Kenapa nadanya bicara begitu kasar kepadaku? Aku tidak suka Aldo yang ini, aku inginkan Aldo yang dulu. Tolong kembalikan Aldo ku yang dulu, aku sangat merindukannya.
Aku sangat merindukan Aldo yang dulu. Aldo yang begitu lembut dan sopan dalam bertutur kata, bukan Aldo yang nada bicaranya kasar seperti ini.
Tolong kembalikan Aldo ku yang dulu. Aldo yang mencintai ku, Aldo yang menyayangiku, Aldo yang lembut apabila berbicara kepadaku, Aldo yang perhatian kepadaku, dan Aldo yang selalu mengerti diriku.
"Aldo, kenapa kamu bicara dengan nada yang kasar seperti itu kepadaku." Tangis ku mulai pecah.
"Hey, kamu menangis hah? Ayolah Talia kamu itu sudah dewasa, kenapa pemikiran mu itu seperti anak usia dini saja."
"Aku hanya ingin kamu yang dulu, Aldo. Kamu yang perhatian dan mengerti aku."
"Aaahhh, kamu ini benar-benar membuat ku kesal Talia. Rasanya kepalaku mau pecah saat bicara denganmu. Rengekan mu itu membuat ku muak." Bentaknya lalu menutup telponnya.
Inikah Aldo ku, kenapa dia menjadi sangat kasar kepadaku? Bahkan pun sekarang dia sudah berani membentak ku. Aldo, apakah yang kamu telah miliki sekarang ini begitu membutakan mu, sehingga kamu lupa kalau ada aku yang ikut berjuang dalam perjalanan kesuksesan mu ini.
Aku mohon Aldo jangan berubah, tetaplah menjadi Aldo yang dulu. Aldo kekasihku yang baik hati dan perhatian. Jangan berubah Aldo, aku mohon kepadamu.
Kalaupun aku melakukan kesalahan yang aku tidak sengaja atau aku tidak sadari, tolong maafkanlah aku. Tegurlah diriku, agar aku dapat memperbaiki setiap kesalahan ku.
Tapi jangan kamu diam kepadaku, jangan kamu acuh kepadaku. Aku memohon kepadamu Aldo.
Ku tatap langit malam yang kelam yang terhias ribuan bintang disana. Ku kenang masa-masa indah bersama Aldo dulu, sambil merasakan sejuknya angin malam yang menyapu kulit tubuhku.
Senyumku mengembang. Ah, begitu indah masa-masa kita dulu Aldo.
__ADS_1
***
Jangan lupa untuk like, komen, rate, vote dan Favorit. Terimakasih 🙏