
Presdir Zukril menghentikan mobilnya disebuah parkiran yang cukup luas. "Kamu tunggu dulu disini ya, aku mau pesan karcis untuk kita berdua." Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu Presdir Zukril pun turun dari mobil dan berlalu pergi.
Sekitar lima menit dia baru kembali dengan memegang dua lembar karcis. "Talia, aku sudah beli karcis untuk kita berdua. Mari turun."
Akupun turun, dan mengikuti langkah Presdir Zukril dari belakang. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui dia mengajakku kemana.
Sebuah tempat yang sangat ramai dikunjungi semua orang, dan sangat begitu banyak permainan disini. Ada permainan khusus untuk anak-anak sampai untuk orang dewasa.
Presdir Zukril mengajakku kebagian permainan untuk orang dewasa, aku benar-benar sangat bersemangat. Lalu aku melihat-lihat semua permainan yang ada di tempat itu.
Banyak sekali permainan yang benar-benar menguji adrenalin dan ada juga wahana yang yang tidak terlalu seram, seperti wahana Turangga-rangga, wahana bianglala, wahana gajah beledug, wahana kora-kora, wahana hysteria, wahana Kicir-Kicir, wahana halilintar, wahana tornado, dan masih banyak lagi.
"Kamu mau naik yang mana?" Tanya Presdir Zukril.
"Eeemmm…. Kamu biasanya kalo kesini naik yang mana?" Aku malah bertanya balik.
"Aku biasanya naik wahana itu…. " Kata Presdir Zukril sambil menunjuk wahana yang dia maksud.
Aku melihat arah yang di tunjuk olehnya, dan aku langsung bergidik ngeri saat melihat wahana yang ditunjuk Presdir Zukril.
Dia menunjuk wahana halilintar, yang mirip seperti kereta besar itu. Namun terdapat banyak rel yang harus dilewati. Ada jalur rel yang berbentuk bulat sehingga apabila kita melintasinya terasa seperti kita terbalik, ada juga jalur rel dengan turunan dan tanjakan yang sangat tinggi, bahkan sampai ada jalur rel yang menukik.
Jujur, belum naik saja aku benar-benar sudah ngeri melihat wahana itu. Tapi aku malu mengakui kalau aku takut naik itu, aku tidak mau membuat Presdir Zukril kecewa. Jadi lebih baik aku mengajaknya naik wahana yang dia suka.
"Yasudah, kita naik wahana yang itu saja." Ujarku.
"Hah, kamu yakin mau naik yang itu. Apa kamu tidak takut?" Tanyanya.
"Iya, aku yakin. Ayo naik yang itu." Kataku yang sebenarnya aku sendiri benar-benar tidak yakin untuk menaiki wahana yang menyeramkan itu.
"Lebih baik jangan naik kalau kamu tidak yakin, karena wahana itu adalah wahana yang ekstrim. Wahana itu akan benar-benar mendebarkan jantungmu, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa." Katanya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, justru aku malah sangat ingin sekali naik wahana itu. Ayo, aku yang takut apa kamu nih yang sebenarnya takut." Ledekku sambil menjulurkan lidah.
"Dih, melet-melet gitu. Aku berani, malahan aku sudah beberapa kali naik wahana itu. Yasudah kalau kamu mau naik wahana itu, ayo saja. Tapi jangan sampai nangis ya. Hahaha…."
Aku malah jadi merasa tertantang mendengar perkataan Presdir Zukril, akupun nekad ikut antri di wahana yang menyeramkan itu. Antriannya cukup panjang juga, ternyata banyak juga orang yang mau naik wahana itu.
Sedikit demi sedikit antrian mulai berkurang, dan aku malah semakin berdebar. Aku takut sebenarnya dan sangat ingin membatalkan naik wahana itu, tapi saat melihat Presdir Zukril yang begitu bersemangat aku jadi tidak tega untuk membatalkan naik wahana itu.
Kami pun dapat bagian juga naik wahana halilintar yang menyeramkan ini. Ada dua pegawai yang memasangkan sebuah sabuk pengaman kepadaku.
"Bagaimana, apakah sabuknya sudah kencang mbak?" Tanya salah satu pegawai yang memasangkan sabuk pengaman kepadaku.
"Iya pak, sepertinya sudah kencang." Ujarku.
"Baiklah, beberapa saat lagi wahana akan dijalankan." Katanya sambil berjalan menjauh dari wahana yang aku naikin.
Aku melihat Presdir Zukril yang duduk disebelah ku, dia benar-benar tampak bahagia. Tapi aku takut, bagaimana ini. Huaaa….
Lah kok gak serem ya, jalannya pelan sekali. Kalau kayak gini aku gak takut, hehehe. Ujarku dalam hati.
Wahana berhenti saat sudah sampai puncak, aku celingukan bingung. Tapi beberapa saat kemudian wahana turun dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Aku mendengar semua orang yang naik wahana yang sama sepertiku berteriak, begitupun juga denga Presdir Zukril yang berteriak dengan girang.
Dan aku? Aku tidak menunjukkan reaksi apa-apa, aku begitu kaget, aku kalap. Rasanya kepalaku sangat pusing, dan pasokan oksigen dalam paru-paruku rasanya habis. Jangankan berteriak seperti mereka, untuk melihat kedepan pun rasanya mataku buram.
***
Beberapa menit kemudian, akhirnya wahana yang menyeramkan itu berhenti ditempat awal aku naik. Terlihat semua orang mulai membuka sabuk pengaman dan turun. Tapi aku masih bengong ditempat karena masih syok.
Presdir Zukril menatapku dengan bingung, mau turunpun tapi jalan keluarnya terhalang olehku.
__ADS_1
"Talia, ayo turun. Kamu kenapa bengong disini?" Tanyanya.
Kepalaku pusing seperti berputar-putar, tubuhku sangat lemas, dan perutku terasa bergejolak. Lalu tanpa sengaja aku muntah di pakaian Presdir Zukril.
Terlihat Presdir Zukril begitu terkejut dengan apa yang terjadi. "Astaga, T-talia…. Kamu tidak apa-apa." Serunya karena terkejut.
Lalu dengan hati-hati Presdir Zukril mengajakku turun dari kereta wahana halilintar itu, dan membawaku menuju mobilnya yang berada di parkiran.
"Talia, kamu tunggu dulu di dalam mobil ya. Aku akan membelikan mu teh hangat dulu." Ujarnya kemudian pergi menuju ke sebuah kedai.
Tak berapa lama Presdir Zukril kembali dengan membawa teh hangat di gelas plastik, dan sebungkus roti.
"Ini diminum dulu teh hangatnya." Katanya sambil membantu aku untuk minum. "Ini makan juga rotinya ya, biar kamu tidak terlalu mual."
Aku melihat pakaian Presdir Zukril yang terkotori oleh muntahan ku. Aku jadi malu dan tidak enak hati, tak terasa aku mulai terisak karena itu.
"Loh, kenapa menangis Talia. Apakah kamu masih pusing, atau ada yang sakit?" Tanyanya. Aku tidak menjawab dan hanya terisak.
Sangat mengecewakan rasanya, aku malah menghancurkan acara jalan-jalan yang telah Presdir Zukril persiapkan. Aku benar-benar kecewa dan sangat tidak enak hati padanya.
"Sssttt…. Sudah jangan menangis, kalau kamu pusing atau merasa sakit katakan. Jangan membuat aku khawatir begini." Dia mengelus-elus punggungku, mungkin untuk menenangkan ku dan mengurangi rasa mual yang aku rasakan.
"Maafin aku Zu, aku jadi merusak acara jalan-jalan yang sudah kamu rencanakan. Aku juga minta maaf karena telah mengotori pakaian kamu." Kataku sambil terisak.
Presdir Zukril langsung memelukku untuk menenangkan aku. "Tidak perlu merasa malu atau tidak enak hati, aku tidak marah kepadamu. Justru aku malah khawatir kepadamu, takut kamu kenapa-kenapa."
"Sekali lagi aku minta maaf ya." Ucapku dengan nada suara yang masih bergetar, mungkin efek naik wahana halilintar tadi.
"Iya tidak apa-apa kok." Jawab Presdir Zukril dengan nada suara yang terdengar tulus sambil terus memelukku.
***
__ADS_1
Ada yang pernah mengalami kejadian seperti Talia?😂