
Aku menatap Kanaya dengan terkejut, keadaannya sungguh amat sangat mengkhawatirkan. Kemana wajah cantiknya dulu? Sekarang yang terlihat hanya wajah pucat yang kusam. Mata sebab dan kondisi tubuh tidak sebagus dulu.
"Kanaya, apa yang telah terjadi kepadamu?" Tanyaku yang melihat keadaan memprihatinkan Kanaya.
Kanaya langsung memelukku sambil terisak. "Talia, hidupku sudah hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana, mengapa hidup ini begitu menyakitkan, huhuhu...."
"Apa yang telah terjadi Kanaya, kenapa keadaanmu menjadi seperti ini?" Tanyaku sambil merangkum wajahnya.
"Huhuhu...." dia hanya menangis dan tidak menjawab pertanyaanku, mungkin saja dia masih syok dengan apa yang telah menimpa dirinya.
Jujur saja aku juga benar-benar syok melihat keadaan Kanaya. Wanita karir yang cantik sekarang berubah penampilannya seperti ini, aku betul-betul khawatir melihatnya seperti ini. Sebagai sahabat aku sayang padanya, dan tentu amat sangat ingin membantunya menyelesaikan apa yang menjadi masalahnya ini.
Aku pun mengajak Kanaya untuk masuk ke dalam rumah dan istirahat di kamarku. Pasti Kanaya lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh dari kota ke Kampungku.
****
"Nak Kanaya ini air hangatnya, habiskan biar badannya nanti jadi enakkan." Kata Ibuku sambil menyerahkan air hangat kepada Kanaya.
"Terima kasih banyak, Tante." Ucap Kanaya dengan suara lemahnya.
Saat pulang dari acara pernikahan saudaranya, Ibu dan Bapak terkejut melihat ada Kanaya di kamarku. Dan yang lebih membuat Ibu dan Bapak terkejut adalah melihat keadaan Kanaya sekarang ini. Kanaya mengenakan pakaian yang benar-benar terlihat sudah tidak layak pakai. Kalau ditanya kenapa keadaannya bisa seperti ini, ia hanya menangis dan menangis.
"Nak, tangannya kenapa berdarah? Sini biar Ibu obati ya. Sebentar Ibu ambilkan obat merah dulu."
"Saya punya obat merah di dalam tas, Tante. Pakai punya saya saja." Ujar Kanaya saat melihat Ibu akan beranjak dari duduknya. "Kanaya ambil dulu."
"Tidak usah, nak. Kamu berbaring saja, biarkan Ibu yang mengambil obat merah itu dan mengobati lukamu."
Ibu mulai mencari keberadaan obat merah yang berada di dalam tas Kanaya. Namun, tiba-tiba aku melihat Ibu terdiam. Entah apa yang beliau lihat di dalam tas Kanaya, wajahnya seperti terkejut dan tidak percaya. Lalu menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku yang tidak tahu apa yang dilihat Ibu, mencoba untuk bertanya melalui sorot mata. Seperti tahu akan kebingunganku, Ibu menarik tanganku keluar kamar.
__ADS_1
"Ibu, ada apa? kok aneh begitu." Tanyaku yang bingung melihat sikap Ibu.
"Apakah Kanaya sudah menikah?"
"Menikah? Setahuku Kanaya belum menikah, Bu." Kataku yang memang setahuku Kanaya belum menikah, karena aku tidak mendapatkan undangan apa-apa darinya. Kalaupun dia menikah pastinya dia akan mengundang diriku.
Ibu terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi beliau tampak ragu untuk mengatakannya. "Ibu, ada apa? Sepertinya ada yang ingin Ibu katakan. Ayolah, Bu. Katakan saja."
"I-ibu melihat ada testpack di dalam tasnya, dan terlihat kalau hasilnya positif."
Aku terkejut bukan main mendengar pernyataan dari Ibu. Testpack! Benarkah Kanaya hamil? Kalau Kanaya hamil kapan dia menikah, dan kalau menikah mengapa tidak memberitahu atau mengundang diriku?! Sungguh sangat membingungkan.
"Coba akan aku tanyakan padanya, Bu."
"Iya, nak. Coba kamu tanyakan padanya. Ibu takut kalau dia kemari karena bertengkar dengan suaminya, itu sungguh tidak baik."
Aku melangkah masuk ke dalam kamarku dan menghampiri Kanaya yang tengah berbaring, tapi dengan mata yang masih terbuka. Ia tidak tidur dan tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Iya, Talia?"
"Aku ingin kamu jujur." Kataku, lalu menarik nafas sejenak. "Apakah kamu hamil? Dan kalau kamu memang benar hamil, kapan kamu menikah dan kenapa tidak mengundang aku?"
Kanaya tampak terkejut dengan pertanyaanku yang bertubi-tubi itu. Jujur aku tidak tega melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, aku sangat penasaran dan menginginkan dia menjawab semua pertanyaan yang aku lontarkan itu.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan dariku, Kanaya malah terisak dan mulai menangis. Aku terkejut sekaligus merasa bersalah melihatnya.
"Kanaya jangan menangis. Maafkan aku apabila pertanyaanku ini membuat kamu tidak nyaman dan sedih, sungguh aku minta maaf." Aku memeluk Kanaya dengan erat, mencoba untuk menenangkannya.
"Huhuhu...." Kanaya menangis dengan keras, sepertinya ia memiliki banyak sekali beban dan masalah. Dapat terlihat dari caranya menangis, bahkan siapapun yang mendengar tangisannya pasti akan merasakan hatinya terasa teriris.
"Sungguh maafkan aku Kanaya, maaf."
__ADS_1
Kanaya melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan raut wajah antara malu dan putus asa. "Aku memang sedang hamil, Talia."
"Hamil? kamu sungguh sedang hamil?" Lalu ia mengangguk sebagai jawaban. "Bararti kamu sudah menikah? Mengapa tidak mengundang aku kalau kamu sudah menikah dan sekarang bahkan sedang mengandung?"
Kanaya menunduk lesu. Ada apa dengannya? Terlihat ia begitu sedih dan tidak bersemangat. "Kanaya, ada apa?"
"Aku belum menikah."
Deg....
Rasanya jantungku mau copot mendengar ucapannya. Dia belum menikah tapi sudah mengandung?! Rasanya aku tidak percaya dengan ucapan Kanaya. Dia adalah sahabatku, Kanaya adalah orang baik-baik. Mana mungkin dia melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Hamil diluar nikah.
"A-aku tahu pasti sekarang kamu jijik sama aku. Sungguh aku benar-benar tidak menyangka akan melakukan semua itu, Aldo telah mempengaruhiku." Jelasnya.
"Lalu di mana sekarang Aldo, mengapa dia tidak bersama dengan dirimu disaat keadaanmu sedang mengandung anaknya seperti ini?"
Kanaya tersenyum hambar. "Aldo pergi meninggalkan diriku saat tahu kalau aku hamil, dia juga mengambil semua aset, rumah, apartemen, dan semua uangku. Dia telah menipu aku Talia. Dia begitu kejam, huhuhu...." Sungguh aku amat sangat tercengang mendengar pernyataan dari Kanaya, sebegitu bejat dan brengseknya kah Aldo?
"Bahkan karena sudah tidak memiliki apa-apa aku sampai tidur di jalanan, aku sungguh sudah tidak punya apa-apa. Untung saja ada orang baik yang sudi mengantarkan aku ke sini saat aku memohon-mohon." Ujarnya. Lalu aku memeluk Kanaya dengan erat. Amat malang nasibmu Kanaya, ditipu dan dikhianati oleh kekasih yang kamu cinta.
Aldo, orang yang dulu begitu aku cinta karena ketekunannya dalam bekerja juga karena kesederhanaannya. Tapi rupanya semua itu hanyalah kedok untuk menutupi segala kebusukan dirinya. Munafik memang.
Sekarang Sahabatku yang menjadi korban, sungguh tega dirinya telah memperlakukan Kanaya seperti ini. Hatiku sakit melihat nasib Kanaya yang seperti ini, aku sungguh tidak terima. Ingin rasanya aku membalas semua perlakuannya kepada sahabatku Kanaya.
****
Setelah Kanaya tertidur. Aku menemui Bapak dan Ibu di ruang tengah, lalu menceritakan semuanya. Menceritakan apa yang terjadi kepada Kanaya.
"Astaghfirullah, kejam sekali kelakuan si Aldo. Untung saja kamu sudah tidak bersama dengan Aldo, Allah masih melindungi kamu Sayang." Kata Ibu sambil mengelus kepalaku. "Kalau dulu Aldo sampai melakukan hal itu kepadamu, Ibu sungguh tidak akan terima. Ibu akan mencari kemanapun Aldo berada." Ibu benar-benar sudah tersulut emosi mendengar cerita tentang Kanaya.
"Betul sekali. Dan Allah juga baik, telah mengirimkan nak Zukril sebagai pengganti yang jauh lebih baik dari Aldo, sangat baik." Ujar Bapak.
__ADS_1
Benar, aku sangat bersyukur karena telah mengetahui kebusukan Aldo lebih awal. Dan aku juga sangat bahagia karena Presdir Zukril telah hadir dalam hidupku, serta akan menjadi pendampingku.