Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
S2. Perjanjian


__ADS_3

Aku memeluk Ibu dengan erat, menyalurkan semua rasa sayang yang aku rasakan. Ibu pun mengecupi pucuk kepalaku. "Enggak kerasa ya, anak Ibu sudah besar. Sudah ada laki-laki datang untuk melamarnya. Perasaan baru kemarin Ibu melahirkan kamu, nak. Sekarang sudah mau diboyong orang."


Perkataan Ibu membuat aku jadi sedih. Kasih sayang seorang Ibu benar-benar dalam dan amat luas untuk anaknya. Perjuangannya begitu amat besar. Dari mengandung, melahirkan, hingga merawat anaknya dengan penuh sayang dan kasih. Dan memastikan bahwa anaknya mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.


"Ya, sudah. Kamu segeralah bawa semua makanan ini ke meja makan, sepertinya Bapak dan Presdir Zukril sudah selesai ngobrolnya."


"Baik, Bu."


Aku membantu Ibu membawa makanan yang tadi sudah kami masak ke meja makan. Tampak Bapak dan Presdir Zukril sudah duduk di meja makan.


"Masak kok lama sekali." Ujar Bapak.


"Ya sabar dong, Pak. Kitakan masak makanan istimewa, apalagi ada calon mantu kita yang ikut makan. Tentu masaknya harus penuh cinta dan hati-hati." Kata Ibu yang membuat aku tersipu malu. "Nak, Zukril. Silahkan dimakan, kamu pasti sudah lapar."


Presdir Zukril tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban. Makan malam hari ini benar-benar terasa lebih istimewa. Ah, keluargaku terasa lebih lengkap dengan adanya Presdir Zukril.


****


Keesokan harinya, aku menemani Presdir Zukril jalan-jalan keliling kampung. Ia tampak bersemangat sekali melihat keadaan kampungku ini. "Nyaman sekali rasanya tinggal di kampung, jauh dari asap polusi dan padatnya kendaraan yang menyesakkan."


"Makannya sering-seringlah main ke sini, sekalian healing-healing biar otak gak stress." Ujarku, yang dijawab tawa oleh Presdir Zukril.


"Jahat ya kamu bilang aku stress.... Tapi kamu benar, di sini rasanya pikiranku begitu damai dan jernih." Menghela nafas menikmati segarnya udara kampung.


Aku tersenyum geli mendengar perkataan Presdir Zukril. "Pikiran Jernih, jadi selama ini pikiran kamu kotor dong? Hahaha...." Godaku padanya.

__ADS_1


"Kalau ngomong suka ceplas-ceplos nih perempuan. Untung cinta, coba kalau enggak."


"Kalau enggak mau ngapain?!" Tantang ku sambil menunjukkan wajah sekurang ajar mungkin.


"Kalau enggak, ya aku bikin jadi jatuh cinta."


Aku tertawa mendengar jawabannya yang asal-asalan itu, sungguh ia sebenarnya adalah pria lugu berbalut wajah dewasa. Sikapnya ini membuat aku sangat nyaman dengannya, benar-benar nyaman sampai tak sanggup apabila suatu saat kehilangan dirinya.


Andaikan kita dulu bertemu lebih awal, pastilah sekarang ini kita sudah menjalin hubungan syah. Aku sangat mencintaimu Presdir Zukril, entah seberapa besar rasa cinta ini berlabuh untukmu.


"Talia, rasanya hidupku ini begitu sempurna dengan adanya dirimu." Eh, kata-katanya kok jadi bucin begitu? Ah, aku jadi meleyot. "Tak bisa aku bayangkan apabila kita tak pernah bertemu. Mungkin aku akan bunuh diri karena keputusasaan yang menggerogoti hati.


Langsung ku bekap mulutnya, apa-apaan dia itu. Bicara sembarangan, memangnya mati itu mudah. "Kalau bicara jangan sembarangan. Kamu itu laki-laki, tentu harus kuat fisik dan mental. Jangan lemah!" Bentak Ku padanya. Aku kesal, benar-benar kesal dengan ucapan bodohnya itu. Bagaimana dia bisa mengucapkan semua itu di hadapanku, apa dia tidak tahu kalau aku ketakutan kalau dia membicarakan tentang kematian dirinya.


Presdir Zukril membalas pelukanku. Ia menenggelamkan wajahku ke dada bidangnya itu, dapat aku dengar degup jantungnya yang teratur. Sangat nyaman berada diposisi seperti ini.


Lama kami berpelukan, sampai aku berinisiatif untuk melepaskan pelukanku duluan. Tampak senyum tipis tersungging di bibir tebal Presdir Zukril. "Malam ini aku akan ke kota." Katanya.


Perkataanya itu benar-benar menghancurkan momen romantis yang baru saja tercipta itu. "Mengapa harus malam ini? Mengapa tidak besok atau lusa? Tidak nyaman kah dirimu berada di sini, dekat dengan diriku dan keluargaku."


"Hey, bicara apa kamu! Tentu aku sangat nyaman berada bersama dengan kalian, bahkan ingin selamanya bersama dengan kalian. Tapi tentu ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, juga ada keluarga besar yang harus aku undang."


"Undang?"


"Diundang ke pernikahan kita nanti." Aku tersenyum mendengar ucapannya, sangat bahagia mendengar kalau Presdir Zukril benar-benar tulus mencintaiku dan ingin segera menjadi imam untukku.

__ADS_1


****


"Hati-hati di jalan nak Zukril, jangan lupa kalau sudah mulai ngantuk dan lelah di perjalanan istirahat dulu ya. Perjalanan yang akan kamu tempuh itu jauh." Presdir Zukril mengangguk sambil tersenyum mendengar nasihat dari Bapak.


"Nak Zukril, ini Ibu ada sedikit hadiah untuk keluarga nak Zukril di kota." Ibu memberikan sebuah kotak putih berukuran sedang kepada Presdir Zukril.


Presdir Zukril menerimanya dengan mata berbinar. "Terima kasih banyak, Bu. Sungguh aku sangat bahagia karena kalian begitu memperlakukan aku dengan sangat baik, sekali lagi terima kasih banyak."


"Jangan sungkan seperti itu nak, kami ini adalah keluargamu. Jadi tentu kami akan perhatian kepada keluarga kami." Kata Ibu sambil memeluk Presdir Zukril.


Aku hanya menatap semua adegan ini dengan terharu. Senang rasanya Bapak dan Ibu bisa menerima Presdir Zukril sebagai calon menantunya. "Hati-hati ya." Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan, sejujurnya aku belum siap untuk ditinggalkan Presdir Zukril. Ya walau hanya sementara, tapi jauh darinya rasanya amat hampa.


Presdir Zukril tersenyum mendengar perkataanku. Lalu ia mengelus kepalaku, "kamu juga hati-hati ya. Jaga diri baik-baik." Ucapnya.


Lalu pamit untuk yang terakhir kalinya kepada Bapak, Ibu, dan aku. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan melakukannya. Aku menatap mobil Presdir Zukril yang semakin jauh dan menghilang itu dengan perasaan sedih. Sungguh aku akan sangat merindukannya.


****


Pagi-pagi buta, Bapak dan Ibu bilang akan pergi ke pernikahan temannya. Dan aku disuruh untuk menjaga rumah. Sebenarnya aku ingin ikut karena benar-benar bosan di rumah sendirian, tapi Bapak dan Ibu tidak mengijinkan katanya kalau aku ikut siapa yang akan menjaga rumah. Baiklah aku nurut saja.


Daripada bosan, aku berinisiatif untuk menyirami tanaman yang ada di halaman depan rumah. Sambil melihat matahari yang perlahan mulai menampakkan wujudnya. Perlahan gelapnya langit berubah menjadi terang. Dan segarnya embun pagi benar-benar menenangkan diriku.


Saat aku sedang asyik menyiram tanaman, tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahuku. Aku terkejut bukan main ketika melihat siapa orang yang menepuk bahuku.


"Kanaya?"

__ADS_1


__ADS_2