Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Menjadi sepasang kekasih


__ADS_3

Puk puk puk….


Aku merasakan ada yang menepuk-nepuk pipi ku. Tapi aku hiraukan saja karena aku masih mengantuk, lama kelamaan tepukan itu membuat aku jengkel juga.


"Iiiihhhh. Apa-apaan sih, diem dong aku ngantuk nih!" Seru ku, namun dengan mata yang masih terpejam.


Tiba-tiba aku mendengar suara tawa seseorang, tawa yang sangat tidak asing ditelinga ku. Aku langsung membuka mata, dan betapa aku terkejut ternyata orang itu adalah Bapak.


"Bapak?" Aku langsung bangun dan memeluk Bapak.


Bapak membalas pelukan ku sambil mengusap-usap kepala ku. "Apa kabar, sayang. Bapak kangen sekali sama Lia."


"Lia juga kangen sama Bapak." Aku benar-benar tidak bisa membendung air mata ku ini.


"Sudah jangan nangis. Kamu kan sudah gede, masa masih cengeng aja." Kata Bapak dengan nada humor.


"Ah, Bapak ini. Lia kan kangen sama Bapak, makannya Lia nangis."


"Emangnya kangen harus nangis, ya?" Lagi-lagi bercanda.


"Ih, bapak ini." Rengek ku.


"Hahaha, yasudah ayo keluar. Ibu sudah masak banyak buat kita." Kata Bapak.


Aku dan Bapak berjalan beriringan menuju meja makan, dan benar saja Ibu masak banyak sekali. Ada sayur bayam, semur daging, sup ayam, opor ayam dan masih banyak lagi. Semuanya tersaji di meja.


"Makanannya banyak sekali, Bu." Kata ku.


"Iya, nak. Ibu masak banyak buat kamu. Ibu lihat semenjak tinggal di kota kamu jadi kurus begitu, makannya kamu makan yang banyak ya sekarang." Ibu dengan semangat menyajikan makanan di piring ku.


"Tapi makanan sebanyak ini gak mungkin habis sekarang." Aku menunjuk semua makanan yang terhidang di meja.


"Kalo gak habis sekarang kan bisa buat besok, sudah kamu makan sana."


Aku langsung memakan masakan Ibu dengan lahap, rasanya benar-benar masih sama seperti dulu. Masih sangat lezat dengan bumbu khas racikan Ibu.


Saat sedang makan, tiba-tiba aku teringat dengan Aldo. "Bu, Aldo kemana ya. Kok tidak ikut makan bersama kita?"


"Tanya tuh sama Bapak mu." Tunjuk Ibu kepada Bapak.


"Pak, Aldo mana?" Tanya ku.


"Aldo siapa?" Malah balik bertanya.


"Itu loh pegawai ku yang aku ajak kemari."

__ADS_1


"Yang tidur di kamar tamu bukan?"


"Nah, iya pak."


"Oh, bapak menyuruhnya memandikan sapi di sungai."


Aku menepuk kening ku. "Bapak ini ada-ada saja, masa nyuruh dia buat mandiin sapi sih. Dia tidak terbiasa untuk mengerjakan pekerjaan seperti itu."


"Alah biarkan saja, dia itu kan laki-laki. Masa tidak bisa cuma mandiin sapi."


"Beda dong, pak. Dia kan orang kota, jadi tidak terbiasa untuk melakukan pekerjaan itu." Aku beranjak dari duduk ku.


"Loh. Mau kemana, Lia?" Tanya Ibu.


"Mau nyusul Aldo, bu."


"Habiskan dulu makanannya."


"Nanti lagi saja, bu." Aku langsung ke gudang mengambil sepeda, lalu langsung menggoesnya menuju ke sungai tempat Aldo memandikan sapi milik Bapak.


Ku susuri jalanan kampung dengan sepeda. Ah, aku benar-benar rindu setiap sudut kampung ini. Kampung halaman tercinta ku, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Tempat ku mengenyam pendidikan. Sampai mendapat beasiswa kuliah di kota, dan sekarang memiliki usaha di kota.


Aku pernah mendengar kalimat "anak kampung tapi rejeki kota" hehehe. Kalimat itu benar-benar seperti menggambarkan kondisi ku sekarang. Tapi apa yang ku dapatkan sekarang karena usaha dan kerja yang ku lakukan, dan juga tidak lepas dari doa dan dukungan dari orang-orang tersayang.


Ku tarik rem sepeda saat sudah sampai di depan sungai tempat Aldo memandikan sapi. Aku juga melihat Aldo sedang kewalahan memandikan sapi besar yang tidak bisa diam itu, dia ini benar-benar lucu.


"Nyonya, kenapa datang kesini?" Tanyanya sambil menggosok-gosokkan punggung sapi dengan rumput.


"Saya cuma mau bantu kamu memandikan sapi." Aku langsung turun ke sungai.


"Jangan, nyonya. Nanti nyonya kotor."


Aku langsung tertawa mendengar perkataannya. "Kamu ini lebay sekali, aku tuh dulu sudah biasa memandikan sapi. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Sekarang kamu cari sabut kelapa."


"Sabut kelapa untuk apa, nyonya?" Tanya Aldo.


"Untuk menggosok kulit sapi agar bersih, kalau hanya pakai rumput kapan bersihnya. Kulit sapi itu tebal, tidak cukup kalau hanya menggunakan rumput."


"Oh, baik nyonya. Saya akan mencari sabut kelapa dulu."


"Kebetulan di dekat sini ada pabrik kelapa, kamu minta saja sabut kelapa disana. Bilang saja Pak Ahmad yang minta untuk memandikan sapinya." Jelas ku.


"Baik, nyonya." Berlalu pergi.

__ADS_1


***


Selesai memandikan dan mengantarkan sapi ke kandang, aku mengajak Aldo untuk jalan-jalan keliling kampung dengan menggunakan sepeda. Dia yang menggoesnya.


Semilir angin kampung di sore hari memang sangat sejuk, langit yang mulai menjingga begitu menambah nuansa keindahannya.


Hamparan padi bergoyang-yoyang tersapu angin, dan suara air sungai yang mengalir bagaikan musik yang mengiringinya. Sungguh indah pesona kampung ku. Tapi pesona orang yang sedang menggoes sepeda didepan ku ini juga tidak kalah indah.


"Kalau bonceng sepeda seperti ini jadi berasa seperti kita sepasang kekasih, ya." Kata ku yang benar-benar sangat terbawa suasana.


"Iya, nyonya. Seperti sepasang kekasih remaja yang sedang menikmati senja bersama." Balasnya.


"Tapi lebih bagus kalau kita berdua benar-benar sepasang kekasih sungguhan." Aku terkejut mendengar ucapan ku sendiri.


Aldo tiba-tiba menghentikan sepedanya, dan turun dari sepeda. Sekarang dia berdiri sambil menatap ku, tapi saat ku tatap balik dia malah langsung mengusap tekuknya. Terlihat sekali kalau dia gugup.


Karena sudah terlanjur bicara, lebih baik aku lanjutkan saja. Aku juga sudah siap kalau Aldo menolak ku.


"Kenapa, Aldo? Aku serius bicara seperti itu loh."


"Ta-tapi aku hanya seorang pegawai toko biasa, memangnya apa yang nyonya suka dari ku?"


"Kamu itu adalah laki-laki yang baik, sopan, ramah, dan jujur. Juga kamu tekun dan rajin bekerja. Kamu benar-benar membuat aku sangat menyukai mu Aldo." Jelas ku.


"Sebenarnya saya juga menyukai nyonya, tapi saya merasa tidak pantas bersanding dengan nyonya."


Aku menggeleng sambil tersenyum senang mendengar pengakuan dari Aldo, ternyata dia juga menyukai ku.


"Jangan merasa seperti itu, Aldo. Kita sebagai manusia semuanya sama di mata Tuhan, jadi kamu jangan merasa tidak pantas begitu."


Aku melihat ada binar di mata Aldo, lalu dengan tangan yang gemetar dia memegang kedua tangan ku.


"Nyonya Talia. Hari ini dibawah langit jingga, diatas tanah kampung yang asri ini, maukah engkau menjadi kekasih ku?" Suaranya terdengar gemetar, namun juga ada keyakinan disana.


"Ya, aku mau." Aku mengangguk mantap.


Terlihat Aldo menghela nafas lega, dan dengan refleks aku memeluknya.


Apakah ini mimpi? Aku dan Aldo resmi menjadi sepasang kekasih, orang yang selama ini aku sukai. Sungguh aku sangat bahagia saat mengetahui dia pun memiliki perasaan yang sama dengan ku.


Akan ku ingat hari ini, hari dimana aku dan Aldo benar-benar menjadi sepasang kekasih, seperti yang aku harapkan selama ini.


I love you Aldo….


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungan dengan cara like, komen, rate, vote dan Favorit. Terimakasih ❤️


__ADS_2