
Sore ini aku sedang sibuk membuat bubur untuk nenek, entah kenapa tiba-tiba nenek ingin makan bubur buatan ku.
Tapi aku tiba-tiba teringat saat tidur dalam pelukan Presdir Zukril, bagaimana bisa aku setidak tau malu itu. Aku malah ikut tidur dengan nyaman dalam pelukannya. Ah, memalukan sekali.
"Bagaimana, apakah buburnya sudah jadi?" Tanya Presdir Zukril.
"Belum, tapi sebentar lagi juga matang."
Kenapa orang yang dari tadi aku pikirkan malah datang sih, aku kan jadi malu sendiri.
"Kamu tidur dengan sangat nyenyak ya, padahal aku yang mabuk, hahaha." Kata Presdir Zukril disusul dengan tawanya.
Eh, dia ini benar-benar ya. Bikin aku jadi malu saja, siapa suruh malah meluk aku. Jadikan aku ikutan tidur.
Aku biarkan saja di menggodaku tanpa aku tanggapi.
"Marah?" Tanyanya dengan raut wajah yang menyebalkan.
Aku sama sekali tidak menjawab, dengan perlahan aku menuangkan bubur kedalam mangkuk. Lalu membawanya ke kamar nenek dengan menggunakan nampan.
Ih, kenapa Presdir Zukril mengikuti aku terus sih. Dia benar-benar berniat untuk menggodaku.
"Nenek, buburnya sudah siap. Mau aku suapi?" Kataku sambil menyodorkan sendok berisikan bubur kepada nenek.
Nenek membuka mulutnya dan memakan bubur yang telah aku buat ini. "Bagaimana, nek?"
"Buburnya enak, nenek sangat suka."
Aku senang sekali kalau nenek menyukai bubur yang aku buat ini. Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu pandai memasak, jadi saat ada yang memintaku untuk memasak aku sedikit ragu.
Saat aku sedang menyuapi nenek, tiba-tiba hpku berbunyi. Saat kulihat layar hpku, ternyata Aldo yang menelpon.
Aku sangat bahagia sekali, tumben sekali dia menelpon ku duluan. Aku langsung keluar kamar nenek untuk mengangkat telepon dari Aldo.
"Halo, sayang." Kataku dengan sangat bahagia.
"Talia, aku sudah pulang dari luar kota. Dan sekarang aku ingin menemui mu di restoran XX, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Katanya disebrang sana.
"Iya baiklah, aku akan segera kesana."
Ada hal penting yang ingin dia bicarakan, kira-kira apa ya? Apa dia akan melamarku? Wah, aku pasti akan sangat bahagia kalau dia benar-benar melamarku.
Aku langsung masuk ke kamar nenek. "Nek, Lia pamit pulang dulu ya."
"Kamu mau kemana, Lia?" Tanya nenek.
"Talia ada keperluan, nanti besok Talia akan kesini lagi menemui nenek." Kataku.
__ADS_1
Nenek mengusap kepalaku dengan lembut, dan terlihat dimatanya penuh pancaran kasih sayang.
"Apapun yang akan terjadi nanti, kamu harus sabar dan ikhlas." Kata nenek.
Aku bingung apa yang dimaksud oleh nenek, tapi entah mengapa perasaanku malah jadi tidak enak saat mendengar perkataan dari nenek.
"Zu, tolong kamu antarkan Lia. Dan kamu temani dia sampai urusannya selesai." Ujar nenek.
"Tidak perlu, nek. Lia bisa pergi sendiri, dan Zukril tidak perlu repot-repot menemani ku."
"Tapi, nenek khawatir kepadamu nak."
"Nenek tidak perlu khawatir kepadaku, aku bisa jaga diri." Kataku. "Kalau begitu Lia pamit dulu ya, nek."
Setelah berpamitan kepada nenek dan Presdir Zukril, aku langsung pergi dengan menaiki taksi menuju ke restoran XX tempat yang diberitahukan Aldo.
Aku benar-benar sangat gugup akan bertemu Aldo lagi, apa yang ingin dia bicara kepadaku. Apakah dia benar-benar akan melamarku.
Membayangkan semua itu membuat aku jadi senyum-senyum sendiri. Oh Aldo, aku bahagia sekali akan menemui mu lagi sekarang. Aku sangat mencintaimu Aldo.
***
Sampai di restoran yang dituju, aku langsung saja masuk kedalam restoran itu setelah membayar supir taksi.
Mataku melihat kesana-kemari mencari Aldo, dan aku melihat sosok yang sangat aku cintai dan rindukan itu. Dia sedang duduk di kursi pojok sambil sesekali meneguk minuman yang dia pesan.
Dia langsung berdiri saat melihat ku. Lalu mempersilahkan aku untuk duduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, sayang?"
"Sudah lama kita menjalin sebuah hubungan yang dinamakan sepasang kekasih, tapi selama itu pula aku tidak merasakan adanya sebuah keistimewaan dari hubungan kita ini." Ucapnya.
Aku mengernyitkan dahi ku, tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia merasa hubungan kita tidak istimewa, maksudnya apa coba?!
"Aldo, langsung to the point saja." Kataku.
"Aku ingin hubungan kita sebagai sepasang kekasih berakhir, cukup sampai disini saja. Jujur saja aku sudah tidak mencintaimu lagi, bahkan aku sudah memiliki pengganti dirimu. Dan aku lebih menyukai dirinya dibanding dirimu."
Kata-kata yang terucap dari mulutnya benar-benar sangat menyakiti hatiku. Bagaimana dia bisa mengatakan semua itu, apa kurangnya diriku?!
Aku sudah banyak berkorban untuknya, bahkan aku rela memberikan segalanya untuknya. Tapi apa balasannya sekarang!
"Siapa dia? Siapa wanita kurang ajar yang telah membuatmu berpaling dariku?!"
"Tolong jangan bicara buruk tentangnya, dia adalah wanita yang baik. Dan aku juga berniat ingin mempertemukanmu dengannya."
Aku tertawa sumbang. "Mana ada wanita baik yang berani merebut kekasih orang lain!"
__ADS_1
"Dia tidak merebut diriku darimu, tapi aku sendiri yang mendekatinya dan mencintainya lebih dulu. Karena aku merasa dia jauh lebih baik dari dirimu."
Kata-kata Aldo benar-benar seperti penghinaan untukku, aku sangat sakit hati dengan perkataannya itu.
Bagaimana bisa dia membandingkan diriku dengan wanita yang baru dikenalnya, bahkan dia mengatakan kalau wanita itu jauh lebih baik dariku.
"Aku ingin melihat seperti apa wanita yang kamu bilang jauh lebih baik dariku itu!"
"Baiklah, aku akan mempertemukan kalian. Tapi aku mohon kepadamu, jangan pernah kamu menghinanya. Dan jangan berani-beraninya kamu menyakitinya!"
Jangankan menyakitinya, mungkin aku malah akan membunuhnya dihadapan mu!
"Dan juga aku mohon, kamu jangan mengaku kalau kamu adalah mantan kekasihku. Bilang saja kalau kamu adalah temanku."
Laki-laki brengsek, tidak punya hati! Kamu pikir aku itu apa? Sehingga kamu dapat menyuruh dan memperlakukan aku sesuka hatimu.
"Tega kamu, Aldo!" Ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
"Ayolah, Talia. Janga kamu berlebihan seperti itu, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."
Dengan begitu mudahnya dia mengatakan semua itu. Lupakah dirinya kalau apa yang dia dapatkan sekarang adalah hasil dari bantuan ku.
Sekarang dengan seenaknya dia bicara dan memperlakukan diriku seperti ini. Laki-laki pengkhianat, brengsek. Aku sangat benci kepadamu, Aldo!!!
"Marilah, aku akan mempertemukanmu dengannya. Dan lihat saja nanti, betapa dia jauh lebih baik darimu. Dia jauh lebih dewasa darimu. Pastinya kalian sangat berbeda."
"Tentu saja aku dan dia berbeda, dia adalah wanita murahan yang bisanya merebut kekasih orang lain!"
"Tutup mulutmu Talia! Sekali lagi kamu menghinanya, aku tidak akan lagi bisa menahan amarahku ini kepadamu!"
Aku tersenyum miring kepadanya. "Ingat Talia, saat kamu bertemu dengannya jangan coba-coba kamu menyakitinya. Ini peringatan dariku, kalau kamu tidak menuruti perkataan ku, aku tidak akan segan-segan untuk mengangkat tanganku kepadamu. Tidak perduli walau kamu adalah seorang wanita!"
***
Talia
Zukril
Aldo
***
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, vote dan Favorit. Terimakasih❤️🙏