Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Secepat itu berpaling


__ADS_3

Setelah lama menyetir mobil, akhirnya kita sampai juga di depan rumahku di kampung. Hah, karena sudah sangat lelah dan mengantuk. Setelah salam-salaman dengan Ibu dan Bapak, aku langsung masuk ke kamarku untuk tidur.


Sebelum tidur aku kembali mengingat percakapan aku dan Presdir Zukril di cafe siang tadi. Entahlah yang aku ambil itu keputusan benar atau salah, yang pasti keputusan yang aku ambil itu baik untuk Kanaya dan anaknya. Walau sebenarnya begitu menyayat hatiku.


Baiklah sekarang aku harus membuka lembaran baru, menghilangkan semua memori kebersamaan aku dan Presdir Zukril. Aku harus kuat, semua ini adalah pilihanku dan aku tidak perlu untuk menyesalinya. "Aku harus kuat. Talia, pasti kamu kuat." Ucapku menyemangati diri sendiri.


Lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar. "Talia," ternyata itu Kanaya yang masuk sambil membawa segelas susu dan diletakkannya di atas meja. "Ini susu dari Ibu, katanya diminum ya supaya badan kamu lebih enakan."


"Iya nanti aku minum, sekarang aku mau berbaring dulu."


Kanaya menghampiri dan duduk disebelah aku sedang rebahan. "Talia, kamu adalah sahabat yang sangat baik. Kamu rela meninggalkan Zukril untukku, untuk masa depan anak yang aku kandung. Terima kasih banyak ya." Ia menggenggam tanganku. "Entah apa yang akan terjadi denganku kalau sampai aku tidak bertemu dengan kamu, mungkin nasibku tidak akan sebaik sekarang ini. Sungguh aku benar-benar sangat beruntung memiliki sahabat seperti dirimu." Lirihnya.


"Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu, semua itu aku lakukan atas nama persahabatan. Kedua orang tuamu sudah tiada, jadi sebagai sahabat akulah yang seharusnya berdiri di garda terdepan untuk membantu kamu jika berada dalam kesulitan atau masalah." Walau aku harus mengorbankan perasaan aku sendiri.


"Yaudahlah, kamu tidur Kanaya. Ini sudah malam, tidak baik ibu hamil tidur terlalu larut."


"Baiklah, kamu juga jangan tidur terlalu malam ya." Lalu ia berbaring dan menutup matanya.


Baiklah, aku juga harus mulai tidur sekarang. Biarkan hatiku saja yang sakit, jangan fisikku juga. Setelah menghabiskan susu dari Ibu, aku pun langsung mematikan lampu kamar dan tidur. Berharap esok hari rasa sakit yang aku rasa hari ini akan hilang tak berjejak. Semoga saja....


***

__ADS_1


Aku merasakan ada seseorang yang mengelus-elus kepalaku, yang tentunya saja memaksa diriku untuk melihat siapa yang melakukannya. Walau rasanya mataku ini begitu sulit untuk terbuka, tapi tetap aku paksakan.


Perlahan namun pasti, aku sudah mulai melihat jelas wajah orang yang mengelus kepalaku. Dan ternyata itu Ibu. Senang rasanya saat aku bangun tidur dan orang yang pertama kali aku lihat adalah Ibu, tapi mengapa wajah Ibu terlihat begitu sedih. Ada apa ini sebenarnya?


Aku pun bangkit dari tidurku dan menatap Ini dengan heran. "Ada apa Ibu, kenapa Ibu terlihat sedih pagi ini?" Tanyaku sambil menyentuh wajah Ibu dengan lembut.


Ibu hanya menggeleng sambil mengeluarkan isakan-isakan kecil yang tentu membuat aku semakin bingung lagi. "Di-di luar ada tamu." Ya, lalu apa hubungannya tamu itu dengan kesedihan Ibu pagi ini? Begitulah arti tatapanku kepada Ibu. "Tamu itu adalah Zukril dan Neneknya."


Hah! Astaga apa ini? Aku sungguh belum bisa mencerna semuanya. Pagi-pagi begini Presdir Zukril dan Neneknya datang ke rumahku? Apa tujuan mereka datang kemari?


Ibu seperti tahu apa yang aku pikirkan, beliau pun berkata, "mereka datang dengan membawa lamaran dan tanggal pernikahan untuk Kanaya."


Aku benar-benar seperti merasakan tubuhku begitu mati rasa, posisiku seperti patung sekarang. Aku hanya diam tak bergeming saat mendengar penuturan dari Ibu, sungguh aku sangat syok. Presdir Zukril datang kemari bersama Nenek untuk melamar Kanaya.


Seharusnya mereka datang dengan membawa lamaran itu untukku, bukan Kanaya. Ya, aku tahu kalau Presdir Zukril sudah setuju untuk menikahi Kanaya kemarin, tapi mengapa harus secepat ini? Bahkan luka di hatiku belum sembuh, tapi mereka sudah mau merencanakan sebuah pernikahan. Mengetahui hal itu rasanya pasokan oksigen diparu-paru ku mulai menipis, dadaku terasa sesak dan cairan bening mulai mengalir di pipiku.


Melihat aku yang dalam keadaan syok ini, Ibu langsung menghambur memelukku. "Sabar ya sayang, ini adalah cobaan untukmu. Rupanya kalian tidak berjodoh sayang. Tapi kamu harus percaya kalau Tuhan memiliki rencana yang indah untukmu, Tuhan pasti akan memberikan jodoh yang tepat di waktu yang tepat untukmu."


Entahlah bagaimana aku menanggapi kata-kata Ibu. Aku ingin terlihat kuat sebenarnya di depan Ibu, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa berkompromi. Aku mendongakkan kepalaku ke atas sambil membalas pelukan dari Ibu. Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali. Aku kira tidak akan sesakit ini Tuhan. Kalau aku tahu akan sesakit ini pasti aku tidak akan mengambil keputusan seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Presdir Zukril sudah bukan lagi menjadi milikku, sekarang ia milik Kanaya. Sesakit ini ternyata mengetahui kalau secepat itu perasaan Presdir Zukril berpaling.


***

__ADS_1


Di dapur aku membantu Ibu menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk menyuguhi Presdir Zukril dan juga Nenek. Setelah beberapa menit menangis dalam pelukan Ibu di kamarku, rasanya hati ini sedikit lebih tenang walau sebenarnya tidak mengurangi kadar rasa sakit di hatiku.


Tapi aku sudah mulai berdamai dengan keadaan. Walau bagaimanapun yang sudah terjadi biarlah terjadi, semua ini sudah jalan hidup yang ditulis Tuhan. Aku hanya bisa sabar dalam menjalaninya. Dan kembali lagi ini adalah keputusan yang aku ambil.


Ibu menyuruhku untuk membawa nampan berisi makanan ringan ke ruang tamu tempat Presdir Zukril dan Nenek berada, yang mana sekarang mereka sedang mengobrol bersama dengan Bapak dan Kanaya. Aku pun berjalan ke ruang tamu membawa beberapa makanan ringan dengan didampingi oleh Ibu yang membawa minuman untuk disuguhkan.


"Silahkan makanan dan minumannya, nak Zu dan Nenek." Kata Ibu dengan ramah sambil menghidangkan makanan dan minuman itu di atas meja.


"Ah, terima kasih. Ini merepotkan sekali."Ujar Nenek.


"Tidak kok, Nek." Balas Ibu.


Di tengah kehangatan percakapan Bapak, Ibu dan juga Nenek. Aku malah menjadi tidak nyaman saat Presdir Zukril terus menatapku dengan tajam, ia tak henti-hentinya melontarkan tatapan menyeramkan itu padaku. Itu membuatku sangat tidak nyaman, jadi aku memutuskan untuk pergi saja dari sana. Tapi tiba-tiba Nenek menghentikan aku.


"Mau kemana cucuku? Marilah duduk di samping Nenek, sudah lama kita tidak bertemu."


Entah mengapa ucapan Nenek begitu mempengaruhi emosiku. Aku langsung menghampiri Nenek dan memeluknya sambil terisak. "Ah, Nenek. Hiks...."


"Sssstttt.... Sudah-sudah sayang, Nenek mengerti perasaanmu. Cucu kesayangan Nenek jangan menangis, nanti Nenek juga ikut sedih loh." Ucap Nenek sambil terus memelukku dan sesekali mengecupi pipiku sebagai bentuk dari kasih sayangnya.


Tapi entahlah, aku merasa sulit sekali untuk menghentikan isakan ini. Kabut kesedihan begitu pekat menyelimuti hatiku, sehingga tidak ada setitik pun pelangi yang mampu menabur bahagia di dalamnya. Oh, Nenek. Aku sedih telah kehilangan cinta dari cucumu.

__ADS_1


__ADS_2