Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Keadaan Bisnis


__ADS_3

Setelah lama berbincang-bincang membahas tentang rencana pernikahan Presdir Zukril dan Kanaya, akhirnya mereka pamit untuk pulang. Aku tidak tahu harus sedih ataukah bahagia mendengar kabar pernikahan sahabatku. Perasaan di hatiku begitu campur aduk.


Di satu sisi aku bahagia karena Kanaya sahabatku akan menikah dan anak yang ia kandung akan mempunyai Ayah, tapi disisi lain aku sedih karena telah kehilangan kekasih yang amat aku cinta. Sakit.... Sungguh sakit sekali hati ini, entah harus bagaimana lagi cara yang harus aku lakukan agar rasa sakit hati ini lenyap.


"Cucuku, Talia. Sayang, jaga dirimu baik-baik ya. Nenek pasti akan sangat merindukanmu. Kamu juga jangan sungkan-sungkan apabila ingin mengunjungi Nenek ke rumah, pintu rumah Nenek terbuka lebar untukmu sayang." Aku tersenyum mendengar perkataan Nenek. Setidaknya walau aku kehilangan cinta Presdir Zukril tapi aku tetap memiliki cinta dari Nenek, itu saja sudah cukup.


Ku peluk Nenek dengan erat, rasanya nyaman sekali saat memeluk Nenek. Gelisah dalam hatiku sedikit terkikis. "Nenek juga jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu banyak minum atau makan yang manis-manis, jaga pola makan dan jangan lupa minum obat tepat waktu." Nenek mengelus kepalaku dengan lembut dan tatapan sayang.


Kemudian Nenek melangkah dan menghampiri Kanaya. "Nak, kamu juga jaga dirimu baik-baik ya. Pastikan bayimu itu lahir dengan sehat dan selamat." Ujar Nenek kemudian melangkah pergi masuk ke dalam mobil. Sementara itu Presdir Zukril hanya menatap dari balik kaca mobil.


Entah apa atau siapa yang ia lihat. Aku kah atau Kanaya? Bukan aku geer atau apa, pasalnya di luar rumah hanya ada aku dan Kanaya, Ibu dan Bapak sudah dari tadi masuk ke dalam rumah. Jadi dapat dipastikan antara aku atau Kanaya yang dari tadi diperhatikan Presdir Zukril. Lalu tak lama kemudian Presdir Zukril mengalihkan pandangannya ke depan dan langsung melajukan mobilnya.


"Talia, aku sangat senang sekali. Semua kekhawatiran yang aku rasakan selama ini sudah hilang, sekarang aku tidak perlu takut lagi kalau anakku ini akan kehilangan sosok Ayah. Setelah anak ini lahir, aku dan Zu akan melangsungkan pernikahan. Semua ini berkat dari bantuan kamu, terima kasih banyak." Aku hanya tersenyum sebagai tanggapan.


Sungguh aku tidak tahu lagi harus menjawab apa. Kondisi hatiku sedang tidak baik-baik saja, rasanya tidak sanggup lagi untuk berucap untuk saat ini. Jadi aku memilih untuk masuk ke kamarku dan meninggalkan Kanaya sendiri di luar. Dia sedang bahagia sekarang, jadi tidak akan bahaya untuk meninggalkannya sendirian di luar rumah.


Berbeda dengan diriku yang sedang sakit hati ini, bahkan mungkin aku bisa melakukan b*ndir kapan saja saat aku sedang benar-benar depresi. Sebenarnya ini adalah sakit hati yang aku buat sendiri, jujur saja aku sebenarnya menyesal telah membuat rencana dan kesepakatan ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua telah terjadi.


Aku sekarang hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan Kanaya dan Presdir Zukril, juga tak lupa agar hatiku ini lapang dan merelakan mereka hidup bahagia bersama walau nantinya dalam penderitaan hidupku.

__ADS_1


***


Pagi ini aku dapat telpon dari Andin kalau ada masalah dengan perkembangan bisnis yang sedang aku jalani ini. Tiba-tiba pendapatan ambruk dan bisnisku kalah telak oleh bisnis-bisnis yang lain.


Aku begitu khawatir dengan bisnis yang telah aku jalani bertahun-tahun ini. Persaingan pasar memang tidak pernah bisa kita tebak, maka dari itu dalam berbisnis jangan sampai kita lalai sedikit saja karena kita tidak pernah tahu bagaimana strategi lawan dalam perkembangan bisnisnya.


Setelah berjam-jam, akhirnya aku sampai juga di toko pusatku. Dengan cepat aku langsung menghampiri Andin dan menyuruhnya untuk masuk ke ruangan kerjaku. "Andin, tolong jelaskan kembali masalahnya."


"Begini, Nyonya. Produk kita benar-benar sudah ketinggalan jauh dengan perkembangan pasar, bahkan banyak yang sudah mengeluarkan produk elektronik baru yang lebih canggih dan tahan lama, sehingga lambat laun produk kita sudah mulai ditinggalkan oleh konsumen." Jelas Andin. "Bahkan pendapatan kita pada tahun ini benar-benar sangat merosot dibandingkan dengan pendapatan tahun lalu. Kita harus segera memulihkan kondisi keuangan kita, Nyonya. Kalau tidak, bisnis yang kita jalani ini akan benar-benar padam."


Aku menghela nafas berat mendengar penjelasan Andin. Sungguh aku benar-benar sangat khawatir dengan bisnisku ini, "apakah kamu punya ide untuk mempertahankan bisnis kita ini agar tetap terus berjalan?"


"Jalan satu-satunya kita harus membuat produk baru, Nyonya. Juga kita harus kembali mendapatkan dukungan dari perusahaan Tuan Zukril untuk perkembangan bisnis kita ini. Kebetulan saya sudah membahas hal ini kepada sekretarisnya Tuan Zukril."


"Maaf, Nyonya. Minggu lalu saya sudah mencoba untuk menghubungi Nyonya, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya sengaja mengambil langkah ini tanpa Nyonya, saya mohon maaf atas kelancangan saya ini." Andin menunduk karena merasa bersalah kepadaku.


Sebenarnya aku tidak masalah dengan keputusan Andin, dia sudah mengambil keputusan yang benar dan melakukan pekerjaan dengan bagus. Tapi kalau aku dan perusahaan Presdir Zukril menjalin kerja sama lagi, otomatis kita akan sering bertemu dan misi untuk melupakan Presdir Zukril akan gagal.


Tapi aku juga membutuhkan bantuannya untuk mempertahankan bisnisku ini. Ah, aku sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk tetap menjalin kerja sama dengan perusahaan Presdir Zukril. Terserahlah dengan perasaanku ini. Aku tidak boleh egois, aku juga harus tetap memikirkan bisnis dan para karyawanku.


"Kapan kita akan melakukan pertemuan dengan para kolega perusahaan Presdir Zukril?" Tanyaku kepada Andin.


"Akan saya jadwalkan besok sore, Nyonya."


"Besok sore? Kenapa mendadak sekali?!"


"Ma-maaf, Nyonya. Saya kan sudah sempat membicarakan ini dengan sekretaris Tuan Zukril, beliau berkata kalau jadwal kosong Tuan Zukril hanya besok."


Aku menghela nafas panjang mendengarnya. Yaudahlah, mau bagaimana lagi kan. Aku pasrah saja dan ikut jadwal yang telah dibuat sekretaris Presdir Zukril itu. Semoga saja dengan adanya kerja sama baru ini membuat bisnisnya semakin maju dan memulihkan kerugian yang selama ini terjadi.


***


Besoknya pada sore hari, aku duduk di Cafe yang telah dijanjikan sekretaris Presdir Zukril. Tapi hampir satu jam aku menunggu, tapi batang hidung sekretaris maupun Presdir Zukril tak kunjung kelihatan.


Aku mulai kesal karena merasa dipermainkan. "Andin, kamu yakin sekretaris itu meminta kita untuk bertemu di sini?"


"Betul, Nyonya. Kemarin sekretaris Presdir Zukril meminta untuk bertemu di sini." Jawab Andin.

__ADS_1


"Tapi mana mereka sekarang? Sudah lama kita menunggu tapi mereka tak kunjung datang juga, sangat tidak profesional!" Kataku gusar.


Sungguh menyebalkan, apakah aku sekarang sedang dipermainkan oleh mereka. Sudah hampir satu jam, tapi mereka tak kunjung datang. Kalo benar mereka mempermainkan aku, hmmm.... Awas saja!


__ADS_2