Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Pesan si Nenek


__ADS_3

Setelah kurang lebih lima jam barulah aku bisa bebas dari kemacetan parah yang membuat ku sesak ini. Aku bernafas lega saat mobil ku sudah berada didepan salah satu toko ku.


Aku langsung saja masuk kedalam, dan salah satu pegawai yang melihat kedatanganku langsung saja menghampiri ku.


"Selamat siang, nyonya. Sudah sejak setahun yang lalu nyonya baru kemari lagi." Sapa Lusi pegawai kepercayaan ku untuk mengurus toko ku disini.


"Iya, Lusi. Dan aku kemari karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada mu."


"Kalau begitu mari nyonya masuk kedalam ruang kerja saja."


Aku dan Lusi memasuki ruangan kerja ku dulu, yang sekarang menjadi ruangan kerja Lusi.


"Ada hal penting apa yang ingin nyonya bicarakan kepada saya?" Tanya Lusi.


"Begini, saya akan menjual toko ini."


"Apa? Kenapa nyonya, apakah karena kinerja saya dan pegawai yang lain kurang bagus menurut nyonya. Ataukah penghasilan dari toko ini kurang bagus, nyonya? Saya janji nyonya akan meningkatkan kinerja dan penjualan dari produk toko ini."


Aku menggeleng kuat. "Tidak seperti itu, Lusi. Aku ingin menjual toko ini karena ingin mengembangkan bisnis kekasih ku, Aldo. Dan masalah pekerjaan mu dan pegawai lain kamu tenang saja, aku akan memperkerjakan kalian dalam bisnis baru kekasih ku itu."


"Tapi saya sudah sangat nyaman bekerja dengan nyonya."


"Lusi, kamu jangan khawatir. Kekasih ku itu sangat baik orangnya, aku yakin kalian akan merasa nyaman dan betah bekerja dengannya. Bahkan pun mungkin kalian akan lebih nyaman dan betah bekerja dengannya dibandingkan dengan ku."


"Lalu bagaimana dengan usaha nyonya?" Tanyanya.


"Ah, Lusi kamu jangan khawatir dengan usaha ku. Anak cabang dari toko ku sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota-kota besar, jadi kamu jangan takut kalau aku akan jatuh miskin." Canda ku yang disusul oleh tawa kami berdua.


Aku langsung memeluk Lusi, pegawai setia yang jujur dan yang selalu bisa aku andalkan. Aku berharap Lusi akan nyaman dan betah bekerja dengan Aldo.


"Kalau begitu aku pamit dulu ya, tolong kamu atur penjualan toko ini. Aku percayakan semuanya pada mu."


Setelah pamit kepada Lusi dan pegawai toko lain, aku langsung melajukan mobil ku untuk mendatangi toko ku yang satu lagi di kota ini.


Tak butuh waktu lama aku pun sampai di toko ku ini. Saat aku akan masuk, tiba-tiba aku melihat seorang nenek pemulung yang sedari tadi duduk memegangi perutnya. Sepertinya dia merasa kelaparan.

__ADS_1


Kebetulan aku ada roti di dalam tasku. "Nenek, ini saya ada roti dan sedikit uang. Tolong nenek terima, ya."


Terlihat nenek pengemis itu menerima uang dan roti yang aku berikan dengan sangat bahagia. "Terimakasih banyak ya, ***."


"Sama-sama, saya permisi ya nek."


Tiba-tiba nenek itu memegang tangan ku. "Ada apa, nek?" Tanya ku bingung.


"Ketika orang yang kamu percaya mendustaimu, mengkhianatimu. Maka yang harus kamu lakukan adalah percaya kepada dirimu sendiri tanpa ragu. Karena hatimu, jiwamu, dan ragamu tidak akan pernah mengkhianatimu." Kata nenek dengan raut wajah yang sulit diartikan yang membuat ku bingung.


Lalu tak berapa lama nenek itu melepaskan tangan ku. "Saya permisi, nek." Aku langsung cepat-cepat masuk ke dalam toko.


Aku bingung apa maksud dari perkataan nenek itu. Ah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya, masih banyak pekerjaan yang harus aku pikirkan dan kerjakan.


***


Malam harinya aku menginap di sebuah hotel, dengan memesan kamar yang hanya untuk satu orang.


Tapi bukannya beristirahat aku malah berbaring di tempat tidur dengan gelisah. Aku masih saja memikirkan perkataan nenek itu.


Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Perkataan nenek itu terus saja terngiang-ngiang di kepalaku.


"Ketika orang yang kamu percaya mendustaimu, mengkhianatimu. Maka yang harus kamu lakukan adalah percaya kepada dirimu sendiri tanpa ragu. Karena hatimu, jiwamu, dan ragamu tidak akan pernah mengkhianatimu."


Ah, sudahlah aku jangan terlalu memikirkan perkataan nenek itu. Mungkin saja dia hanya sedang meracau dan tidak tau apa yang sedang dia katakan itu.


Sudahlah, sekarang lebih baik aku tidur cepat karena besok aku harus mengurus penjualan dua toko ku.


Semoga saja besok dilancarkan dan dimudahkan segala urusanku, Aamiin.


Belum beberapa menit aku menutup mata, tiba-tiba hp ku berbunyi. Ada yang ingin melakukan panggilan suara, dan saat kulihat ternyata itu adalah Aldo.


"Halo sayang." Suara Aldo di seberang sana.


"Halo sayang."

__ADS_1


"Kamu belum tidur?"


"Baru saja aku akan tidur, tapi kamu menghubungi ku."


"Aku mengganggu kamu, ya?"


"Tidak apa-apa, lagipula aku rindu padamu."


Hampir dua jam aku mengobrol dengan Aldo. Saat mendengar suaranya rasanya rasa kantuk dan lelah ku menguap begitu saja, entah terbang kemana.


Apalagi saat mendengar dia tertawa, aku juga langsung ikut tertawa. Tawanya benar-benar bisa menular.


"Aldo, tadi aku bertemu seorang nenek pemulung. Lalu memberikan dia roti dan sedikit uang. Tapi saat aku akan pergi nenek itu menarik tanganku, kemudian mengatakan sesuatu padaku."


"Memangnya nenek itu mengatakan apa?"


"Nenek itu mengatakan 'Ketika orang yang kamu percaya mendustaimu, mengkhianatimu. Maka yang harus kamu lakukan adalah percaya kepada dirimu sendiri tanpa ragu. Karena hatimu, jiwamu, dan ragamu tidak akan pernah mengkhianatimu' begitu katanya, aku benar-benar masih kepikiran dengan perkataan nenek itu. Sampai aku susah tidur."


"Sudah kamu jangan terlalu memikirkan perkataan dari nenek itu, mungkin saja nenek itu hanya berniat mengerjai mu." Katanya yang disusul oleh tawanya di seberang sana.


Aku mendengus kesal mendengar perkataannya, aku berbicara dengan serius tapi dia malah menanggapinya dengan candaan.


"Aku sungguh menyesal menceritakan hal ini kepadamu, kamu tidak bisa mengerti aku."


"Talia sayang maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud membuatmu marah. Aku sungguh minta maaf." Pintanya.


"Kamu tau, perkataan nenek itu seperti sebuah pesan untuk ku. Kalau aku nantinya akan mendapat pengkhianatan dari orang yang sangat aku percaya, tapi siapa?"


"Sudahlah sayang, tidak perlu kamu pikirkan hal itu. Dan juga jangan terlalu percaya dengan hal yang begituan, karena semua itu belum tentu benar."


Aku menghela nafas, jujur saja aku memang tidak ingin memikirkannya. Tapi entah kenapa perkataan dari nenek itu selalu saja membuat aku kepikiran.


Mungkin ini sangat tidak masuk akal kalau nenek itu tau apa yang akan terjadi padaku, dan itu sangat tidak dapat dipercaya. Tapi bukankah aku harus tetap waspada, karena mungkin saja hal-hal seperti itu akan aku alami.


Begitulah akhir obrolan ku dengan Aldo, dia berpesan agar aku tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh nenek itu.

__ADS_1


***


Jangan lupa dukungannya dengan cara like, komen, rate, vote dan Favorit ❤️


__ADS_2