
"Jadi Kanaya itu adalah mantan kekasihmu?" Tanyaku memastikan.
Presdir Zukril mengangguk. "Iya, tapi dia pergi meninggalkanku hanya demi seorang laki-laki yang baru dia kenal."
"Aldo, apakah laki-laki itu adalah Aldo?" Ujarku.
"Siapa Aldo?"
Aku menghela nafas panjang, hatiku begitu sakit saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Aldo.
"Aldo adalah mantan kekasihku, dia mengkhianatiku dan menjalin kasih dengan Kanaya." Jelasku.
Aku melihat raut wajah terkejut Presdir Zukril, dia lalu menatapku dengan tatapan serius.
"Berarti kita memiliki nasib yang sama, Talia. Sama-sama ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi." Katanya.
Terlihat dia tertawa, entahlah apakah itu tawa bahagia atau malah tawa kesedihan. "Tapi aku sudah melupakan perasaanku kepada Kanaya sejak lama, jadi aku sudah tidak peduli lagi dia menjalani hubungan dengan siapapun."
"Tapi dia memiliki hubungan dengan kekasihku, aku tidak rela. Aku akan merebut Aldo kembali." Kataku dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Memangnya apa yang istimewa darinya sehingga kamu begitu mencintainya? Laki-laki tidak setia seperti itu tidak pantas untuk di pertahankan, apalagi untuk diperjuangkan. Kamu adalah perempuan yang baik, ingat! Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitupun juga sebaliknya."
Entahlah Presdir Zukril, apakah aku adalah perempuan baik? Yang pasti aku hanya ingin Aldo kembali kepadaku, tidak peduli seberapa besar dia telah menyakiti hatiku.
Cinta memang aneh, walau luka yang dia torehkan begitu dalam aku tetap saja mencintainya, mengharapkan dirinya untuk kembali.
"Lebih baik kamu pikirkan lagi baik-baik, jangan sampai kamu menyesal setelah kembali bersama dengan laki-laki itu." Ujar Presdir Zukril.
"Aku sudah yakin, kenapa aku harus menyesal?" Kataku.
"Kamu yakin itu cinta, dan bukannya obsesi? Aku takut itu hanya obsesi belaka karena kamu iri kepada Kanaya yang telah berhasil merebut Aldo darimu, dan kamu ingin melampiaskan rasa iri dan kecewamu itu dengan cara merebut Aldo kembali darinya."
Aku tersentak mendengar penuturan dari Presdir Zukril. Benar juga, apakah aku masih benar-benar cinta kepada Aldo, aku takut yang Presdir Zukril katakan itu benar.
Ini cinta apa hanya obsesi? Ah, aku sangat bingung dengan perasaanku sekarang ini, aku jadi plin plan seperti ini.
__ADS_1
Melihat aku terdiam, Presdir Zukril menyunggingkan senyumnya. "Pikirkan lagi Talia, karena keputusan yang kamu ambil hari ini akan menentukan masa depanmu. Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat kamu mengambil keputusan tersebut. Ingat! Sekali tidak setia tetap tidak akan setia, dan akan terus begitu."
Aku menatap Presdir Zukril dengan sendu, keputusan apa yang harus aku ambil sekarang? Aku begitu bingung, merasa terjebak dengan situasi ini. Aku benci menjadi lemah seperti ini.
"Aku tau pasti kamu sangat bingung sekarang ini, kalau begitu kita buat kesepakatan saja."
"Kesepakatan apa?" Tanyaku bingung.
"Bagaimana kalau kita pura-pura menjalin kasih, lalu kita berdua mengajak Kanaya dan Aldo untuk melakukan double date."
"Double date? Kenapa kita harus melakukan itu, memangnya apa tujuannya?"
"Kamu kan masih bingung, apakah kamu masih cinta atau tidak kepada laki-laki brengsek bernama Aldo itu. Jadi kita buat rencana yaitu membuat kita semakin dekat dengan mereka, minimal berteman. Dengan begitu kamu lebih leluasa untuk mendekati Aldo, dan saat itu juga kamu bisa merasakan sendiri perasaan kamu kepada Aldo. Apakah kamu masih mencintai dirinya atau hanya sebuah obsesi belaka."
Aku tidak tau harus setuju atau tidak dengan rencana Presdir Zukril, tapi aku juga ternyata penasaran dengan perasaanku saat ini.
Apakah aku menyetujui rencana dari Presdir Zukril saja? Mungkin dengan begini hidupku akan lebih tenang.
Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika rencana ini berjalan. Yang pertama, kalau aku masih mencintai Aldo dan berhasil merebutnya dari Kanaya, mungkin aku akan sangat bahagia melanjutkan hubungan dengan Aldo. Tapi kalau sebaliknya dan ternyata semua ini hanya obsesi seperti kata Presdir Zukril, mungkin aku akan mundur dan merelakan Aldo bersama dengan Kanaya.
"Baiklah, aku setuju. Lalu kapan kita akan mulai menjalankan rencana ini?" Tanya Talia.
"Mungkin nanti saja, karena besok aku akan mengajakmu dan Nenek jalan-jalan. Bagaimana kamu mau ikut kan?"
Aku mengangguk pertanda setuju. Entah mengapa aku seperti tidak bisa menolak permintaan Presdir Zukril.
***
Malam harinya aku sedang sibuk mengerjakan pekerjaanku, hari ini benar-benar sangat melelahkan.
Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku malam ini, soalnya besok akukan akan jalan-jalan bersama dengan Nenek dan Presdir Zukril.
Senang rasanya karena aku sudah dianggap keluarga sendiri oleh Nenek, bahkan cinta yang Nenek berikan kepadaku begitu tulus. Aku dapat merasakan ketulusan itu.
Tiba-tiba hpku berbunyi, saat kulihat ternyata itu telpon dari Nenek. "Panjang umur Nenek, Aamiin…." Ujarku.
__ADS_1
"Hallo, Nek?"
"Hallo Talia sayang, apa kabar?" Tanya Nenek di sebrang sana.
"Aku baik, Nek. Nenek apa kabar, sudah minum obat belum?" Tanyaku.
"Nenek baik dan sudah minum obat. Nenek senang kalau kamu setuju untuk jalan-jalan bersama Nenek dan Zu besok, kamu jangan tidur terlalu malam ya takutnya telat bangun, soalnya kita akan berangkat pagi-pagi. Dan nanti Nenek akan menyuruh Zu untuk menjemput kamu."
"Iya, Nek. Nenek juga jangan tidur terlalu malam ya, jangan telat makan juga." Kataku.
"Siap sayangku. Yasudah, Nenek tutup dulu teleponnya. Jaga dirimu baik-baik ya sayang."
"Iya, Nek." Lalu Nenek mematikan teleponnya.
Senang sekali rasanya diperlakukan istimewa seperti ini oleh Nenek, bahkan Nenek sudah menganggap aku sebagai cucunya sendiri.
Satu jam kemudian….
Akhirnya aku sudah menyelesaikan pekerjaanku malam ini, dan besok aku tidak perlu khawatir dengan masalah pekerjaanku yang menumpuk.
Akupun langsung menaiki tempat tidur, lalu berbaring dengan nyaman. "Senangnya, besok aku akan jalan-jalan. Hehehe."
Kira-kira besok aku akan diajak jalan-jalan kemana ya? Apakah aku akan diajak ke sebuah pulau yang indah dengan suasana yang sangat romantis, lalu dengan senyum manisnya Presdir Zukril melamar ku dan memasang cicin dijari manis ku.
Aku tersentak kaget dengan pikiranku sendiri. "Apa-apaan aku ini, kok bisa berfikiran seperti itu. Aduh, jangan begini dong."
Aku jadi malu sendiri dengan pikiran kurang ajar ku ini. Jangan mimpi Talia, mana mungkin laki-laki setampan dan sebaik Presdir Zukril menyukaimu.
Tidak mungkin kan kalau seorang Presdir perusahaan besar menyukai perempuan biasa-biasa seperti ku, apalagi aku tidak se good looking mantannya. Kanaya.
Aku hanya bisa bermimpi untuk bisa mendapatkan seorang laki-laki seperti Presdir Zukril. Ingat Talia, Presdir Zukril itu ibaratkan seperti pangeran yang rupawan. Dan dirimu hanyalah seorang Upik abu. Terima tidak terima, suka tidak suka, aku harus menerima kenyataan itu. Hiks.
***
Jangan lupa dukung karya ini dengan cara like, komen, rate, vote dan Favorit. Terimakasih 😇
__ADS_1