Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Kenapa harus dia?


__ADS_3

Sekarang aku sedang bersama Aldo dengan menaiki mobilnya, menuju ke sebuah tempat dimana wanita yang telah merebut Aldo dariku itu berada.


Aku ingin melihat seperti apa wanita itu, hingga Aldo tega meninggalkan aku demi dia. Dan si pengkhianat Aldo ini tampak tidak merasa bersalah sama sekali kepadaku.


"Ingat Talia, jangan pernah kamu mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti hatinya. Dan juga jangan sampai kamu mengatakan kalau kamu adalah mantan kekasihku, ingat itu baik-baik!"


Cih! Aku akan mengatakannya Aldo, bahkan aku akan menceritakan semuanya kepada wanita itu. Kamu adalah seorang laki-laki tidak tau diri!


Akhirnya mobil pun berhenti disebuah toko pakaian.


Tunggu dulu. Bukankah ini adalah toko pakaian Kanaya sahabatku, apakah wanita yang merebut Aldo dariku adalah Kanaya?


Ah, tidak mungkin Kanaya orangnya. Kanaya adalah sahabat terbaikku, dia sahabat setia. Tidak mungkin dia wanita itu, wanita perebut kekasih orang. Mungkin saja wanita itu kebetulan sedang membeli pakaian di toko sahabatku Kanaya.


"Kita sudah sampai, ingat apa pesanku!" Tegasnya.


Aku turun dari mobil, lalu melangkahkan kakiku mengikuti Aldo. Seper sekian detik lagi aku akan segera menemui wanita itu.


Aldo adalah milikku, dan dia hanya milikku. Tidak boleh ada yang merebutnya dariku!


Aku melihat dari kejauhan seorang wanita seperti sedang memilih-milih pakaian, dan aku merasa langkah Aldo menuju ke seorang wanita yang aku lihat itu.


Dan benar saja dugaan ku, Aldo menepuk bahu wanita itu. "Sayang." Ucap Aldo dengan lembut.


Lalu wanita itu berbalik badan, dan….


"Kanaya?" Aku terkejut mengetahui bahwa wanita itu adalah benar-benar Kanaya, sahabat baikku.


Aku merasa tubuhku bergetar hebat, mataku terasa panas dan kepalaku pusing.


Tuhan, cobaan apa ini? Kenapa harus Kanaya?


"Talia?" Kata Kanaya dengan raut wajah yang sangat bahagia bertemu denganku.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Aldo dengan raut wajah bingung.


"Tentu saja kami sudah saling kenal, dia Talia sahabat terbaikku." Kanaya langsung memelukku erat.


Kanaya memegang tanganku. "Talia, aku minta maaf karena pulang tidak mengabari mu. Tadinya aku akan memberikan kejutan untukmu."


"Iya, Kanaya. Kamu sukses membuatku terkejut." Kataku dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


"Talia, wajahmu terlihat pucat sekali. Apa kamu sedang sakit?" Tanyanya dengan nada khawatir.


Iya aku memang sedang sakit, lebih tepatnya aku sedang sakit hati!


Bibirku terasa kaku, hatiku begitu pilu. Mengapa harus kamu orangnya Kanaya, sahabat karibku. Hatiku benar-benar terasa sangat sakit, seperti tertusuk ribuan pisau yang sakitnya menjalar ke seluruh dadaku.


Aku langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Kanaya, meninggalkan Kanaya dan Aldo.


Walau Kanaya berteriak memanggilku, aku terus saja pergi melangkahkan kakiku tanpa menggubris teriakan Kanaya.


Hatiku sangat sakit, sungguh sakit, benar-benar sangat sakit. Entah kata-kata apa lagi yang dapat menggambarkan sesakit apa hatiku ini sekarang.


Dada ini terasa sangat sesak, aku beberapa kali memukul-mukul dadaku untuk menghilangkan rasa sakit yang memenuhi hatiku ini. Tapi percuma saja, rasa sakitnya tidak mau hilang.


Air mataku sudah mengalir deras, menunjukkan betapa hancurnya hatiku saat ini. Mungkin tidak akan sampai sesakit ini kalau wanita yang membuat Aldo berpaling dariku adalah wanita lain, tapi ini adalah Kanaya, orang yang sangat aku sayangi dan yang aku anggap sebagai saudaraku sendiri.


Aku terus saja melangkahkan kakiku ini, mengikuti jalan yang entah akan membawaku kemana. Yang pasti aku ingin terus berjalan dan berjalan, menjauh dari semua orang.


Kilatan petir terdengar menggelegar di atas langit, tak lama hujan pun turun. Walau pakaianku mulai basah kuyup karena tertimpa oleh air hujan yang mengalir begitu deras, aku tetap terus berjalan.


Rasa dingin mulai menyerang, tubuhku mulai menggigil kedinginan. Kepalaku terasa sangat pusing, tubuhku sangat lemas, pandanganku mulai kabur, dan semua di sekelilingku terlihat mulai gelap.


***


"Bagaimana keadaannya, Zu?" Aku mendengar suara nenek dengan nada khawatir.


"Masih belum sadar." Kata Presdir Zukril.


Tunggu dulu, mengapa aku bisa bersama dengan nenek dan Presdir Zukril. Bukankah aku tadinya sedang berjalan dijalanan dan dibawah guyuran hujan.


"Lia, kenapa kamu bisa begini nak." Terdengar nenek mulai terisak.


"Aku menemukannya tergeletak di jalan nek, saat aku akan berangkat ke luar kota." Kata Presdir Zukril.


"Zu, nenek mohon batalkan niatmu untuk ke luar kota. Sekarang temanilah Lia, dia sedang membutuhkan seseorang di sisinya."


"Maksud nenek?" Tanya Presdir Zukril.


"Lihat wajahnya, terlihat raut kesedihan di sana. Ini yang nenek khawatirkan, kasihan sekali kamu Lia." Ujar nenek sambil mengelus kepalaku.


"Memangnya, apa yang terjadi kepadanya?" Tanya Presdir Zukril.

__ADS_1


Tapi aku sama sekali tidak mendengar jawaban dari nenek.


Aku dapat mendengar semua pembicaraan mereka, tapi entah kenapa mataku enggan untuk terbuka dulu. Aku merasakan begitu nyaman saat ada tangan yang mengusap lembut tangan ku.


Tangan yang kurasakan adalah tangan kekar, namun begitu lembut saat tangan itu menyentuh tanganku.


"Kamu ini sebenarnya kenapa, Talia. Aku sungguh sangat khawatir dengan keadaanmu sekarang." Kata Presdir Zukril dengan nada suara yang entah kenapa terdengar sedih.


Namun, aku hanya bisa diam sambil memejamkan mataku. Rasanya aku sangat lelah, sampai aku mulai terhanyut ke dalam mimpi.


***


Perlahan aku mulai membuka mata saat aku merasakan dahiku terasa dingin dan basah.


Saat mataku mulai terbuka dengan sempurna, aku melihat Presdir Zukril dengan telaten sedang mengompres dahiku.


"Talia, kamu sudah siuman?" Ujar Presdir Zukril saat menyadari kalau aku sudah sadar.


Ingin aku menjawabnya, tapi entah kenapa bibirku terasa kaku. "Kamu jangan mencoba untuk berusaha bergerak dulu, ya. Sebentar aku ambilkan pengecek suhu tubuh." Berlalu.


Presdir Zukril kembali dengan membawa sebuah benda kecil, lalu benda kecil itu diselipkan di sekitar ketiak ku.


Baru aku menyadari kalau aku sedang mengenakan sebuah pakaian tidur, dan baru aku sadari kalau aku tidak mengenakan kerudung. Walau aku masih mengenakan dalaman kerudung.


Aku mulai memaksakan diri untuk bicara. "Uh." Dan aku hanya mampu mengucapkan itu.


Ada apa ini, kok aku susah sekali untuk bicara?


"Kalau mau bicara pelan-pelan saja, Talia. Kamu tidak kenapa-kenapa, jangan panik ya. Coba bicara pelan-pelan saja."


"A-aku a-da di-mana?" Dan akhirnya aku dapat bicara walau terdengar masih lemah dan kata-kata yang terbata-bata.


"Kamu berada di kamarku, Talia. Saat aku ada urusan bisnis dan dalam perjalanan menuju ke luar kota, tiba-tiba dijalan aku melihatmu tergeletak di jalan. Awalnya aku tidak tau itu dirimu, dan aku langsung panik saat melihat bahwa kamu yang pingsan itu. Dengan cepat aku langsung membawamu ke rumah nenek dan menelpon dokter." Jelasnya.


Aku hanya mengangguk lemah. Entahlah, sekarang ini aku sedang tidak mau memikirkan hal-hal yang membuat aku jadi terbebani.


Termasuk memikirkan Aldo.


***


Jangan lupa like, komen, rate, vote, dan Favorit ya. Terimakasih 💞❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2