
Alarm hp berbunyi, membangunkan aku yang sedang terlelap tidur. Dengan malas ku buka mata dengan perlahan.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, aku berguling-guling di tempat tidur dengan nyaman. Lalu bengong sebentar.
Tiba-tiba aku teringat kalau hari ini aku akan pergi jalan-jalan bersama nenek dan Presdir Zukril. Aku menepuk dahiku, bagaimana aku bisa lupa padahal waktu malam aku benar-benar sudah tidak sabar.
Dengan cepat aku beranjak dari tempat tidur, dan berlari ke kamar mandi. Selesai mandi aku langsung bergegas memakai baju dan make up seadanya.
Selesai make up aku langsung mengambil tas mungilku dan berlari keluar rumah. Saat membuka pintu aku terkejut melihat Presdir Zukril sudah ada didepan pintu rumahku.
"Loh, kamu sejak kapan berdiri disini?" Tanyaku.
"Sejak matahari masih mengintip dan malu-malu untuk keluar." Jawabnya sambil tersenyum.
"What…. Maksudnya kamu satang pada saat pagi-pagi buta?"
"Iya, aku datang kesini jam lima pagi." Katanya.
Aku terkejut mendengar perkataan Presdir Zukril, dia datang jam lima pagi, sedangkan sekarang sudah jam setengah tujuh. Ya ampun, kasian sekali dia sudah menunggu lama.
"Kok tidak mengetuk pintu atau menekan bel, jadi aku kan gak tau kalau kamu sudah menungguku disini." Kataku.
"Tidak apa-apa, aku orangnya sabaran kok. Hehehe." Ujarnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Apa-apaan dia ini, kalau mau caper lihat-lihat situasi dulu dong. Tapi di lihat-lihat dia tampan juga dengan setelan pakaian santai seperti itu. Ups….
Didalam mobil aku dan Presdir Zukril berbincang-bincang ringan, tapi konsentrasi Presdir Zukril tidak lepas dari jalan. Pandangan tetap fokus melihat kedepan.
"Nenek kemana, kok tidak ikut?" Tanyaku yang baru ingat nenek tidak ikut menjemputku ke rumah.
"Nenek sudah duluan bersama dengan supir dan para pelayan." Katanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tidak ikut bersama kita saja, kenapa malah duluan?" Tanyaku.
"Kalau nenek bersama kita tidak ada waktu untuk kita jalan berdua dong."
"Maksudnya?" Tanyaku kebingungan dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Presdir Zukril.
"Aku sengaja nenek di suruh jalan duluan, agar kita mendapatkan waktu untuk jalan-jalan berdua."
Tunggu dulu, aku tidak salah dengar kan? Seorang Presdir Zukril ingin jalan berdua denganku. Apakah dia bercanda?
"Kamu kenapa? Seperti tidak percaya."
__ADS_1
Aku mendehem untuk mengusir kegugupan yang mulai menyerang diriku ini. "Ya, aku memang tidak percaya sih. Habisnya seorang Presdir perusahaan besar seperti kamu mau-maunya jalan dengan pengusaha biasa seperti diriku ini, kan cukup aneh juga."
"Hahaha…. Jadi maksud kamu ada maksud terselubung dari aku mengajak kamu jalan-jalan berdua, begitu?" Tanyanya.
"Eh, emmmm…. Bukan begitu, maksudnya itu…."
"Sudahlah, kamu jangan berfikir macam-macam. Kita adalah teman, mana mungkin aku berbuat yang enggak-enggak sama kamu."
Teman? Iya, aku dan Presdir Zukril hanyalah teman, jadi aku seharusnya tidak boleh baper dengan perlakuan baik Presdir Zukril kepadaku. Ingat Talia, kamu bukanlah orang yang istimewa di hati Presdir Zukril. Kamu harus tau diri mulai sekarang.
"Kamu sudah sarapan belum?" Tanya Presdir Zukril.
Tapi aku hanya bengong saja. Aku baru tersadar saat Presdir Zukril menepuk pundak ku. "Eh…. A-ada apa?"
"Loh, kamu kok malah bengong. Aku tanya, kamu sudah sarapan belum?" Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya.
"Kalau begitu kita sarapan dulu, kebetulan di daerah sini ada warteg." Katanya.
Dan benar saja, tidak lama kemudian mobil Presdir Zukril berhenti didepan sebuah warteg dipinggir jalan.
"Mari turun, kita sarapan dulu." Katanya sambil keluar duluan dari mobil. Lalu aku turun dan mengikutinya masuk kedalam warteg.
Saat didalam warteg, aku melihat banyak sekali menu-menu makanan yang dijajakan. Diantaranya ada tempe orek, telur balado, tongkol balado, sayur sup, ayam goreng, tumis aneka sayuran, perkedel kentang, balado terong, tumis usus, semur jengkol, kentang balado, ikan kembung, dan masih banyak lagi.
"Kamu mau pesan makanan apa?" Tanya Presdir Zukril.
"Eemm, aku mau…." Mikir sebentar sambil lihat-lihat menu yang ada di etalase kaca. "Aku mau tempe orek, ayam goreng, terong balado, tumis usus, sama jengkol balado." Kataku sambil menunjuk semua makanan yang aku sebutkan.
"Banyak amat, emangnya bakalan habis makanan segitu banyaknya?" Tanya Presdir Zukril.
"Iya, soalnya aku lagi laper banget." Kataku sambil menepuk perutku yang sudah keroncongan.
"Yakin bakal habis?" Tanyanya lagi.
"Ya, kalau gak habis tinggal bungkus aja sih, apa susahnya."
"Yaudah deh, terserah kamu. Cewek selalu benar." Akhirnya menyerah.
***
Selesai makan, aku dan Presdir Zukril langsung melanjutkan perjalanan. "Kita mau kemana?" Tanyaku.
"Liburan."
__ADS_1
"Iya aku tau, tapi kita akan liburan kemana?"
"Ada deh, ke suatu tempat yang pasti kamu bakalan suka." Katanya yang malah membuat aku semakin penasaran.
"Ih…. Yang bener dong jawabnya, kita mau kemana?" Desakku karena kepo.
"Secret. Mendingan kamu duduk manis aja, nikmati perjalanannya. Aku ingin memberi kamu kejutan, jadi jangan banyak tanya ya."
"Kejutan apa? Kok aku jadi nambah penasaran."
"Lah, kok nanya kejutan apa. Kalo aku sebutin nanti bukan kejutan lagi dong. Udah diem dulu." Tanya Presdir Zukril yang sudah mulai gemes dengan sikapku, hehehe.
Aku benar-benar penasaran tentang kejutan yang akan diberikan Presdir Zukril kepadaku. Dan juga dalam rangka apa dia memberikan kejutan kepadaku?
"Katanya mau ngajak aku jalan-jalan." Ujarku yang sebenarnya dengan nada suara yang kecil, tapi rupanya Presdir Zukril masih mendengarnya.
"Oh iya, aku kan mau ngajak kamu jalan-jalan dulu. Kalau begitu mari kita jalan-jalan dulu sebelum ke tempat tujuan."
"Mau jalan-jalan kemana?"
"Kamu maunya jalan-jalan ketempat yang seperti apa?" Tanyanya.
Aku berfikir sebentar. Sebenarnya aku ingin jalan-jalan kesebuah tempat yang sangat romantis, kebetulan kan aku sedang jalan berdua dengan Presdir Zukril. Tapi aku takutnya Presdir Zukril malah berfikir macam-macam tentang aku.
"Jadinya mau jalan-jalan ketempat seperti apa?" Tanya Presdir Zukril.
"Aku maunya ketempat yang seru, yang banyak permainannya gitu." Kataku.
"Dih, udah gede masih aja suka main." Ledeknya sambil mencubit pipiku.
"Aduh…. Emangnya kalau sudah gede gak boleh main apa?"
"Boleh sih, tapi jangan sampai mainin perasaan orang." Katanya.
"Siapa juga yang mainin perasaan orang, ada juga orang yang mainin perasaan aku."
"Curhat nih ceritanya." Ledeknya sambil tertawa, yang membuat aku jadi sebal.
"Ih…. Nyebelin banget nih orang, nyesel deh setuju ikut liburan."
Aku melihat Presdir Zukril langsung melihat kearah ku. Tapi bukannya minta maaf dia malah meledekku dengan menjulurkan lidahnya.
Refleks aku langsung memukul-mukul tangan Presdir Zukril, dia jadi tertawa terbahak melihat tingkahku ini. Karena jengkel malah ditertawakan, aku langsung mencubiti pinggangnya.
__ADS_1
Dia langsung menghindari cubitan dariku. Karena bukannya merasa sakit, dia malah merasa kegelian dengan serangan cubitanku.