Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 1


__ADS_3

Perjodohan. Kata yang agak membosankan untuk didengar.


"Seperti zaman Siti Nurbaya saja."


Begitulah celetukan yang keluar dari mulut gadis bermata hazel bernama Kyla Fizeta ini saat ibunya terus mendesaknya untuk menikah. Usianya baru menginjak sembilan belas tahun. Masih sangat muda untuk menikah, bukan?


Sayang, mau tidak mau, anak tunggal dari keluarga kaya ini harus menjadi alat bisnis ayahnya. Kalau tidak, mereka bisa-bisa berada di ambang kebangkrutan.


"Apa yang salah dari perjodohan?"


Gadis itu cemberut mendengar sanggahan dari ibunya.


"Dia itu tampan, anak orang kaya dan ternama, sopan, dan baik hatinya," jelas ibu Kyla; Salma.


"Baik hati? Ibu tidak tahu apa yang dilakukannya, Bu."


"Sudah, jangan membantah! Ibu tahu dia orangnya seperti apa."


"Bu, Kyla yang tahu siapa dia. Dia itu arogan, dia—"


"Habiskan makananmu dulu, Kyla!" imbuh Salma.


Kyla menunduk. Ia menggenggam garpu dan pisaunya kuat-kuat. Pikirannya yang berkecamuk dan menolak membuatnya tak sadar bahwa daging di piringnya telah menjadi korban emosinya.


Dasar, senior menyebalkan! batin Kyla kesal.

__ADS_1


***


Pukul satu siang, seorang pria tengah menyesap segelas kopi hitam sembari duduk di pelataran sudut kafe. Meja di depannya berisi tumpukan-tumpukan kertas yang berlogo universitas tempatnya berkuliah. Ia tidak peduli lagi pada beberapa lembar kertas yang terbawa angin ke sana kemari. Kopinya bahkan sudah mulai dingin, padahal baru sepuluh menit ia berada di sini.


Pria itu memijat pelipisnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya tidak sebanding dengan waktu yang ia miliki untuk mengerjakannya.


'Drrt!'


Ia melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Matanya merotasi saat melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo, Ayah."


"Caesar, apa kamu sudah menemui gadis yang Ayah ceritakan?"


"Kyla Fizeta. Untuk apa Caesar mencari nama itu? Menikah itu bukan karena paksaan, Yah," bantahnya.


"Lalu, apa kamu tidak mau menjadi pewaris Leogarda Company?"


Pria berumur 22 tahun itu memejamkan matanya. Ia tidak bisa menyangkal ini, tapi ia juga tidak bisa menerima syarat aneh bin konyol ayahnya itu.


"Kamu pasti mau meneruskan Ayah menjadi CEO, kan?"


"Iya, Ayah," jawabnya pelan.


"Kalau begitu, terima perjodohan ini. Kyla itu putri dari keluarga ternama."

__ADS_1


"Aku tidak tahu siapa Kyla, Yah. Bahkan, di kampus dia tidak setenar yang sering ayah bilang," sanggah Caesar.


"Tidak apa-apa. Ayah yakin, kamu pasti akan menyukainya nanti."


Caesar menggaruk kepalanya asal-asalan. Tatanan rambutnya yang lembut dan agak pirang menjadi berantakan sekarang. Ia tidak tahu dengan kata-kata apalagi ia bisa meyakinkan orangtuanya ini.


"Yah, Caesar memang jomblo. Tapi, bukan berarti harus dicarikan pacar juga, dong, Yah," protes Caesar.


Ia turun dari kursinya dan berjongkok di lantai. Tangannya mengais kertas-kertasnya yang berhamburan dan menyusunnya lagi di atas meja. Tentu, hal itu ia lakukan karena pengunjung kafe yang menegurnya lewat kode mata.


Sialan, Caesar itu tidak pernah suka disuruh-suruh. Tapi, karena hati kerasnya sedang kacau, ia bisa menurunkan ego tersebut. Lucu.


"Gadis yang ayah pilihkan itu tidak jelek. Dia cantik, ayah pernah melihatnya langsung."


"Terus?"


"Ya, tugas kamu cuma menikahinya. Dia sabar dan sayang anak kecil. Cuma dia yang sudah pasti bisa meredakan sifat egoismu ini, Caesar."


"Ayah tidak paham. Caesar tidak mau menikah tanpa cinta."


"Sudahlah. Ayah yakin, kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama jika melihatnya nanti."


Caesar mematung, seiring panggilannya yang diputus sepihak oleh ayahnya; Daniel Leogarda.


"Ayah sok tahu," gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2