
Sesampainya di mobil, Caesar diam saja. Pria itu hanya memakaikan seatbelt Kyla karena ia melihat Kyla kesulitan. Tanpa bicara. Seperti banyak sekali pikiran.
Tak lama, mobil pun melaju cepat. Kyla melirik Caesar yang tampak fokus ke jalanan. Ia tahu persis, tatapan pria itu kosong. Tidak sepenuhnya berada di jalanan yang ramai ini. Menurut Kyla, Caesar bahkan lebih mengerikan jika diam begini.
Gadis itu pun mengambil inisiatif. Ia mulai membuka suara. Mencoba mencairkan suasana yang luar biasa aneh dan canggung.
"Caesar, eh, maksudku Kak. Emm ... Kakak kenapa diam saja? Ada yang dipikirkan?"
Caesar mendengkus kasar. Ia menekan klakson seolah menyalurkan emosi yang tidak dapat ia keluarkan sekarang. Kyla berjengit kaget melihatnya.
"K-kak, jangan marah padaku. Aku takut," lirih Kyla.
Gadis itu benar-benar takut terhadap sikap Caesar yang berubah drastis. Seperti ada yang disembunyikan pria itu. Namun Kyla tak mau menduga dahulu. Caesar orang yang sulit ditebak. Salah langkah sedikit, habislah kau.
Menghadapi Caesar harus penuh kesabaran. Nikmati saja permainannya. Lalu ide busuknya akan terlihat seiring kau mengenalnya. Misterius dan licik.
"Bukan salahmu," jawab Caesar ketus.
"Lantas apa? Sifatmu berubah semenjak keluar dari ruangan tadi."
Caesar menatap Kyla sebentar, lalu fokus ke jalanan lagi.
__ADS_1
"Itu urusanku, bukan urusanmu. Persiapkan saja dirimu menjelang pernikahan kita," balasnya.
"Ayolah, aku siap mendengarkan jika kamu punya masalah. Cerita saja padaku. Dadamu akan terasa lebih lega nanti," bujuk Kyla pelan.
Ia mengakhiri kalimatnya dengan menggigit bibir bawahnya. Takut sekali ia salah bicara pada calon suaminya ini. Terlebih situasinya kurang mendukung.
"Sudah kubilang bukan urusanmu! Sekarang kamu diam dan jangan bertanya lagi!" bentak Caesar kesal.
Kyla meringsut mundur ke jendela mobil. Seolah ditohok tombak, tubuhnya ikut mundur seiring ucapan bernada tinggi yang Caesar lontarkan.
"B-baiklah. Tapi kumohon, jangan membentakku. A-aku takut," lirih Kyla sambil meremas sabuk pengaman yang melintang di dadanya.
Suara helaan napas Caesar terdengar. Tiba-tiba, kemudi mobil ia arahkan dengan kasar ke kanan, hingga roda mobil pun sontak mengikuti tarikan kemudi. Mobil menepi ke pinggir jalan. Untung saja tidak menabrak para pedagang asongan yang berkeliaran di jalan. Mengerikan sekali kalau Caesar sudah kalap begini.
Gadis yang awalnya memalingkan wajah ke sisi jendela itu pun menurut. Ia beralih menatap manik berkilau Caesar. Seolah ada api, mata itu seperti tersulut emosi yang tidak henti-hentinya membakar suasana.
"Pertama, jangan urusi urusanku! Kedua, jangan risaukan masalahku sekalipun kamu terganggu atas itu! Ketiga, bersikap baiklah karena kita akan menikah, persiapkan dirimu," jelas Caesar panjang lebar.
Ia ingin sekali berteriak, meluapkan emosinya di telinga gadis itu bersama kemarahan. Sayangnya, air mata yang tak sengaja menetes di pipi mulus Kyla telah berhasil meluluhkan hati Caesar. Emosinya sontak mereda. Diredamkan oleh mata berkaca-kaca yang amat polos dari seorang gadis cantik nan lugu.
"Sialan!" umpat Caesar.
__ADS_1
Ia menyandarkan punggung ke kursi mobil yang cukup empuk. Helaan napas ia tarik dan keluarkan seiring upayanya menenangkan diri. Gadis di sebelahnya sungguh berhati lembut. Bagaimana bisa ia menyakiti gadis itu nanti? Bukan cinta, tapi perihal rasa kasihan dan gemas yang bercampur aduk.
"Tuh, kan. Kakak marah karena aku, ya? Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu masalahnya, tapi aku berusaha memahami keadaanmu."
Kyla menyeka air matanya sendiri dengan asal saja.
"Iya. Aku hanya butuh waktu menenangkan diri," ucap Caesar.
"Kalau begitu, tidak usah antar aku pulang. Turunkan aku di sini, lalu kamu pulanglah. Istirahat," tutur Kyla.
"Kamu ini gila? Bertemu denganmu itu susah. Menjemputmu juga susah. Kita kan niatnya ingin membeli tas baru untukmu. Mau ke toko sekarang?" tawar Caesar yang berubah luluh.
Kyla menggeleng.
"Tas tidak penting. Istirahatlah di rumahmu. Kita bisa bertemu lain kali," ucap Kyla.
"Hmm ... baiklah kalau itu maumu. Tapi ada syarat lainnya agar aku mau menuruti syaratmu."
Kyla merotasikan mata bulatnya. Caesar selalu banyak alasan.
"Baiklah. Syaratnya apa?" tanya Kyla lagi.
__ADS_1
"Syaratnya ... kamu harus menemaniku istirahat di rumahku," akhir Caesar.
Kyla melongo tak karuan seiring mobil yang sudah tancap gas ke arah rumah pribadi Caesar. Dasar bunglon, pikir Kyla. Kepribadian yang selalu berubah-ubah.