Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 21


__ADS_3

Cukup lama mereka berada di jalanan yang sesak. Riuh oleh knalpot kendaraan yang tidak sabar keluar dari kebisingan ini. Tak terkecuali Caesar. Kemudi mobil sesekali ia pukul.


Untungnya, jarak rumah Caesar sudah dekat. Butuh lima menit hingga mobil itu sampai di depan gerbang berwarna emas itu. Mewah.


Seperti biasa, Caesar memarkirkan mobil dan menyuruh Kyla turun. Kyla menurut saja. Lama terombang-ambing di jalan membuatnya letih tak tertahankan. Langkahnya saja sudah gontai. Tidak ada tenaga.


Ia mengekori Caesar yang masuk ke rumah tanpa memberi salam. Sepi. Layaknya rumah yang kosong. Padahal Kyla tahu, para asisten rumah tangga Caesar banyak. Tapi tetap saja sunyi.


Beginilah gambaran rumah tanpa anak kecil. Sekalipun banyak orangnya, tapi tidak akan riuh dan ramai oleh tawa bahagia. Miris. Apa kehadira Kyla di sini nanti akan membawa warna baru? Ah, entahlah. Pikiran Kyla tiba-tiba menolak pernyataan itu.


"Duduk di sini dulu. Aku ambilkan minum."


Kyla mengernyit heran. Telinganya masih normal, kan? Caesar mengambilkannya minum? Mustahil.

__ADS_1


"Mau minum apa?" tanya Caesar seraya mengelap dahinya yang bercucur keringat itu dengan lengan.


"Eh? Tidak perlu. Kenapa kamu repot menawarkan?"


"Tidak usah banyak bertanya. Cepat jawab saja," tegas Caesar.


Caesar menguap lebar, melampiaskan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Belum waktunya tidur, tapi kantuknya sungguh berat. Mungkin efek begadang semalam. Saat laporan kampusnya menumpuk minta diselesaikan.


"Air putih saja," jawab Kyla terpaksa.


Kyla tak mau ambil pusing. Perubahan sikap Caesar dianggapnya sebagai hal normal. Bisa saja Caesar sedang berusaha untuk menjadi waras dan lemah lembut.


Menunggu beberapa menit membuat Kyla tak sanggup menahan kantuk. Sejuknya AC ruangan berhasil meruntuhkan pertahanan matanya yang sejak tadi ditahan agar tak menutup.

__ADS_1


Gadis itu tersandar pulas di salah satu sisi sofa. Kepalanya kini berada di tangan sofa yang berwarna cokelat itu. Hitungan detik ketiga, Kyla sudah bermain di alam mimpi.


Di sisi lain, Caesar yang baru saja selesai membuatkan teh hangat untuk tamu spesialnya itu pun berjalan menuju ruang tamu. Betapa kagetnya ia saat melihat pemandangan langka tersebut. Ia tersenyum.


Wajah polos Kyla tersandar lemas di tangan sofa. Lengannya terkulai. Ponsel bahkan masih ada di dalam genggaman gadis itu. Melihat pose seperti ini, Caesar jadi gemas sendiri.


Ia pun mendekati Kyla yang sudah terlelap. Jarak mereka dibuat semakin dekat oleh Caesar. Sekitar sepuluh sentimeter saja. Napas halus Kyla bahkan bisa ia rasakan menyapu kulit wajahnya. Manis sekali.


Caesar mengulurkan tangan, menyingkirkan helai poni yang hampir menusuk mata gadisnya. Bisa Caesar bayangkan, bagaimana serunya bila nanti saat ia bangun yang ia lihat adalah pemandangan seperti ini. Pasti indah.


Ah, tidak. Caesar cepat menggeleng. Jangan sampai perasaan semacam cinta tumbuh sebelum misinya terselesaikan. Harusnya Kyla yang lebih dulu mencintainya. Mengingat segala kesempurnaan dirinya yang ia percaya pasti dikagumi oleh para gadis.


Wajah mereka masih dekat satu sama lain. Kini Caesar memilih duduk di sebelah gadis itu. Menggeser tubuh Kyla sebentar. Bahu Kyla diangkat, diarahkan sandarannya dan berpindah ke arah dada bidang Caesar.

__ADS_1


Pria itu menghela napas pelan. Nyaman. Rasa itu hadir saat Kyla yang tengah bersandar di dadanya tiba-tiba memberikan pelukan. Ia tersenyum lagi. Tak bisa ia pungkiri, Kyla benar-benar cantik.


__ADS_2