Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 15


__ADS_3

Dengan cepat, Kyla sudah berada di dalam mobil yang dari tampak depannya saja sudah terlihat kemewahannya. Bisa diperkirakan berapa mahalnya mobil Caesar.


"Sudah siap? Ayo, berangkat! Aku lupakan hukuman untukmu," ujar Caesar yang siap menginjak pedal gas mobil.


"Eh, sebentar! Jangan jalan dulu!" cegat Kyla.


"Ada apa?"


"Tasku kamu tinggalkan di kamar," gerutunya sambil menyilangkan tangan di dada.


Caesar tetap menjalankan mobilnya.


"Kita beli tas baru sebelum ke kampus," putusnya.


"Hah? Kita bisa telat, Kak!"


Senyum sinis kembali terlihat di wajah tampan Caesar. Kyla benci senyum itu. Sungguh.


"Kalau begitu, kita bolos untuk membeli tas barumu."


Mata Kyla melotot sempurna karena penuturan Caesar.


"Gila. Kamu ini—"

__ADS_1


"Masa depan bisa kita beli dengan uang. Benar, kan? Makanya, menikah denganku."


Kepala Kyla menggeleng heran. Ia kehabisan kata-kata menghadapi pria di sampingnya yang sekarang fokus menyetir ini. Kyla bisa-bisa ikut gila kalau menikah dengannya.


"Cae—ah, maksudku Kak Caesar. Buanglah pikiran semacam itu. Uang sewaktu-waktu bisa musnah, tapi ilmu tidak musnah selama kita terus mengingatnya."


Tangan Caesar spontan mengelus puncak kepala Kyla. Gadis itu kembali tersentak dibuatnya. Kyla menyempatkan diri untuk melirik ke arah Caesar.


Benar saja, seutas senyum hadir lagi di wajah Caesar. Tak hanya senyum, tapi tawa kecil juga. Namun, kali ini berbeda. Senyumnya tidak sinis ataupun licik. Entah, apa yang membuatnya tertawa geli seperti sekarang.


"Aku sangat beruntung mempunyai calon istri yang pintar sepertimu ini," puji Caesar.


Jemari kasarnya kini beralih ke pipi gembil Kyla. Ia mencubitnya sekilas. Sudah seperti mainan squisy saja. Semakin lama mengenal, Kyla ternyata cukup menggemaskan bagi Caesar.


"Jangan memuji! Dengarkan saja ucapanku!"


"Haha, baiklah, Tuan Putri Caesar Alvaro."


Damn! Mendengarnya saja sudah cukup membuat perut Kyla bergejolak mau muntah. Rasa mual berkerumun dalam lambungnya. Caesar ini seringkali berlebihan dan memuakkan.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Caesar tidak mau terburu-buru sampai ke lokasi yang dituju. Ia ingin lebih lama berada di dekat calon istrinya ini.


Ralat.

__ADS_1


Lebih tepatnya, ia ingin lebih lama menggoda gadis polos yang mudah dibodohi ini.


Setelah perdebatan kecil itu, kondisi dalam mobil menjadi hening. Tidak ada suara Caesar maupun Kyla. Hanya ada alunan musik jazz yang terputar otomatis dari radio mobil. Juga sesekali klakson yang Caesar tekan saat ada halangan di jalan.


Kyla mengeryit heran. Suasana begini justru membuatnya semakin canggung. Ah, satu lagi. Pria di sampingnya ini tampak berbeda dari biasanya.


Ia mengendarai mobil dengan sangat tenang. Tidak tergesa-gesa dan menantang maut seperti tempo hari. Lucu saja. Ini pemandangan yang baru bagi Kyla.


Gadis itu tidak ingin merusak suasana dengan memecahkan kecanggungannya. Biarlah seperti ini. Canggung, asal Caesar tidak berulah lagi.


Kyla juga tidak tahu ke mana Caesar akan membawanya. Dari rute jalan yang diambil, bisa Kyla pastikan bahwa Caesar benar-benar mengajaknya bolos kuliah.


Jelas ini bukan rute menuju kampus. Entah lokasi apa yang menjadi tujuan Caesar. Membeli tas, mungkin ke mall atau pasar kalau Caesar mau.


Tapi tidak. Saat mobil hampir sampai di persimpangan, Caesar tidak mengambil jalur menuju mall atau pasar. Ia melajukan mobilnya ke jalan lain yang entah ke mana.


"Kita akan pergi ke mana?" tanya Kyla.


"Lihat sebentar lagi."


"Baiklah," jawab Kyla menurut.


Cukup jauh dari persimpangan, lokasi yang dituju belum Kyla ketahui sepenuhnya. Rasa penasaran membuat mulutnya bertanya kembali. Namun sebuah gedung besar nan mewah berhasil mengejutkan Kyla.

__ADS_1


"Kak, kita mau ke ... astaga! Leogarda Company?"


__ADS_2