
"Kau mencemaskanku?" tanya Kyla tiba-tiba.
Caesar mendelik sebentar. Lalu, pandangannya beralih ke jalanan lagi. "Untuk apa aku mencemaskanmu? Aku hanya sedang banyak pikiran saja," elak Caesar.
Terdengar suara tawa Kyla yang agak sinis. Lelaki yang sedang menyetir itu langsung salah tingkah. Ia bahkan merasa tidak nyaman ketika memegang setir kemudi. Terus mengganti-ganti posisi. Serba salah.
"Ya, di pikiranmu itu ada aku, 'kan? Jujur saja."
Caesar mendengkus. Kali ini ia terpancing untuk marah. Atau barangkali, hanya pura-pura marah demi menutupi keanehannya.
"Jangan bodoh, Kyla! Kenapa aku harus memikirkan perempuan gila sepertimu?"
"Karena kau mencintaiku," balas Kyla santai.
Cittt!
Rem diinjak spontan tatkala kalimat itu dilantangkan oleh Kyla secara percaya diri. Hampir saja badan belakang mobil ditabrak oleh pengemudi lain. Begitu berbahaya untuk mengerem mendadak di situasi padat ramai begini.
Tangan gadis itu melipat di dada. Ia mengumbar tawa kecil yang membuatnya begitu menggemaskan. Ah, Caesar jadi ingin memeluk Kyla erat-erat, kemudian mendekapnya hingga gadis itu sesak napas.
__ADS_1
"Sudah kuduga. Tebakanku benar. Kau mencintaiku, 'kan?" ucap Kyla tanpa melihat Caesar yang kini beralih menatapnya.
"Jangan aneh-aneh. Aku tidak suka kamu, Kyla!"
"Ya, tidak suka, berarti cinta, 'kan?" balasnya lagi.
"Shit!" umpat Caesar seraya mendekati Kyla.
Gadis itu masih tenang-tenang saja. Ia bahkan tampak cekikikan mengumbar tawa kecil. Tatapan sangar Caesar hanya diliriknya singkat. Kemudian, dengan santainya, ia mencolek hidung lelaki tersebut.
"Hihi, jangan dekat-dekat. Kamu bau," gurau Kyla.
"Jangan asal bicara, ya! A-aku sudah mandi. Kamu yang bau!" sanggah Caesar.
Sungguh, sekarang ia tidak percaya diri dengan penampilannya sendiri. Mencuri-curi kesempatan, ia mencium bagian pangkal lengannya guna mendeteksi keberadaan bau tidak sedap yang dibilang Kyla. Ah, ini wangi. Dasar, gadis itu mempermainkannya ternyata.
"Hihi, jangan salah tingkah. Aku hanya ingin memberi tahu, bahwa inilah sifatku yang sebenarnya. Aku sangat ketus, menyebalkan, dan sering membuat orang merasa risi. Apa kamu siap menikahi gadis sepertiku, Kak?" ucap Kyla panjang lebar.
Caesar sempat ternganga. Namun, sedetik kemudian, ia kembali sadar lagi. Entahlah, apa ucapan Kyla dapat ia percaya sekarang atau tidak. Jika benar seperti itu adanya, maka, mau tidak mau, ia harus menerima Kyla apa adanya. Termasuk menerima sifat yang disebutkan Kyla tadi.
__ADS_1
"Kenapa kamu memberi tahuku informasi yang tidak penting begitu? Dengan bicara dan sering bertemu denganmu saja, ia bisa melihat sifatmu yang sebenarnya tanpa kamu beri tahu dulu," balas Caesar tak kalah angkuh.
"Lantas? Kamu masih mau menikahiku, Kak? Menururku, percuma. Masih banyak gadis lain di luar sana yang lebih pantas untukmu dan ... hmmm!"
Mulut Kyla dibekap oleh tangan besar Caesar yang menjadi dingin karena pendingin udara dalam mobil. Ingin mencium, tetapi urung. Caesar paling benci jika dianggap sebagai pria mesum oleh siapa pun.
"Aku tidak mau gadis lain. Bisakah kamu berhenti bicara? Aku cuma mau kamu, Kyla. Apa kurang jelas? Sekarang, kamu diam!" seru Caesar. Tangannya dilepas kasar dari bibir gadis itu.
"Karena warisan? Atau jabatan? Atau ... sedikit cinta?" desak Kyla lagi. Ia masih cekikikan.
Tanpa basa-basi, perkataan Kyla justru membuat Caesar gemas bukan main. Ia kembali maju, memangkas jarak antarkursi depan kemudi. Disentuhnya pelan rahang gadis yang kini menatapnya kaget tersebut.
"Mau kucium? Bisakah kamu berhenti bicara, hmm?"
Bukannya menjawab, Kyla malah menjulurkan telunjuknya hingga menempel di bibir Caesar. Hal itu membuat Caesar kalang kabut ingin melepaskan diri. Jantungnya benar-benar tidak terkontrol. Amat cepat detaknya.
"Bibirku terlalu manis untuk dicium oleh orang kasar sepertimu, Kak."
"Sialan!"
__ADS_1