
"Pernikahan apa? Siapa yang mau menikah sama kamu, hah?" tanya Kyla, berusaha memberanikan diri.
Caesar tak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis ke arah gadis itu.
Kyla semakin bungkam saat Caesar memandangnya dengan tatapan sedingin es. Entah apa yang ada di kepala Caesar sekarang. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak bisa diartikan sekarang.
"K-kamu mau a-apa?" tanya Kyla tergugup saat Caesar makin dekat dengannya.
Tangan kiri Caesar yang kekar terulur dan mengarah ke kepala Kyla. Gadis itu memejamkan matanya, ia sangat takut dengan apa yang akan dilakukan Caesar. Jemari kasar Caesar pun mendarat di surai pirangnya. Caesar membelai dan mengelus rambut Kyla dengan lembut. Sangat jauh dari perkiraan Kyla.
"Jangan begitu. Kita akan segera menikah, Sayang."
Kyla mengernyit seraya membuka matanya. Ia pun segera menepis tangan Caesar agar menjauh darinya.
"Menikah apa? Aku enggak mau menikah sama kamu," tolak Kyla.
"Haha, enggak apa-apa. Mari, kenali aku dulu. Dengarkan aku baik-baik," ucap Caesar.
Jemarinya menyibak helaian rambut-rambut halus yang menutupi wajah Kyla dan menyelipkannya ke belakang telinga Kyla. Hal itu jelas membuat Kyla merinding setengah mati. Sentuhan Caesar terasa sangat intim dan penuh kelembutan. Sialan!
"Caesar Alvaro. Itu adalah namaku. Kalau kamu tidak kenal, coba searching di internet. Mungkin wawasanmu akan lebih terbuka, Sayang."
__ADS_1
Lagi-lagi Caesar yang jahil meniup telinga Kyla dengan amat pelan. Kyla dibuat merinding.
"Aku gak tahu siapa kamu. Kamu ini orang mesum, ya?"
Mendengar itu, tawa Caesar terlepas begitu saja. Ia menjauhkan tangannya dari rambut Kyla. Lalu, ia pun menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dengan pasrah. Seolah sedang frustrasi terhadap apa yang dikatakan gadis itu.
"Kamu ini kurang bergaul, ya. Ayo, menikah denganku. Akan kukenalkan kamu pada dunia, dan dunia sudah pasti mengenalmu sebagai istri dari Caesar Alvaro."
"Enggak!"
Mata Caesar melotot mendengar bentakan itu.
"Suaramu meninggi, Sayang. Kamu berani padaku, hmm?"
"Wah, bagus sekali."
Caesar tertawa sinis seraya mendekat lagi pada Kyla. Kini wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Kyla, tanpa ada penolakan dari Kyla tentunya.
"Kamu cantik. Aku yang akan memilikimu, Kyla Fizeta."
Pipi gembil Kyla dicekal oleh ibu jari dan telunjuk Caesar dengan erat. Sang empu tentu merasa kesakitan. Kyla meringis, bekas tajamnya kuku Caesar juga tercetak di wajahnya.
__ADS_1
"Berhenti menyentuhku, Caesar!"
"Kenapa tidak boleh, Sayang?"
Kyla menepis tangan kekar Caesar lagi. Laki-laki itu hanya tertawa sinis. Lalu, ia kembali meletakkan jemarinya di permukaan kulit Kyla.
"Kamu ini tidak sopan, ya!" sergah Kyla agak kesal.
"Haha ... kamu yang tidak sopan! Aku ini senior kamu! Jangan berani-berani menyebut namaku jika tidak kusuruh!"
Bibir Kyla memilih bungkam. Ia menelan ludahnya kasar saat manik mata Caesar berubah penuh murka. Tangan mungil Kyla berusaha meraba sisi pintu mobil, berharap menemukan tombol kunci pintu dan segera keluar dari sana sekarang juga.
Sialnya, itu ditangkap oleh mata Caesar.
"Mau kabur, hmm?"
"Lepaskan aku, Caesar!"
"Wah, kamu menyebut namaku lagi." Caesar mencengkam leher jenjang Kyla dengan tangannya. Seolah sedang mencekik dengan tenaga pelan.
"S-sakit, sshh! Lepaskan!" ringis Kyla berusaha berbicara.
__ADS_1
"Diam dan turuti permainanku, dan kamu pasti selamat!" peringat Caesar sambil menggeram.