Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 8


__ADS_3

Berkali-kali Kyla merutuki nasib sial yang mengacaukan hidupnya. Bantal merah jambu yang berada di pangkuannya sudah menjadi sasaran empuk bagi pukulan yang ia layangkan penuh emosi. Napasnya menderu tidak karuan. Sesekali rambutnya yang lurus panjang ia acak-acak asal hingga menyerupai benang kusut.


"Harusnya bukan Caesar! Kenapa harus Caesar orangnya?"


Suaranya menggeram. Kali ini wajah putih Kyla menelungkup di bawah bantal. Berharap bisa berteriak puas tanpa didengar orang lain.


Gadis itu tak bisa menahan perasaan tak menentu ini. Bagaimana pun, Caesar tak boleh menjadi suaminya. Pria kasar dengan tatapan mesum seperti itu tidak pantas bersanding dengan Kyla.


"Sial! Hidupku akan kacau!" teriaknya kesal. Ia melempar jauh-jauh bantal yang sejak tadi meredam suaranya.


"Ada apa, Kyla?"

__ADS_1


Seseorang dari luar pintu kamar menyahuti ucapan Kyla. Gadis itu dibuat kelabakan. Dua tangannya berusaha membereskan kekacauan yang ada dengan secepat kilat sebelum siapa pun masuk ke kamarnya.


Ya, kamar berukuran 3x4 meter ini telah berubah menjadi seperti kapal pecah berkat emosi Kyla. Sarung bantal yang entah ke mana, boneka-boneka terkapar di lantai tak beraturan, meja rias yang tak tertata, membua Kyla letih sendiri untuk mengembalikan semua ke semula. Namun, mau tidak mau, ia terpaksa membereskan itu sebelum omelan ibunya menggema ke seluruh penjuru rumah tiga hari tiga malam.


"Enggak apa-apa, Bu," jawab Kyla setengah berbohong.


Ia lupa mengunci pintu kamar. Makanya, secepat mungkin semua ini harus sudah beres sebelum ibunya masuk tanpa mengetuk. Bisa panjang nanti masalahnya.


Benar saja. Lagi-lagi ibu Kyla masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. Jantung Kyla serasa mau copot. Ditambah lagi omelan ibunya yang sudah pasti tidak hanya berhenti sampai di situ. Jika bisa, daun telinga Kyla menutup telinganya sendiri sekarang.


Ah, tidak. Ada yang lebih penting dari itu. Alasan. Kyla butuh alasan untuk menjelaskan kenapa kamarnya sekacau ini. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang kesal karena pria berahang tegas yang pikirannya licik seperti Caesar itu. Bagaimana pun, ia tak akan mau hidup bersama Caesar yang kejam itu. Tak peduli seberapa keren keluarganya.

__ADS_1


"Cepat bereskan, Kyla! Tidak ada anak gadis yang kamarnya seberantakan kamu," lanjut ibunya.


Rasanya Kyla ingin menjawab pernyataan itu. Hei, ayolah, pasti ada di antara para gadis di bumi ini yang punya kamar sekacau Kyla, bukan? Namun, ia terpaksa bungkam. Ia tidak ingin membuat ibunya naik pitam.


" Maaf, Bu. Ini Kyla sedang bereskan."


Tangan putih susu milik Kyla memunguti boneka-boneka yang sebelumnya ia lempar sembarangan. Ia menyusunnya kembali ke atas tempat tidur. Ya, Kyla sangat suka tidur dengan dikerumuni boneka yang sejak kecil ia koleksi.


Ibu Kyla hanya menggeleng. Kyla tidak biasanya begini. Lalu, ia memilih duduk di kursi dekat meja belajar Kyla seraya mengawasi anaknya yang kini sibuk merapikan kembali meja rias berwarna cokelat di sudut ruang.


Umur sembilan belas tahun tak menjadikan Kyla terlihat benar-benar dewasa. Di mata ibunya, Kyla hanyalah anak-anak biasa yang masih manja dan butuh perhatian lebih. Mungkin begitulah pikiran seluruh orang tua terhadap anaknya, kan?

__ADS_1


__ADS_2