Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 12


__ADS_3

"Ah, iya. Aku lupa kalau sedang berada di kamar perempuan muda dan cantik sepertimu."


Kyla menelan ludahnya saat Caesar perlahan melangkah menuju jendela. Ia panik harus bagaimana. Mau keluar jendela, tapi ujung bajunya tersangkut di kaitan kusen. Sial! Ia bisa habis di tangan Caesar kalau begini caranya.


"S-sebentar! Jangan mendekat atau—"


"Atau apa, Sayang?"


"A-aku akan loncat dari sini!" ancam Kyla terbata gugup.


"Loncat? Memangnya kamu berani?"


Kyla meneguk salivanya kasar. Mengingat jarak dari jendela kamarnya ke tanah cukup tinggi, nyalinya ciut seketika. Ia tidak mungkin mau mati konyol karena bunuh diri di rumah sendiri. Itu hal bodoh.


"Tidak, sih," jawab Kyla jujur. Entah, Kyla sebenarnya terlalu polos atau jujur.


"Hahaha, kamu ini. Jangan bikin aku gemas dong!" Caesar menaruh lipatan lengannya yang kekar pada dada bidangnya.


"Kan, tadi kamu bertanya."


"Iya. Ah, sudahlah. Anyway, kamu jangan panggil aku Caesar, ya."


Kyla mengernyit bingung.

__ADS_1


"Aku harus memanggilmu Varo? Atau ada panggilan lain?"


Lagi-lagi Caesar terbahak. Ia mendekat ke arah Kyla yang masih tersangkut di kusen jendela. Gadis itu hanya melongo. Kepanikannya hilang entah ke mana.


"Turun, Sayang! Kita bicara sebentar," titah Caesar lembut.


Ia mengamit jemari halus Kyla. Sayangnya, ia malah mendapat penolakan dari Kyla. Ya, penolakan yang tak pernah ia dapatkan dari gadis lain.


"Aku bisa turun sendiri!" tolak Kyla.


Gadis itu tertatih menuruni kusen jendela. Kaki mungilnya menapaki lantai kamar yang masih dingin. Ia berjalan ke sisi ranjang, duduk di sana sambil menatap Caesar penuh kebencian.


Caesar mengikuti Kyla. Ia duduk tepat di samping gadis berambut pirang tersebut. Satu helaan napas ia keluarkan sebelum mulai bicara. Matanya menatap Kyla intens, membuat Kyla kelabakan dengan salah tingkahnya.


"Aku ini seniormu. Rasanya kurang sopan jika kamu memanggilku dengan nama saja."


"Lalu, aku harus panggil apa?"


"Panggil kakak. Mau?" tawar Caesar sambil memainkan alisnya yang tebal.


Perut Kyla mendadak mual saat mendengar penuturan Caesar. Lihatlah, betapa berlebihnya rasa percaya diri Caesar. Agak menggelikan jika senioritas dibawa-bawa ke ranah percintaan, bukan? Begitulah pikir Kyla.


"Cih!" Kyla berdecih pelan.

__ADS_1


Sayang sekali, hal itu terdengar di telinga Caesar yang tajam. Sebuah senyum nakal ditunjukkan Caesar di bibirnya. Ia yakin, Kyla tidak mau memanggilnya begitu.


"Kenapa, hm? Tidak mau? Alasannya apa?" tanya Caesar lembut.


Kyla menoleh ke arah Caesar yang kini tersenyum aneh.


"Lucu saja."


"Kenapa bisa lucu? Kamu mengolokku?"


"Jangan bawa senioritas di sini. Ini rumahku, Caesar!" ucap Kyla tegas.


"Hei, dengar. Aku ini senior kamu. Jangan membantah!"


Kyla mendengkus sambil menepi ke ujung ranjang. Kepalanya ia tumpukan pada sisi ranjang. Pasrah. Ia malas berdebat dengan orang semacam Caesar.


"Kyla, kamu marah?"


Gadis itu hanya diam. Lamunannya melayang tak tentu arah. Matanya menerawang ke segala benda yang ada di depannya. Ke mana saja, asalkan bukan ke Caesar. Sungguh, Kyla muak dengan pria di sampingnya ini.


"Kyla?" panggil Caesar lagi.


Tak ada jawaban, akhirnya Caesar berinisiatif mendekati gadis itu. Tangan kekarnya terulur. Ia mengusap surai pirang gadis yang akan menjadi istrinya tersebut.

__ADS_1


Ya, tentu saja sebuah penolakan ia dapatkan lagi. Kyla menepis kasar tangan yang ada di kepalanya. Caesar hampir murka, namun urung karena perkataan gadis itu.


"Jangan sentuh aku, Kak!"


__ADS_2