Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 28


__ADS_3

"Bagaimana kalau minggu depan?" kata Kyla tiba-tiba saja.


"Apa?"


Semua hening. Tercengang. Kaget pada pernyataan gadis sembilan belas tahun itu.


Bukan tanpa alasan Kyla mengatakan hal mengejutkan tersebut. Ada rencana terselubung yang akan dilancarkan oleh Kyla. Sebuah rahasia, yang tidak ada seorang pun yang tahu. Termasuk Caesar.


"Oke. Setuju," balas Caesar.


"Apa?"


Leo, Andreas dan Salma lagi-lagi dibuat kaget oleh ucapan balasan dari Caesar. Ada apa dengan dua anak manusia ini? Mengapa mereka sepakat untuk mempercepat tanggal nikahnya? Padahal, sebelumnya, mereka menolak mentah-mentah perjodohan ini.


"J-jadi, kalian mau menikah di pekan depan?" tanya Leo tergagap-gagap.


"Yes, ofcourse, Yah," balas Caesar sambil tersenyum dingin.


Kyla pun terkejut atas jawaban yang dilontarkan calon suaminya itu. Bagaimana bisa mereka sepemikiran? Ah, kalau begini, rencana Kyla bisa kacau.


Entah, rencana apa yang ada di pikiran Caesar sekarang. Kyla akan menginterogasi lelaki tersebut setelah acara makan malam yang agak sakral ini. Lihat saja nanti.

__ADS_1


"Ya, sudah. Berarti, besok, kita harus segera mempersiapkan segala perlengkapan pernikahan dan resepsinya, ya," putus Andreas.


"Nah, kalian juga harus secepatnya mencari pakaian pengantin. Caesar, besok kamu temani Kyla ke butik untuk memilih gaun, ya," perintah Leo kemudian.


Caesar dan Kyla mengangguk serempak. "Baik, Ayah," jawab Caesar.


***


Seusai acara makan malam selesai, Kyla harus ikut pulang ke kediaman Andreas yang berada agak jauh dari rumah Leo. Namun, sebelum berpamitan, Kyla meminta izin untuk berbicara empat mata dengan Caesar. Tentu hal itu amat disetujui oleh kedua pihak keluarga.


Duduk di kursi taman yang berada di belakang rumah mewah ini membuat Kyla dan Caesar sedikit tenang. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing. Netra yang mengarah pada kolam renang, menyimpan rasa canggung yang sesekali membuat risi.


"Hmm." Calon suaminya itu hanya membalas dengan dehaman. Tanpa menoleh ke sosok yang memanggilnya.


"Kenapa ikut menyetujui ucapanku tadi?"


"Ucapan yang mana?" tanya Caesar. Lagi-lagi tanpa melirik ke arah Kyla.


Merasa diabaikan, Kyla pun menyentuh lengan Caesar dengan sedikit tepukan lembut. Tak lain, agar seniornya itu menoleh padanya. Kyla paling benci diabaikan saat ia berbicara.


"Kak, apakah kita benar-benar akan menikah pekan depan?"

__ADS_1


Bola mata Kyla menyebar binar kecemasan. Caesar melirik gadis itu. Lalu, atensinya beralih pada lengannya yang masih disentuh Kyla.


"Gadis ini. Bodoh sekali kau ini. Tadi itu kau sendiri yang meminta ingin minggu depan, 'kan?" sergah Caesar.


"Emm, iya. Hanya saja, aku terlalu takut untuk menjalani kehidupan pernikahan yang agak dini."


Caesar menatap wajah gadis itu. "Takut kenapa? Takut hidup bersamaku, hmm?"


Kyla menunduk, kemudian menjauhkan tangan Caesar yang lupa ia lepas dari sentuhan. "Salah satunya begitu. Kau adalah seniorku. Rasanya agak ... emm, aneh," balas Kyla.


"Kau bodoh sekali. Memangnya, kau pikir, aku akan bertindak seperti senior jika sudah menjadi suamimu nanti? Tidak akan ada senioritas dalam rumah tangga, ayolah!" kata Caesar sambil menatap Kyla dalam-dalam.


Apa ini? Kalau begini, Caesar tampaknya sedang menunjukkan bahwa ia sangat setuju atas pernikahan mereka. Bahkan, ia menyiratkan bahwa Kyla akan diperlakukan dengan baik ketika menjadi istrinya nanti.


"Emm ... baiklah. Aku akan berhenti memikirkan yang tidak-tidak," jawab Kyla sambil menyingkirkan helai rambut yang diterpa angin malam.


Mendengar itu, Caesar tersenyum. "Kalau sudah menjadi istriku nanti, jangan pernah mempermalukan aku, ya," pinta Caesar.


Belum sempat Kyla menjawab, bibir Caesar lebih dulu mendarat di pipi Kyla yang merona merah itu. Gadis tersebut terperanjat kaget. Ia memejam.


Cup!

__ADS_1


__ADS_2