
Mobil Caesar sampai di sebuah mansion mewah dengan luas sekitar 400 meter persegi. Kedatangan mereka disambut oleh pemandangan taman di halaman rumah Caesar yang sangat teduh. Netra Kyla dibuat terkagum karena nuansa hijaunya dan tata letak taman.
Keluarga Caesar tak pernah main-main, mereka bahkan menyewa pendesain eksterior khusus hanya untuk taman mereka.
"Ini mansion kamu?" tanya Kyla polos.
"Ya."
Caesar memarkirkan mobilnya di carport. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Kyla.
"Turun, Kyla!" titahnya dingin.
Kyla pun menurut. Tatapan elang khas Caesar berhasil membuatnya bungkam seribu bahasa. Ia tak ingin membantah dulu.
"Masuk!" pinta Caesar.
Laki-laki itu membuka pintu rumahnya dan masuk. Ia menjentikkan jari, isyarat agar Kyla mengikutinya ke dalam. Gadis itu menurut saja.
Sepi, adalah kata pertama yang bisa menggambarkan suasana di dalam rumah ini. Perabot mewah, barang-barang antik berjajar rapi, sofa besar yang Kyla tahu harganya sangat mahal pun mengisi ruangan ini.
__ADS_1
Sungguh, Kyla tak habis pikir. Kenapa rumah sebesar ini bisa sepi? Ah, mungkin semua sibuk bekerja. Makanya, rumah jadi jarang ditempati, pikirnya.
"Kamu duduk dulu. Akan kupanggilkan ayahku sebentar."
"Tapi ...."
Ucapan Kyla terhenti sebab Caesar sudah lebih dulu menghilang, masuk ke salah satu ruangan lain. Kyla pun menuruti perintah Caesar.
Sebelum duduk, ia meraba permukaan sofa itu sebentar. Ah, Kyla tahu. Ini sofa mahal, seperti yang tempo hari ia lihat di mall.
Jemari Kyla saling bertaut, menunggu si pemilik rumah keluar. Sudah lima belas menit ia terdiam di sini tanpa ada seorang pun yang menemuinya. Ia orang asing, sangat asing hingga melihat kakinya yang menyentuh lantai rumah Caesar saja membuatnya tidak enak hati.
"Lama sekali," gumam Kyla.
"Gara-gara orang gila sialan!" sebal Kyla seraya meremas ujung kemeja yang dipakainya.
"Siapa yang sialan, hmm?"
Suara bas itu membuat Kyla tersentak kaget. Buru-buru ia menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah Caesar. Ia sudah berganti pakaian menjadi lebih santai.
__ADS_1
Tidak. Bukan itu yang menjadi fokus mata Kyla. Namun, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang tampak tersenyum ke arahnya itu yang membuat Kyla merasa aneh. Ia seperti tidak asing di mata Kyla.
Kyla buru-buru berdiri dari duduknya saat sang pemilik rumah menghampirinya.
"Itu, Yah. Itu Kyla Fizeta yang Ayah bilang," ucap Caesar seraya mengikuti langkah ayahnya yang lebib dulu mendekati Kyla.
"Halo, Nak Kyla. Kamu Kyla Fizeta, anaknya Andrean?"
Mata Kyla membelalak saat pria itu menyebut nama ayahnya.
"Iya, benar, Om. Apa anda kenal dengan ayah saya?"
"Ya. Saya Leo, rekan bisnis ayah kamu. Silakan duduk kembali, Nak."
Kyla tersenyum kikuk seraya duduk di sofa lagi. Mata dingin Caesar yang tajam seolah menguliti kepercayaan diri Kyla. Gadis itu pun mengalihkan fokusnya, berusaha mencerna maksud dari ayah Caesar.
"Saya senang Varo bisa menemukan kamu."
Alis Kyla terangkat tinggi. Jujur, satu sisi, ia bingung dengan dua beranak yang berbeda sifat ini. Satu sisi lagi, ia mencoba bersabar, menunggu pria paruh baya itu berbicara-- memecahkan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Iya, Om. Ada apa mengundang saya ke sini?"
"Begini, saya dan ayah kamu ada maksud baik. Kami ingin menjodohkan kalian berdua. Bukankah kamu sudah mendengar kabar ini sebelumnya?"