
Mata hazel Kyla mengerjap beberapa kali saat suara panci terasa memekakkan telinganya. Bisa dipastikan sumber suara itu berada persis di depan pintu kamar Kyla. Siapa lagi kalau bukan ibunya?
"Kyla, Ibu tahu kamu sudah bangun. Cepat siap-siap. Ada Caesar di ruang tamu!" teriak ibu Kyla.
Bibir Kyla mengerucut sebal. Ia berdecih malas seraya mengucek mata sebentar. Kotoran-kotoran di sudut mata membuatnya risi.
"Cepat, Kyla. Jangan banyak alasan, ya. Ibu tidak enak sama Caesar," ucap ibunya yang ternyata masih di depan pintu.
"Iya, Bu," balas Kyla malas.
Gadis itu turun dari ranjang dengan gontai. Setiap lantai keramik yang dingin ia tapaki lamban hingga menuju ke meja rias. Saat sampai di cermin berukuran persegi panjang, netranya dibuat kaget oleh pemandangan di pantulan cermin.
Mata bulatnya kini sembab membengkak. Helai rambut pirang itu juga tampak kusam dan awut-awutan. Ditambah lagi lipatan-lipatan kulit wajah akibat tidur menelungkup di bantal semalam. Sungguh, Kyla benci keadaannya.
Tangisan tanpa henti semalam penuh membuat matanya bengkak dan kini terasa sepat. Kyla jadi ingat lagi apa sebab ia menangis seperti itu. Sial, pria itu malah berada di ruang tamunya sekarang.
__ADS_1
"Kenapa aku harus bangun, sih? Lebih baik tidur selamanya daripada menikah dengan senior licik seperti itu," gerutu Kyla.
Ia menghela napas berat. Sebuah sisir di sudut meja rias ia ambil. Menyisir surai pirang itu membuat Kyla makin sebal.
"Rambutku sudah dinodai oleh tangan busuk Caesar sialan. Aku harus keramas!" ucapnya kekeh.
Kyla bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Menghidupkan shower, lalu menyemprotkan air dengan tembakan agak keras itu ke tubuh putih mulusnya. Sengaja ia memilih air panas, karena suhu di sini memang sedang rendah.
Lama berada di bawah pancuran air, otak Kyla dilintasi oleh sekilas ide. Gadis itu tersenyum licik, hampir sama dengan senyum licik yang ditampilkan Caesar tempo hari.
Di sisi lain, seorang pria berkemeja merah dengan motif kotak-kotak masih duduk di sofa rumah Kyla. Ia mengambil kopi hangat yang sejak tadi disuguhkan padanya. Menyeruput halus cairan hitam setenang mungkin. Padahal, dalam hatinya ia sudah tidak sabar bertemu Kyla.
"Nak, tunggu sebentar, ya. Kyla baru bangun. Mungkin sekarang dia lagi mandi," ucap Salma sambil duduk di hadapan Caesar.
Pria itu tersenyum penuh arti. Sebentar lagi, Salma akan menjadi ibu mertuanya. Bagaimanapun ia harus hormat.
__ADS_1
Caesar merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia menghela napas pasrah. Jika boleh, ingin rasanya ia menyusul Kyla ke kamar mandi. Ah, Caesar cepat-cepat menggeleng, menepis pikiran kotornya.
"Kenapa, Nak? Pusing?" tanya Salma yang melihat Caesar menggeleng keras.
Pria itu tersentak. Lalu, sesungging senyum ia tampakkan guna meredam kecemasan Salma.
"Tidak ada apa-apa, Tante," jawab Caesar.
Salma balas tersenyum.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang, ya."
"Iya, Tante."
Dalam hati, Caesar terasa miris. Sebenarnya, ia agak tidak tega memperalat putri dari keluarga sebaik ini. Apalagi ibu yang seperhatian ini. Apa ia yakin bisa mendapatkan keinginannya? Atau, apakah ia harus melupakan itu?
__ADS_1
Entahlah, Caesar tak bisa berpikir jernih saat ini.