Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 18


__ADS_3

Rasa gugup terus menyerang Kyla hingga ia sampai di depan meja Om Leo. Tak bisa dipungkiri, kaki jenjangnya bahkan gemetar tak karuan. Sialan. Kenapa ia sulit mengendalikan diri?


"Sebentar, ya, Nak. Ada panggilan telepon. Om angkat dulu," pamit Leo seraya berjalan ke sudut ruangan yang agak jauh dari Kyla dan Caesar.


"Baik, Om." Kyla menanggapi meskipun Leo sudah asyik dengan rekan yang ada di telepon.


Jari-jari kurus Kyla saling bertaut. Dimainkan seiring upayanya menetralkan degup jantung. Aneh sekali. Padahal, waktu pertama kali bertemu ia tidak merasa gugup sedikit pun. Lucu.


"Keep calm, Baby. Kita hanya menemui ayahku," bisik Caesar di sela-sela kesempatan. Tentunya Leo tidak mendengar bisikan putranya itu.


"Okay," jawab Kyla.


Gadis itu menghela napas. Tiba-tiba saja Caesar memberikan pelukan hangat--mendekap tubuh ramping gadis itu tanpa meminta izin terlebih dulu.


"Hei!" sergah Kyla dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Diam dan tenanglah," balas Caesar.


Pria itu mengeratkan pelukannya. Benar saja. Berada dalam pelukan Caesar, mendengar detak jantung yang berlomba menyamakan tempo, sukses membuat Kyla tenggelam di dalamnya. Begitu menenangkan.


Sepertinya, dada Caesar mengandung banyak obat penenang. Kyla bahkan lupa jika ia tadi menolak. Ia malah merasa nyaman. Kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Aneh. Ini sungguh sangat aneh!


"Haha, kalian ini belum menikah tapi sudah berani bermesraan, ya."


Mendengar suara Leo, Kyla cepat-cepat melepaskan diri dari pelukan Caesar. Sayang, tangan kekar pria itu mencegat tubuh Kyla untuk menjauh. Ia mendekapnya lagi, seakan tak mau Kyla pergi dari hidupnya.


"Namanya juga anak muda, Yah. Kyla juga sudah mulai terbiasa dengan Varo," alibi Varo.


Alis Kyla terangkat tidak setuju. Omongan Caesar benar-benar seenak jidatnya saja. Tidak mungkin Kyla mulai terbiasa dengan Caesar, kan? Tidak akan mungkin.


"Lepaskan aku, Caesar," bisik Kyla penuh penekanan.


Ia memukul singkat dada bidang Caesar yang membuat suara dari mulutnya diredam di sana. Tangannya bahkan terperangkap dalam dekapan Caesar. Sialan.


"Kalian berdua, duduk dulu di sini. Om mau bicara sebentar."


Tiga manusia berbeda usia itu duduk di masing-masing sofa single, mengelilingi sebuah meja berbentuk bundar dengan vas bunga kecil di tengahnya. Kyla meremas jemari tangannya satu sama lain, berharap agar rasa gugupnya berkurang dan hilang.


Sementara Caesar, ia tampak tenang dengan posisi kaki yang diletakkan di lutut. Bergoyang-goyang seiring kecanggungan yang tiba-tiba melanda ruangan. Leo menyeruput kopinya sebentar sebelum mulai berkata.


"Bagaimana hubungan kalian? Sudah saling mengenal sifat masing-masing, kan?"

__ADS_1


Kyla meneguk salivanya kasar.


"Semua akan berjalan seiring waktu. Kami sudah mulai akrab," jawab Caesar santai.


Kyla hanya menimpali dengan anggukan cepat. Seolah kehabisan kata untuk bicara. Mulutnya bungkam saja.


"Baguslah. Nak Kyla, malam ini ada acara makan malam di rumah kami. Kamu datang, ya. Om sudah mengabari ayahmu juga."


"B-baik, Om."


"Haha, jangan gugup begitu. Nanti kalau sudah jadi menantu kami, santai saja. Om pastikan kamu akan merasa bak seorang putri. He'll treat you better than other man."


Leo berkata seraya menunjuk ke arah Caesar. Sementara pria dua puluh tahunan itu hanya tersenyum bangga. Entah, ia akan benar-benar memperlakukan Kyla seperti seorang putri atau tidak.


"Hehe, i-iya, Om. Hanya belum terbiasa," jawab Kyla lagi.


"By the way, pertunangan akan dimajukan tanggalnya. Kedua keluarga sudah sepakat untuk itu," jelas Leo.


Kyla mengernyit tidak senang.


"Kenapa begitu, Om? Kenapa dimajukan? Kan, tetapi tidak ada perundingan dengan kami berdua," protes Kyla agak terkejut.

__ADS_1


Setahu Kyla, memang tidak ada omongan apa pun tentang pertunangan. Apalagi lamaran. Caesar hanya sering mengungkit pernikahan. Namun juga bukan hal penting yang dibicarakannya, melainkan hal mesum yang tidak masuk ke pikiran Kyla.


__ADS_2