
Kyla bukanlah gadis yang nekat dan pemberani. Setidaknya, itu yang Caesar tahu soal gadis lugu tersebut. Mana mungkin Kyla kabur di malam penting seperti ini, bukan?
Namun, manusia adalah manusia. Jika mereka terdesak, apa pun bisa saja dilakukannya. Termasuk hal nekat yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Caesar pontang panting turun ke bawah. Setiap kamar dan ruangan yang ada ia periksa dengan sangat tergesa-gesa tanpa peduli penampilannya yang menjadi kacau. Jangan sampai Kyla kabur. Tidak boleh!
"Permisi, Tuan. Tuan Leo sudah pulang," kata asisten rumah tangganya yang tiba-tiba menghampiri Caesar di ruang kerjanya.
Caesar yang tengah sibuk memeriksa bawah-bawah meja kerja itu pun langsung terbelalak kaget. Ia berdiri, melongo sambil menepuk jidat kuat-kuat. Sungguh, ini sifat yang jarang Caesar tunjukkan pada orang.
Ia tidak pernah sepanik ini. Sekarang, tidak peduli apa pun, ia harus menemukan Kyla sebelum Leo menanyakan keberadaan gadis itu. Bisa habis dia kalau ketahuan lalai.
"Keluarga Kyla sudah datang?" Caesar balik bertanya pada sang asisten rumah tangga.
"Belum, Tuan," jawabnya.
Caesar mendengkus keras. Berharap tidak akan terjadi hal buruk malam ini. Pertemuan pertama ini sangat penting. Inilah titik di mana ia akan mengambil hati Andreas sang ayah dari Kyla Fizeta.
"Argh, merepotkan!"
Asisten rumah tangganya yang masih berada di ambang pintu terjengit kaget mendengar teriakan Caesar. Tuannya ini sepertinya ada masalah. Pelan-pelan, dengan rasa takut dan segan, ia pun memberanikan diri buka suara.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, sedang mencari apa, Tuan?"
"Anak kucing," jawab Caesar asal-asalan.
Kepalanya belum juga keluar dari bawah meja terakhir di sudut ruang. Padahal jelas-jelas tidak ada gadis yang bersembunyi di sana. Sungguh, Caesar frustrasi karena Kyla.
"Sejak kapan Tuan memelihara anak kucing?" tanya sang asisten rumah tangga dengan polos.
"Argh! Diam! Kyla di mana? Kasih tahu keberadaan gadis sialan itu!" teriak Caesar tidak keruan.
"A-anu ... dia ada di kamar tamu, Tuan."
"Dia sudah kabur dari sana. Sekarang bantu mencari Kyla!" titah Caesar sambil membersihkan kain celana dasarnya yang kotor di bagian lutut.
"Tuan, tadi saya baru saja dari kamar tamu. Kyla ada di sana. Habis dari kamar mandi katanya," jelas wanita itu.
"Shit!" umpat Caesar.
Ia berlari keluar ruang menuju ke anak tangga. Berniat ke kamar tamu di ruang lantai dua, setelah itu, menemui Kyla. Namun, belum sempat anak tangga terakhir dipijak, ia sudah dicegat oleh suara seseorang.
"Sudah siap, Nak? Kyla sudah datang?"
__ADS_1
Caesar terpaksa mengurungkan langkahnya. Mundur satu dua langkah. Kemudian menoleh manis kepada sang ayah yang sudah duduk di sekitar meja makan.
"Iya, Ayah. Kyla sedang bersiap-siap di kamar tamu. Orang tuanya menyusul nanti," jawab Caesar seadanya.
"Kau sendiri?"
Alis Caesar terangkat. "Aku kenapa, Ayah?"
"Sudah siap? Pakaianmu lusuh. Perbaiki. Nanti kau akan bertemu keluarga Kyla. Mereka rekan bisnis ayah. Hormati mereka," kata Leo setenang mungkin.
"Baik, Ayah," jawab Caesar.
Laki-laki itu berlari menapaki anak tangga. Hingga ketika tiba di atas, amarahnya seolah berkumpul lagi. Hilang kesabaran.
Kenop pintu yang bernuansa perak hanya dilihat saja oleh Caesar. Kamar itu sudah tertutup lagi. Padahal, sebelumnya, Caesar sudah sempat keluar masuk di sini. Pintu tadi terbuka dan kacau.
Pelan-pelan, tangannya menggenggam kenop pintu. Ia sempatkan untuk mendengar suara dari papan kayu tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan telinga di daun pintu.
Nihil. Tidak terdengar apa pun. Hanya ada kasak-kusuk seperti suara plastik. Apa itu?
Penasaran, akhirnya Caesar pun memutar kenop pintu. Sangat cepat. Terburu-buru.
__ADS_1
"Dapat kau!" teriak Caesar ketika pintu dibuka.
Namun kagetnya, yang ia lihat adalah pemandangan luar biasa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Oh, Tuhan! Indah sekali. Bagaimana bisa Caesar melihat ini?