
"Wah, tidak terasa sudah hampir dua puluh menit. Kenapa Kyla belum keluar, ya?" tanya Salma basa-basi.
Caesar hanya mengedikkan bahu saja.
"Saya ke atas sebentar, ya. Mau lihat Kyla dulu," pamit Salma.
"Baik, Tante."
Salma meninggalkan Caesar sendiri di ruang tamu. Ia menapaki anak tangga, berjalan menuju kamar putri tunggalnya. Heran saja, tidak biasanya Kyla mandi dan bersiap selama ini.
Sampai di pintu kamar Kyla, ia langsung membuka pintu tersebut. Sayangnya, pintu tertahan. Dikunci. Mungkin Kyla sedang berbenah diri atau sedang memakai pakaian.
"Kyla?"
Tak ada jawaban.
"Nak, kamu sudah siap? Sudah selesai mandi, kan?"
Masih tak ada jawaban. Biasanya, Kyla akan menjawab sekalipun ia berada di kamar mandi. Ya, suara dari luar pintu masih terdengar ke dalam kamar mandi karena jaraknya yang dekat.
"Kyla, sedang apa kamu? Kenapa tidak menyahut?"
__ADS_1
Salma mendekatkan telinga ke papan kayu cokelat tersebut. Harusnya ia bisa mendengar suara gemericik air. Atau suara kericuhan saat Kyla berbenah peralatan kuliahnya.
Namun, ini tidak. Tak ada suara apa pun. Salma mendadak panik dibuatnya. Perempuan paruh baya itu menggedor pintu kamar putrinya itu berkali-kali. Memanggil nama Kyla mesti tak ada sahutan sama sekali.
Salma pening bukan kepalang. Ingin mendobrak, tapi tak ada tenaga kuat. Ayah Kyla; Andrean juga sedang ada di luar kota. Tak ada siapa pun kecuali ... Caesar!
"Caesar! Nak, tolong bantu saya sebentar!" teriak Salma dari lantai atas.
Untungnya telinga Caesar begitu peka. Caesar menaruh kembali gelas kopi yang isinya baru saja ia seruput habis. Tinggal dedak hitam dan sisa gula saja.
Caesar segera berlari menuju tangga. Ia menghampiri Salma yang terlihat begitu khawatir. Salma menutup mata, menggenggam kedua tangannya yang ditumpukan di dagu. Harap cemas terpampang jelas di mimik wajahnya.
"Ada apa, Tante?"
"Mungkin dia sedang mandi, Tante."
"Tidak. Kalau mandi pasti ada suara air."
"Mau didobrak saja?" usul Caesar yang langsung diangguki Salma.
"Kamu dobrak, ya. Saya mau menelpon ayahnya Kyla dulu."
__ADS_1
Salma beranjak dari tempat itu menuju lantai bawah. Meninggalkan Caesar yang berusaha sendiri.
Caesar pun langsung memberi jarak yang lebar antara kedua kakinya. Tangannya mengepal, seolah mengumpulkan seluruh tenaga pada lengan dan tubuh atasnya. Ia mengambil ancang-ancang sebelum mendobrak pintu kamar Kyla.
'Brakk!'
Pintu kamar Kyla terbuka.
"Hei!" teriak Caesar sambil menganga lebar.
"Kyaaa!" jawab Kyla tak kalah cempreng.
Bagaimana tidak? Sekarang Kyla berada pada sisi jendela. Tangannya terulur memegang daun jendela agar tak menghalangi tubuhnya yang ingin keluar. Duduk di kusen, dengan satu kaki yang sudah lebih dulu menginjak balkon luar membuat Kyla panik.
"Kamu mau apa di sana? Jangan coba-coba bunuh diri, ya!"
"Kamu yang kenapa! Kenapa masuk ke kamar perempuan sembarangan, hah?"
Caesar mendadak mengubah ekspresinya. Kata-kata Kyla membuat otaknya menjadi kotor kembali. Satu senyuman sinis ia tampakkan. Senyuman itu, senyum yang paling Kyla benci.
"Ah, iya. Aku lupa kalau saya berada di kamar perempuan muda dan cantik sepertimu."
__ADS_1
Kyla menelan ludahnya saat Caesar perlahan melangkah menuju jendela. Ia panik harus bagaimana. Mau keluar jendela, tapi ujung bajunya tersangkut di kaitan kusen. Sial! Ia bisa habis di tangan Caesar kalau begini caranya.