Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 19


__ADS_3

"Kenapa? Kamu tidak siap bertemu denganku setiap hari, hm?" sindir Caesar seraya tertawa kecil.


Sungguh, Kyla benci tawa penuh kelicikan yang dilontarkan seniornya itu.


"Bukan itu. Tapi, apa ini tidak terlalu buru-buru, Om?" Kyla beralih memandang fokus ke Leo, mengabaikan omongan Caesar yang terasa memuakkan.


Leo mengangguk seraya menyeruput kopinya lagi. Setelah menaruh kopi kembali ke atas meja, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tangannya melipat di dada. Terkesan sombong. Sama seperti Caesar.


"Jangan ragukan apa pun. Kamu akan bahagia bersama putra kami. Tenang saja. Persiapkan dirimu, ya," tutur Leo seraya tersenyum.


Kyla terpaksa membalas senyuman Leo dengan seadanya. Ia ingin menangis sekarang juga, tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Hatinya masih menolak pernikahan ini. Bagaimana bisa ia menikah dengan orang yang ia benci?


Tinggal satu atap, bertatap muka setiap hari, bahkan tidur di ranjang yang sama dengan senior licik seperti ini tidak pernah ada di kamus dugaan Kyla. Tidak pernah terpikirkan oleh Kyla sebelumnya.

__ADS_1


Posisinya sekarang serba salah. Mau melawan tapi ia takut durhaka, takut orang tuanya sedih. Mau menerima juga rasanya seperti sedang menyakiti diri sendiri. Ia sama sekali tidak ada rasa apa pun terhadap Caesar.


Ia juga ingin menikmati masa muda tanpa terikat pernikahan dulu.


"Baiklah, itu saja yang mau Om sampaikan pada kalian berdua. Jangan takut, Kyla. Ingat, kamu akan menjadi putri cantik yang dihormati di keluarga kami," ucap Leo tulus.


Dapat Kyla lihat pancaran harap yang melintasi mata Leo. Pria paruh baya itu menyimpan harapan besar terhadap hubungan Kyla dan Caesar, yang tentunya menyangkut nyawa perusahaan juga. Sialan. Itulah yang Kyla tidak setujui. Menikahi gadis untuk sebuah jabatan? Kurang bagus kedengarannya.


"Iya, Om. Terima kasih. Kami pamit pulang dulu," pamit Kyla seraya berdiri dari sofa.


"Jangan lupa nanti malam, ya. Kamu harus berdandan secantik putri kerajaan, haha," gurau Leo.


"Haha, iya, Om Leo."

__ADS_1


Caesar tiba-tiba mengamit tangan Kyla. Gadis itu terkejut dibuatnya. Ia melirik sinis tangan yang kini berada dalam genggaman Caesar. Menjijikkan.


"Ayah, Varo mau mengantar Kyla pulang dulu," pamit Leo.


"Ya, hati-hati, Nak. Jaga calon menantu Ayah dengan baik. Jangan sampai lecet!" peringat Leo dengan sedikit gurau.


"Haha, siap," balas Caesar.


Dalam hati, Kyla menggerutu. Lecet katanya? Apa-apaan? Memangnya Kyla barang? Gadis itu memberengut seiring acara pamit-pamitan berakhir.


Caesar menarik tangan Kyla pelan. Anehnya, gadis itu malah menurut saja dituntun begitu. Sementara Leo hanya memberikan lambaian khusus untuk mengantar mereka sampai ke luar ruang. Mereka pun berjalan ke pintu keluar ruangan kantor yang cukup elegan dan berkelas itu.


Suasana mendadak canggung. Mereka tak berbicara satu sama lain. Tetap berada dan sibuk mengurusi isi pikiran masing-masing. Entah apa yang ada di benak Caesar. Kyla juga tidak bisa menghentikan kekhawatirannya perihal perjodohan itu.

__ADS_1


Banyak hal yang membuatnya ragu. Caesar itu seniornya, tapi entah seberapa baik dirinya. Apalagi saat sudah menjadi suami nanti. Kyla bahkan sempat memikirkan bagaimana sikap keluarga besar Caesar saat ia menikah nanti.


Tak hanya itu. Hal yang paling membuat ngeri adalah malam ini. Bagaimana bisa ia mengatasi rasa gugupnya? Bertemu keluarga Caesar? Ah, Kyla ingin tidur saja rasanya. Sia-sia, dan malah mengerikan. Menciutkan nyali.


__ADS_2