Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 26


__ADS_3

'Ting!'


Suara bel berbunyi. Tanda ada tamu yang memencet bel di beranda. Gawat, Caesar belum siap mental! Bagaimana jika Caesar tidak dapat mengontrol diri?


"Ah, sepertinya mereka sudah datang. Biar ayah yang membuka pintu. Kau cepat panggil Kyla untuk turun, ya," suruh Leo tangkas.


"Hm, baiklah."


Dua pria tersebut memencar ke dua sisi ruang yang berbeda. Caesar berlari menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Sementara Leo segera berjalan ke ruang tamu guna membuka pintu setelah membereskan penampilan diri.


Sampai di kamar tamu, lagi-lagi Kyla dibuat kaget. Kali ini Caesar membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Wajah yang panik bercampur gugup begitu jelas tergambar di mimik wajah Caesar. Belum juga napasnya yang memburu tidak keruan.


"Ada apa? Orang tuaku sudah datang?" tanya Kyla yang dipenuhi keheranan.


Caesar mengangguk cepat tanpa berkata apa pun. Gagang pintu masih ia pegang erat-erat. Malah terkesan meremas.


Berbeda drastis dengan Kyla. Gadis itu tampak biasa saja. Ia tersenyum sambil membenahi penampilannya di cermin. Bersemangat sekali karena kini orang tuanya telah datang.


"Wajahmu kenapa?" tanya Kyla yang melihat raut aneh dari sang senior di pantulan cermin.


Otomatis, Caesar refleks mengubah ekspresinya cepat. Seperti habis terkesiap. Muka diusap-usap kacau seolah membenahi ekspresi yang sudah tidak terkontrol lagi.

__ADS_1


Sialnya, perempuan berambut sepunggung itu tidak bisa menahan tawa. Hal itu tentu dan sudah pasti mengundang amarah Caesar lagi. Caesar diam, bungkam, membuat Kyla ikut terdiam dan sadar.


"Kenapa kau tertawa, hm? Ada yang lucu dari caraku bicara tadi?"


"Ah, bukan itu. Maksudku, kau—"


"Aku apa? Bicara yang benar, Gadis Cupu!"


Cupu? Kyla bahkan agak tersentak ketika suara Caesar yang lantang meneriakkan panggilan itu. Rasanya seperti diinjak diam-diam. Menyakitkan. Ayolah, bagaimanapun Kyla akan menjadi istrinya. Apakah Caesar bodoh?


"Sebenarnya, aku mau bilang bahwa kau sekarang begitu ... tampan. Ah, tapi sepertinya hatiku sangat sakit karena perkataanmu barusan. Jadi, aku akan menarik ucapanku yang sebelumnya," jelas kyla panjang.


Mendengar itu, Caesar tidak tahu harus merespons seperti apa. Ia bahkan bingung dengan reaksinya sendiri.


"Itu saja yang mau kukatakan. Aku turun ke bawah dulu. Kau bisa menyusul saat sudah siap mental," goda Kyla.


Gadis itu melontarkan senyum ketika akan menutup pintu. Caesar yang kini berdiri di dekat cermin pun hanya terdiam tanpa bisa berkutik. Seolah tersadar dari hipnotis, Caesar menepuk-nepuk pipinya sendiri agak kembali ke realita.


"Gadis sialan!" umpatnya.


Tidak. Jangan sampai Caesar jatuh cinta pada Kyla. Harga diri adalah segalanya bagi Caesar.

__ADS_1


***


"Ibu! Ayah!" seru Kyla sambil berlari menuruni anak tangga. Ketiga orang yang berada di meja makan pun otomatis menoleh. Leo, Andreas, dan ibu Kyla.


"Kau ini, jangan berlari seperti itu. Gaunmu bisa rusak nanti," peringat Andreas kepada putrinya.


"Iya, Sayang. Tapi, putri ibu kenapa cantik sekali malam ini?"


Kyla langsung merangkul kedua orang tuanya yang duduk berdekatan. Menciumi pipi keduanya bergantian sambil mengumbar senyum bahagia. Ah, mereka melupakan kehadiran Leo yang termangu di meja yang bundar ini.


"Ah, ya. Itu Caesar yang menyiapkan semuanya."


"Haha. Lain kali jangan berlari seperti itu lagi. Kau bukan anak kecil lagi, Kyla," kata ibunya.


"Maaf, Ibu. Aku terlalu senang karena kalian datang," jawab Kyla sambil menarik kursi di sebelah ibunya dan sebuah kursi kosong.


Ia duduk di sana. Merapikan penampilan sejenak sambil memperhatikan ketiga orang dewasa tersebut.


"Ah, tidak apa-apa, Andreas. Kyla akan kami anggap seperti anak sendiri. Dia bebas berekspresi seperti apa pun," kata Om Leo.


"Haha, baguslah, Leo," jawab sang ayah.

__ADS_1


"Tapi, apa Kyla akan bahagia di sini, Bu?" bisik Kyla pada ibunya yang ada di sebelah.


__ADS_2