Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 25


__ADS_3

Pelan-pelan, tangannya menggenggam kenop pintu. Ia sempatkan untuk mendengar suara dari papan kayu tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan telinga di daun pintu.


Nihil. Tidak terdengar apa pun. Hanya ada kasak-kusuk seperti suara plastik. Apa itu?


Penasaran, akhirnya Caesar pun memutar kenop pintu. Sangat cepat. Terburu-buru.


"Dapat kau!" teriak Caesar ketika pintu dibuka.


Namun kagetnya, yang ia lihat adalah pemandangan luar biasa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Oh, Tuhan! Indah sekali. Bagaimana bisa Caesar melihat ini?


Seorang gadis duduk di tepi ranjang mendadak terdiam tanpa berani berkutik. Bola matanya yang bulat menyorot terang ke netra Caesar. Begitu polos, dan berubah berbinar-binar.


Rambutnya yang pirang tergerai halus dan sangat lembut. Serasi dengan gaun cantik yang menghiasi tubuhnya hingga ke mata kaki. Efek sinar dari swarowski menambah elegan penampilan gadis sembilan belas tahun tersebut. Pun kedua telinga yang dihias anting berkilau. Cantik.


Caesar mematung kaku, tidak berbicara apa pun. Hanya berdiri macam patung di ambang pintu kamar tamu yang mewah dan luas ini.


"Maaf, apa acaranya sudah mulai?"


Pertanyaan dari suara halus Kyla membuat Caesar tersadar dari lamun. Ia berdeham singkat guna meredakan perasaan yang agak aneh ini. Ada apa dengan Caesar?


"Hm. Ya. Hampir dimulai," jawab Caesar seadanya.


"Apa orang tuaku sudah datang?" Kyla bertanya kembali.

__ADS_1


"Sudah, eh, belum. Ya, maksudku belum."


Caesar tergagap. Entah ada apa pada jantungnya sekarang. Tidak, ia tidak boleh mengacaukan rencana ayahnya hanya karena cinta. Ia tidak boleh jatuh cinta pada Kyla.


Gadis itu mengangguk singkat. Lalu, pandangannya kembali pada cermin yang berada tepat di hadapannya. Sesekali, tatanan rambut ia benahi lagi.


"Dapat alat make up dari mana? Bukannya tadi tasmu tertinggal di rumah?"


Kyla hanya mengumbar senyum tipis. "Dari asisten rumah tanggamu," jawabnya.


Decih sinis terdengar dari Caesar. Bagaimana bisa calon istri dari seorang Caesar Alvaro memakai alat make up dari asisten rumah tangga keluarga besar Leo? Sepertinya, Caesar berniat membiasakan Kyla hidup mewah dan sombong.


"Sudah, jangan berdandan lagi. Nanti tambah cantik."


"Ah, maksudnya nanti waktu kita habis. Kalau sudah selesai, cepat turun atau kuhabisi kau," perintah Caesar sok sangar, demi mengalihkan Kyla. Dasar, mulutnya sudah tidak bisa dikontrol lagi.


"Baiklah."


Caesar menutup kembali pintu kamar tersebut dengan sedikit bantingan keras. Kyla terperanjat kaget. Caesar memang pria yang kasar.


Sumpah serapah Caesar umpatkan pada dirinya sendiri seraya menuruni anak tangga. Tangannya tak ayal memukuli kepala, membuang pikiran gila tentang perasaan jatuh cinta pada Kyla. Jangan sampai itu terjadi!


Caesar terus berjalan hingga ke meja makan yang berada di tengah ruangan. Lampu hias besar yang tergantung di atas meja tampak menambah kesan mewah pada ruangan ini. Elegan dan apik.

__ADS_1


"Lauknya banyak sekali hari ini," celetuk Caesar pada sang ayah yang sudah duduk di kursi makan.


"Tentu. Tamu kita istimewa. Haruslah disediakan hidangan yang istimewa pula," jawab Leo.


"Haha, baiklah."


"Kyla di mana? Sudah bersiap diri?"


"Sudah, Ayah. Tadi sudah kusuruh untuk turun," jawab Caesar.


Leo bertanya lagi, "Bagaimana?"


Alis Caesar terangkat, bingung. "Bagaimana apanya?"


"Kyla. Cantik, bukan? Pasti kau terkagum-kagum setelah melihatnya berdandan cantik di kamar tadi, 'kan?"


Tenggorokannya terasa tercekat ketika mengingat penampilan Kyla. Meskipun mulut bisa berbohong, tetapi hatinya tidak bisa. Jujur, Kyla sangat cantik.


"Ah, tidak juga. Biasa saja," jawab Caesar penuh kebohongan.


Caesar mengeluarkan ponsel dari saku. Layarnya digulir tanpa arti dengan pikiran yang entah ke mana. Ia berusaha mengusir rasa gugup yang tiba-tiba datang ketika mengingat ada keluarga Kyla yang akan datang nanti.


'Ting!'

__ADS_1


Suara bel berbunyi. Tanda ada tamu yang memencet bel di beranda. Gawat, Caesar belum siap mental!


__ADS_2