
Jika bukan karena rasa jantung yang sedang berdebar-debar ekstra, Caesar pasti sudah kalap membalas perkataan Kyla. Tentunya dengan perbuatan kasar yang entah apa. Namun, apalah daya. Lelaki itu amat pelik dalam situasi penuh salah tingkah yang menyebalkan.
"Maaf, aku bercanda. Ayo, jalankan lagi mobilnya. Nanti kita terlambat ke kampus," ucap Kyla begitu tenang.
"Aku peringatkan, ya. Jangan berani menggoda atau memancing emosiku," balas Caesar.
Mesin mobil dihidupkan kembali serentak dengan putaran roda yang mengarah lurus ke jalanan. Caesar tahu, sikap Kyla hari ini hanya akal-akalannya saja agar ia dipandang buruk. Caesar yakin, Kyla pasti sengaja membuat alasan agar mereka tidak terlibat dalam perjodohan konyol itu lagi.
"Satu hal lagi. Jangan coba lari dari perjodohan ini. Aku tahu kamu gadis yang baik," ucap Caesar akhirnya.
Sialan! Kenapa pipi Kyla harus merona merah hanya karena ucapan singkat itu?
Setelah berdeham singkat, Kyla mulai angkat suara lagi. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Caesar. "Santai saja. Aku tidak akan kabur meskipun tahu bahwa kamu adalah orang aneh, Kak," kata Kyla.
"Aneh apanya? Lihat saja kalau sudah jadi istriku nanti. Habis kamu," ancam Caesar.
Sungguh. Dalam hatinya tidak ada niat buruk. Ia hanya mewanti-wanti agar calon istrinya itu selalu patuh padanya dan tidak akan meninggalkannya.
"Oh, ancaman, ya?" Baiklah. Mungkin nanti keadaannya akan terbalik," jawab Kyla santai.
__ADS_1
Caesar mendengkus pasrah. Benar. Siapa pun wanitanya, ia selalu kalah bicara. Ia harus mengalah demi gengsi lelaki yang ia junjung tinggi.
***
Tidak butuh lama, mobil pun sudah terparkir manis di dekat koridor fakultas. Ya, tempat mobilnya para dosen. Hari ini Caesar sangat malas untuk memarkirkan mobilnya di deretan area parkir mahasiswa. Entah ocehan apa yang akan ia dapati oleh sang tukang parkir nanti. Ia tidak peduli.
"Turun," perintahnya pada gadis yang menyandarkan kepala di sisi kiri jendela mobil.
Dengan gerakan paling lamban dan begitu malas, Kyla pun mengangkat kepala, menengok lesu ke arah Caesar yang sedang melepas sabuk pengaman.
"Kenapa lihat-lihat? Cepat turun!" ujar Caesar lagi.
Caesar dibuat melongo oleh perkataan gadis sembilan belas tahun tersebut. Sungguh. Ia tidak habis pikir atas perubahan sikap yang ditunjukkan Kyla sejak tadi. Apa benar Kyla adalah gadis yang menyebalkan seperti itu? Ini tidak sesuai dengan image Kyla yang ditangkap oleh Caesar selama ini.
"Tunggu!" teriak Caesar seraya membuka pintu mobil dan buru-buru keluar menyusul gadisnya.
Kyla terpaksa berhenti berjalan. Ia menengok malas ke arah Caesar tanpa ekspresi yang bisa diartikan.
"Ada apa? Mau dibayar tumpangannya?" ketus Kyla.
__ADS_1
Astaga. Caesar benar-benar hampir frustrasi demi bisa membaca arti sikap yang Kyla tunjukkan hari ini. Bagaimana bisa gadisnya yang lugu, polos dan lembut menjadi sangar dan menyebalkan seperti ini? Terlebih, perubahan itu terjadi dalam waktu sekejap. Aneh!
"Bukan gitu, Kyla. Pulang kuliah nanti, jangan pulang sendiri, ya. Ayah meminta kita ke toko butik untuk mencari gaun pengantin hari ini," jelas Caesar.
"Gaun pengantin? Hmm, ya, baiklah," jawab Kyla seadanya. Ia pun berbalik lagi, hendak meninggalkan Caesar di sana.
"Hei, aku belum selesai bicara."
Tangan Kyla dicegat oleh Caesar, membuat langkah gadis itu terhenti mendadak. Ia berbalik malas. Menatap sang calon suami yang kini sedang memasang raut sebal.
"Apa lagi, Kak?"
Caesar melepas tangan Kyla, kemudian beralih menggaruk-garuk belakang leher.
"Emm ... boleh minta nomor ponselmu? Untuk dihubungi kalau kamu sudah selesai kuliah nanti maksudku. Bukan bermaksud apa-apa," kata Caesar yang ujungnya menyiratkan kepanikan.
"Boleh. Dengan satu syarat."
"Calon suamimu pun diberi syarat hanya untuk mendapat nomor ponsel calon istrinya? Hah, yang benar aja, sih!"
__ADS_1