
"Ah, tidak apa-apa, Andreas. Kyla akan kami anggap seperti anak sendiri. Dia bebas berekspresi seperti apa pun," kata Om Leo.
"Haha, baguslah, Leo," jawab sang ayah.
Mendengar itu, gerak Kyla terhenti. Ia melirik singkat ke dua orang yang tampak sedang bergurau tersebut. Lantas, pandangannya beralih ke sang ibu yang berada di sisinya.
"Tapi, apakah Kyla bisa bahagia di sini, Bu?" tanya Kyla sambil berbisik pelan.
Seolah memberi kode, ibunya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Tenang saja, Nak. Mereka orang baik," bisik Salma; sang ibu yang kini ikut khawatir karena perkataan ragu-ragu Kyla.
Di sela-sela perbincangan, terdengar suara sepatu yang beralas keras sedang menapaki anak tangga. Sorot mata yang tajam sekonyong-konyong meminta sambutan dari keempat manusia yang duduk di meja makan. Kyla diam saja, tidak ikut memanggil-manggil nama Caesar seraya melontarkan pujian seperti ketiga orang ini.
Ayolah, Kyla benar-benar jengah atas kelakuan mereka. Tidak ada yang tahu betapa kacaunya Caesar di ruang atas tadi. Mungkin, kini nyalinya sudah kembali. Kembali sombong.
"Ah, Nak Caesar. Ayo, sini, kita makan sama-sama," kata Andreas penuh keramahan.
Sementara Salma manggut-manggut mengiyakan sambil ternganga. Mungkin ibunya itu terpesona pada karisma Caesar yang kini mengenakan tuxedo hitam dan penampilan yang serba hitam. Seperti orang mau melayat saja, batin Kyla.
"Duduk, Nak. Beri salam pada mereka," suruh Leo sambil menepuk-nepuk punggung Caesar yang sudah sampai di meja makan.
__ADS_1
Caesar mengangguk patuh. "Halo, selamat malam," katanya.
'Puk!'
Bagian belakang Caesar sengaja ditepuk keras oleh Leo. "Beri salam yang benar. Salami tangan mereka! Kau ini bagaimana?" ujar Leo.
Caesar merengut kesal. Dielusnya bagian belakang yang habis ditepuki ayahnya macam anak bayi yang mau tidur. Sial. Memalukan sekali.
"Halo, apa kabar kalian?" kata Caesar ketika selesai menyalami tangan kedua calon mertuanya itu.
"Baik, Nak. Kau juga, bukan? Apalagi sekarang, tampan dan gagah, haha," puji Salma yang memandang dengan binar kekaguman.
"Taruh garpumu, Kyla. Jangan begitu, tidak sopan," tegur Andreas yang tidak sengaja melihat tingkah bosan putrinya tersebut.
"Maaf," kata Kyla. Kecil sekali suaranya.
"Nah, mari makan," ujar Leo mempersilakan.
***
__ADS_1
Suasana di ruangan yang mewah ini begitu hening bin sepi. Hanya ada suara denting sendok dan garpu beradu yang meramaikan ruang. Semua sibuk dengan makanan dan isi kepala masing-masing.
"Ehem." Leo berdeham guna memecahkan kecanggungan.
"Apa, Ayah? Ayah tersedak?" tanya Leo yang benar-benar bingung.
"Ah, tidak." Leo beralih ke Andreas dan Salma yang masih sibuk mengunyah. "Jadi, kapan pernikahan putra dan putri kita ini dilangsungkan?" tanyanya.
Andreas mendongak dan berhenti mengunyah sejenak. Begitu juga Salma yang kini mengumbar senyum saja. Pertanyaan itu mungkin sangat sensitif bagi putri mereka yang kini tersedak air minum.
"Jangan terburu-buru, Ayah. Kita masih punya waktu banyak," usul Caesar.
"Diam, kau!" bisik Leo penuh penekanan pada anaknya yang berkarisma tersebut.
Caesar mendadak bungkam. Takut diperlakukan seperti bayi lagi. Leo pun mengalihkan atensi ke Andreas lagi. Lalu, ia menatap Kyla.
"Bagaimana kalau minggu depan?" kata Kyla tiba-tiba saja.
"Apa?"
__ADS_1
Semua hening. Tercengang. Kaget pada pernyataan gadis sembilan belas tahun itu.