
Kyla tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menutup kedua matanya. Tangannya yang mungil, berusaha memegang seatbelt yang melingkari tubuhnya dengan begitu erat. Laju mobil Caesar kini sudah di luar batas kendali.
Caesar tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia melirik sejenak ke arah pelipis Kyla yang sudah dipenuhi oleh butiran-butiran peluh. Wajah putih Kyla pun sudah berubah, makin memucat. Seerat mungkin, Kyla menutup kelopak matanya, tak berani menatap jalanan yang sepertinya akan mereka tabrak.
Ekspresi Kyla yang ketakutan seperti itu membuat Caesar makin berani menggila. Ia menginjak pedal gas mobil, guna meningkatkan kecepatan mobilnya. Alhasil, mobil mereka meluncur, serasa terbang dan tak mengenai aspal. Benar saja, Kyla semakin menunduk ketakutan sekarang.
Tangan kiri Caesar berinisiatif untuk mengelus pelan surai pirang milik Kyla. Disentuh seperti itu, Kyla agak tersentak. Ia menoleh ke arah Caesar dan langsung menepis tangan kekar itu dari kepalanya.
Diperlakukan seperti itu tentu membuat Caesar murka.
"Jangan begitu padaku, Kyla," ucap Caesar dingin.
Kyla diam sejenak. Aneh saja, ada seseorang yang tahu namanya. Padahal, ia bukanlah seseorang yang terkenal. Ada yang tahu namanya saja ia bersyukur.
"Kamu tahu nama aku dari mana?" tanya Kyla heran.
__ADS_1
Pandangan Caesar beralih dari jalanan yang lurus ke Kyla di sampingnya. Gadis itu menampakkan wajah polos yang membuat Caesar ingin menerkamnya saat itu juga. Gemas sekali melihatnya dua bola matanya yang mengerling bersama bulu mata lentik itu.
"Itu tidak penting. Tapi, yang terpenting adalah kamu harus tahu namaku."
"Hmm ... maaf. Aku tidak tahu siapa kamu."
Caesar dibuat tercengang dengan apa yang baru saja dituturkan oleh gadis ini. Ayolah, siapa yang tidak kenal Caesar Alvaro. Anak dari pebisnis terkenal di kota ini; Daniel Leogarda. Caesar juga merupakan petinggi di himpunan jurusannya. Bahkan para gadis berbondong-bondong mendekati Caesar yang dikenal kaya ini. Aneh sekali, ternyata masih ada gadis yang tidak kenal dengan dirinya.
"Ck, kamu tidak tahu siapa aku? Ah, yang benar saja!" ucap Caesar agak kesal.
Tangannya yang sedang sibuk menyetir kini memukul agak kencang klakson yang berada di depannya. Padahal, tidak ada apa-apa di jalanan. Ia hanya melampiaskan kekesalannya pada benda mati itu.
Laki-laki berahang tegas itu berucap dengan dingin, "Caesar Alvaro."
"Oh, namaku Ky—"
__ADS_1
"Ya, aku sudah tahu itu, Kyla."
"Bagaimana kamu tahu namaku? Aku bahkan belum memperkenalkan diri," ujar Kyla dengan polosnya.
Caesar menggeram frustrasi. Ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Hal itu membuat Kyla semakin kebingungan.
"Kamu ini terlalu polos atau bagaimana, hmm?"
Pertanyaan Caesar semakin membuatnya bingung. Kyla meneguk ludahnya sejenak saat manik milik Caesar menatapnya dengan sangat tajam.
"M-maaf," ucap Kyla terbata.
Tubuh Caesar kini mulai bergerak mendekat ke arahnya. Sungguh, jantung Kyla dibuat tak menentu sekarang. Rasa antara takut, bingung, cemas, panik, bercampur menjadi satu.
"K-kamu mau apa?" tanya Kyla lagi.
__ADS_1
Ia beringsut mundur hingga terpojok di pintu mobil demi menjauh dari Caesar. Sementara itu, mungkin hanya sepuluh sentimeter saja jarak mereka sekarang. Aroma maskulin dari tubuh Caesar pun sudah mulai menyeruak ke indra pembau Kyla.
"Sebelum menikah, kita harus saling mengenal dulu, bukan?" ucap Caesar dengan seringainya.