Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 2


__ADS_3

Caesar berkali-kali merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa, ia begitu ceroboh hari ini. Dari mulai salah membawa materi saat presentasi, ponsel yang tertinggal di tempat fotokopi, bahkan sampai kakinya yang tak sengaja masuk ke selokan kecil di kampus sore ini.


Sial. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya, mungkin. Ia sama sekali tidak bisa membuat pikirannya fokus pada hal-hal yang sedang dilakukannya. Hanya kalimat dari ayahnya selalu terngiang di dalam benaknya.


Kyla Fizeta, bagaimana bisa ia menemukan orang asing bernama Kyla tersebut? Bukan tidak pernah mencari, ia bahkan sudah berkeliling dan mencari tahu dari teman-temannya yang berada di jurusan lain kampus ini. Sayang, ia belum juga menemukannya.


Caesar cukup malas untuk menyelidiki lebih lanjut. Ada prioritas yang lebih penting dibanding itu. Caesar selalu ahli dalam menyusun strategi prioritasnya.


Namun, sepertinya kali ini ia harus mendengarkan nasihat ayahnya. Ia tidak mau gagal fokus lagi karena memikirkan Kyla. Hari ini, mau tidak mau, ia harus mencari Kyla.


Caesar berjalan ke fakultas sebelah. Tepatnya, fakultas yang selama ia berkuliah di sini belum pernah ia kunjungi sama sekali. Kata Reno—sahabat Caesar— mungkin Kyla yang dimaksud orang tuanya ada di fakultas ini. Apa itu mungkin? Sementara penggambaran Kyla oleh ayahnya sungguh jauh dari image anak-anak di fakultas ini.


Ya, ini adalah Fakultas Teknik.

__ADS_1


Fakultas yang sejak dulu dikenal dengan mayoritas laki-laki sebagai mahasiswanya. Di fakultas ini pula terkenal senioritas yang begitu kental. Caesar ragu bila Kyla berkuliah di fakultas ini. Menurut ayahnya, Kyla itu anak yang penurut, lemah lembut dan manis. Apa mungkin ia mengambil jurusan di fakultas ini?


"Bro, apa kabar?"


Seseorang berhasil membuyarkan pikiran Caesar. Caesar menghentikan langkahnya, mengamati laki-laki yang kini menepuk pundaknya.


Dia Arza, temannya semasa SMA. Ia ingat betul bagaimana Arza sering menjahili adik-adik kelasnya, Arza yang sering melakukan pungutan liar atas nama senioritas, dan hal buruk lainnya. Sungguh, Arza memang cocok berkuliah di sini. Namun, agaknya, Arza sudah taubat. Kini hanya tersisa ketegasan dan wajah sangarnya saja. Semenjak hari kelulusan, ia berjanji tidak akan menjahili adik tingkatnya nanti. Semoga saja itu benar.


"Eh, untung banget ketemu lo, Za," ucap Caesar seraya menyeringai.


"Haha, enggak. Gue cuma mau nanya, ada yang namanya Kyla Fizeta di fakultas ini?"


Arza tersenyum sinis. Matanya mengedarkan pandang ke seluruh sisi. Hingga fokusnya pun berhenti di salah satu titik tempat. Gardu listrik di dekat gedung lama kini ditunjuk Arza dengan dagunya.

__ADS_1


"Maksud lo junior ingusan itu?"


Caesar segera mengikuti petunjuk dari Arza. Benar saja, ada satu perempuan yang berbadan agak mungil di tempat tersebut. Mata Caesar membelalak saat tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu di sana.


"Dia Kyla? Kyla Fizeta?" tanya Caesar ragu.


"Iya. Dia itu junior paling cupu. Rombongan gue lagi mengajak dia main."


Caesar mengernyit heran. Ia ingin melangkah dan menghampiri gadis yang terlihat lemah itu. Pasalnya, di sana Kyla terlihat sedang menunduk ketakutan di dekat gardu listrik. Terlihat jelas bahwa ia sedang menangis sesenggukan di sana.


"Jangan gitulah, Bro. Kasihan," ucap Caesar spontan pada Arza.


"Enggak apa-apa. Ibaratnya itu cuma acting aja. Hitung-hitung buat dia latihan masuk kelas kaderisasi."

__ADS_1


Jujur, hati Caesar agak miris melihatnya menangis. Namun selebihnya, ia suka dengan pemandangan menggemaskan di depannya itu.


"Kyla Fizeta. Sebentar lagi, lo akan jadi milik gue. Gue yang bakal gantikan posisi mereka untuk mengajak lo main nanti," gumam Caesar menyeringai.


__ADS_2