Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 17


__ADS_3

Ketika turun dari mobil, Caesar mengamit tangan halus Kyla tanpa aba-aba. Gadis itu terkejut, melihat ke arah tangan yang kini saling bertaut. Atensinya beralih ke wajah Caesar. Pria itu tampak tenang. Bahkan ia tersenyum.


"Kalau jalan lihat ke depan. Sapa orang yang menyapamu. Tersenyum," tegur Caesar.


Pria itu berbicara dengan rahang mengatup. Seolah tak mau melunturkan senyumannya.


Kyla mendengkus tak terima. Ia ingin menepis tangan yang menggenggam jemarinya erat. Namun apa daya. Kuat sekali genggaman Caesar, seperti akan meremukkan tulang jemarinya saja.


"Jangan sibuk sendiri, Kyla. Bersikaplah manis." Caesar menegur lagi.


"Iya," jawab Kyla singkat--membiarkan tangannya berada dalam genggaman Caesar yang hangat.


Sampai di pintu masuk yang otomatis terbuka, satpam yang ada di sana langsung menunduk memberi hormat. Hal itu dibalas oleh Caesar dengan anggukan, sementara Kyla membalas dengan senyuman.


Banyak pasang mata yang menjadikan Caesar dan Kyla sebagai objek fokusnya. Anak dari pemilik perusahaan ini menggandeng seorang gadis. Skandal apa ini? Bisa dipastikan foto mereka besok terpajang di koran.


Tapi Caesar bangga jika hal itu terjadi. Ia justru berterimakasih, sebab pertunangannya dengan Kyla akan menjadi semakin mudah. Mengenalkan Kyla pada masyarakat dan rekan kerjanya pun tidak perlu susah-susah lagi.


"Kak Caesar," Kyla memanggil sambil berbisik.


Ia mencolek lengan kekar Caesar beberapa kali.


Tinggi Caesar yang cukup jauh berbeda dengan Kyla membuatnya harus agak menunduk demi mendengar suara gadis itu.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Kita mau apa ke sini?" tanya Kyla.


"Bertemu ayah. Nanti malam kan ada acara makan malam keluarga. Aku diminta ayah membawamu ke sini dahulu," jelas Caesar.


"Oh, begitu. Tapi ini terlalu cepat, Kak."


"Hanya makan malam. Bukan menikah, Sayang."


Caesar menjentik pelan hidung Kyla.


"Baiklah," ucap Kyla malas.


Mereka terus menyusuri luasnya kantor ini. Para karyawan dan petinggi perusahaan silih berganti menyapa dan memberi salam pada keduanya. Kyla tak menyangka Caesar begitu dihormati di sini.


Sampai di depan lift, Kyla mulai gusar. Kakinya tak bisa diam. Gemetar. Jemari telunjuknya juga tak ayal jadi sasaran gigi depannya. Digigiti tanpa tenaga.


Gadis itu tak menjawab. Ralat, lebih tepatnya tidak mendengar. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa ia begitu gugup menemui Om Leo.


"Hei?"


Caesar memegang kedua pundak Kyla. Membuatnya berhadapan dengan gadis itu. Netranya menyorot penuh mata Kyla yang tampak sayu dan tak tenang.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu begini?"


Kyla otomatis berhenti dari aktivitas dan gerakan tak jelasnya. Ditatap seperti ini membuat oksigen di sekitarnya menipis. Oh Tuhan, kenapa Kyla baru sadar bahwa Caesar setampan ini?

__ADS_1


"A-aku tidak apa-apa. Emm ... hanya canggung."


"Canggung berada di dekatku, ya?" goda Caesar sambil menaikturunkan alis tebalnya.


"Bukan! Canggung kalau bertemu ayahmu."


Dua ujung jari telunjuk Kyla saling mengetuk. Caesar tersenyum melihatnya. Gemas. Ia mencubit sekilas pipi gadis itu. Gawat bila Caesar benar-benar jatuh cinta pada Kyla.


"Santai saja. Ayahku adalah ayahmu juga."


"Tidak. Rasanya berbeda. Aku agak ... malu," cicit Kyla.


"Tenanglah. Ayo, kita masuk," ajak Caesar ketika pintu lift sudah terbuka.


Mereka naik dan sampai ke lantai tujuh. Di sanalah ruangan Leo berada.


Caesar mengetuk pelan pintu ruangan ayahnya.


"Ayah?" panggilnya.


Satu dehaman terdengar.


"Masuk, Nak."


Caesar pun mengamit lagi tangan Kyla dan membawanya masuk. Sungguh, Kyla mati gaya sekarang. Tangannya dingin. Kaku, pucat, seperti mayat.

__ADS_1


"Jangan takut," ucap Caesar sebelum sampai ke meja ayahnya.


Kyla hanya mengangguk.


__ADS_2