
"Bukan urusanmu. Lagi pula, memangnya kenapa kalau aku cantik?" sanggah Kyla.
Ia bahkan tidak lagi memandang Caesar sebagai senior yang kejam. Baginya, Caesar ialah orang bodoh yang diperbudak oleh iming-iming harta belaka. Pun, Kyla tahu persis bagaimana sifat Caesar yang sebenarnya melalui belakangan ini.
"Tapi, aku enggak suka. Jelek-jelek aja kalau mau ke kampus."
Dengan satu helaan napas, gadis itu maju selangkah. Memperpendek jarak di antara mereka. Caesar memelotot kaget. Hampir saja jantungnya ikut melompat keluar.
"Ini hakku, dan bukan hakmu untuk melarangku, Kak."
Tanpa basa-basi, Kyla segera membuka pintu mobil Caesar. Ia duduk di depan, kursi di sisi pengemudi. Ya, tanpa izin si pemilik.
"Hei, Kyla! Aku belum selesai bicara, ya!" seru Caesar kesal.
Ia buru-buru masuk ke mobil pribadinya yang cukup mewah tersebut. Wajah tanpa dosa menyambut Caesar ketika pintu terbuka. Ah, manisnya. Namun, juga agak mengerikan.
__ADS_1
Pasalnya, ada yang berbeda dari sifat Kyla hari ini. Ya, banyak. Perubahan besar tampak dari cara gadis berambut sepunggung itu menanggapi Caesar. Kurang ajar? Ah, mungkin bagi gadis tersebut biasa saja. Masih dalam kadar normal.
Entahlah. Barangkali, Caesar yang sedikit sensitif hari ini. Bisa gila ia jika sifat Kyla seperti anomali yang selalu berubah-ubah ini.
"Kamu salah minum obat, ya?" tanya Caesar ketika duduk di kursi kemudi.
Gadis itu hanya melirik malas. Lalu, pandangnya beralih ke kaca jendela. Seolah jenuh dengan kehadiran Caesar di sebelahnya.
"Tatap aku, Kyla!"
"Kubilang, tatap aku!" sentak Caesar.
Ia menyentuh dagu Kyla secara kasar, membuat gadis tersebut melenguh kesakitan. Rahang mungilnya yang begitu pas dengan tipe wajah baby face-nya itu terpampang jelas di mata Caesar.
"Kenapa aku harus menatapmu? Apa pentingnya kamu? Aku bahkan tidak sudi menikah denganmu, asal kamu tahu, Kak!" balas Kyla tak kalah tegang.
__ADS_1
Tangan kekar Caesar ditepis cepat olehnya. Ia berdecih, mengalihkan tatap ke luar jendela lagi. Seolah pemandangan di luar lebih indah daripada senior di sisinya ini.
"Hei, ada apa denganmu?" desak Caesar lagi.
"Kenapa? Aku tidak apa-apa. Masih seperti biasa. Ada yang salah?" jawab Kyla sangat ketus.
Tak ingin memperpanjang masalah, Caesar buru-buru tancap gas. Mobilnya mulai mundur dari carport rumah Kyla. Mereka pun meninggalkan pekarangan kediaman gadis cantik itu.
Segala risau, kesal, dan gelisah mengerumuni pikiran Caesar. Gadis lugu di sebelahnya ini tiba-tiba menjadi sangar tanpa sebab. Ada apa sebenarnya?
Fokus Caesar terbagi antara Kyla dan jalanan yang padat. Sesekali, netranya melirik gadis yang sedang memainkan ponsel di sisinya tersebut. Ia ragu, ingin bertanya lagi, tetapi juga takut responsnya tidak mengenakkan.
Tiba di lampu merah, mobil tersebut berhenti. Harusnya, ini menjadi kesempatan bagi Caesar untuk membuka obrolan. Namun, entah kenapa, lelaki itu malah ciut nyalinya. Tersisa hanya kecanggungan yang makin terasa menyebalkan.
Tin!
__ADS_1
Atensi Kyla dan Caesar berpindah ke sumber suara di belakang. Ah, jejeran mobil beramai-ramai menekan klakson agar Caesar segera melajukan mobilnya. Ya, lampu sudah kembali hijau dan mereka tidak sadar.