
"Emm ... boleh minta nomor ponselmu? Untuk dihubungi kalau kamu sudah selesai kuliah nanti maksudku. Bukan bermaksud apa-apa," kata Caesar yang ujungnya menyiratkan kepanikan.
"Boleh. Dengan satu syarat."
"Calon suamimu pun diberi syarat hanya untuk mendapat nomor ponsel calon istrinya? Hah, yang benar aja, sih!"
Kyla melipat lengan di dada, memandang tajam sang senior yang ikut melempar tatapan sangar.
"Mau apa enggak?"
"Ya, maulah! Oke, apa syaratnya?"
"Hmm, syaratnya ... jangan hubungi aku kalau sekadar basa-basi enggak penting. Apalagi cuma iseng pas malam."
Caesar tampak mengelus tulang tengkuk. Ini agak sulit. Ia berpikir berat hanya untuk mengiyakan syarat yang diberikan ole Kyla ini. Takutnya, ia tidak bisa menahan diri nanti.
"Baiklah. Aku setuju," jawab Caesar pada akhirnya.
"Awas, ya! Aku ini sibuk. Jangan ganggu dengan pesan yang enggak penting."
Kyla merogoh isi tasnya demi menemukan benda elektronik berbentuk pipih tersebut. Setelah ketemu, langsung ia ketikkan nama kontak yang baru : Caesar Galak.
"Berapa nomormu? Biar aku yang chat duluan," ucap Kyla sambil terus mengotak-atik aplikasi-aplikasi yang terbuka sebelumnya.
Caesar kalah cepat. Aih, memalukan sekali. Bahkan Kyla lebih gesit daripada dirinya. Mengeluarkan ponsel saja ia lamban.
__ADS_1
"Nomorku 081xxxxxxxxx."
Dengan cepat dan gesit, jemari Kyla mengetikkan angka-angka tersebut ke dalam kolom kontaknya. Lantas, ia pun segera mengirimkan sebuah pesan ke chat pribadi Caesar.
"Selesai."
Tidak butuh waktu lama, pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke Whatsapp Caesar. Buru-buru ia melihatnya. Caesar geram bukan main saat membaca pesan yang Kyla kirimkan.
Jangan sering-sering chat! Aku orang yang malas membalas pesan basa-basi.
Baru saja ingin protes, gadis di hadapannya itu sudah hengkang. Masuk ke pintu gedung jurusannya, membuat Caesar geram kepalang. Kyla sialan! Bagaimana bisa ia bersikap seperti itu pada orang? Terlebih ini senior, sekaligus calon suaminya pula.
***
Tiga jam berlalu sejak perdebatan singkat di koridor gedung kampus tadi pagi. Kini matahari sedang gagah-gagahnya bertakhta di atas bumi. Juga, tidak ada angin segar yang sedikit meredakan hawa panas di sini.
Pesannya belum berganti centang biru. Atau, bisa juga, Kyla memang terbiasa mematikan penanda sudah dibacanya itu. Tiga puluh panggilan telepon telah ia gencarkan ke nomor Kyla. Entah apa yang dilakukan gadis itu hingga tidak mendengar dering sebanyak tiga puluh kali tersebut.
Belum lagi jumlah pesannya. Jika dihitung, mungkin sudah lebih dari 100 pesan yang Caesar kirimkan hari ini saja. Huruf P dikirim hampir lima puluh kali. Sisanya, kata-kata halus sampai umpatan kasar yang terkirim. Miris. Sama sekali tidak direspons.
Ponsel yang ia genggam hampir saja jadi korban kekesalannya. Ia menggeram kuat. Benda pipih itu sudah ia layangkan ke udara bersama emosi yang tidak terkontrol, nyaris terlempar. Beruntung, gadis yang ia tunggu mencegatnya.
"Jangan sok kaya. Beli ponsel itu mahal. Lumayan, uangnya bisa untuk ditabung daripada beli dan mengoleksi ponsel," tutur Kyla saat sampai di dekat Caesar.
Gerakan Caesar terhenti dan berubah jadi tinjuan ke udara. Sungguh, ia sangat kesal. Wajahnya memerah karena menahan marah.
__ADS_1
"Kenapa teleponnya enggak diangkat? Mau mangkir?"
"Bukan mangkir, tapi mau markir."
"Hah?"
"Itu lihat di sampingmu, Kak."
Caesar sontak menoleh ke arah yang dimaksud Kyla. Seorang pria paruh baya sedang berdiri menunggu dua manusia itu selesai bicara. Peluit di dada serta rompi oranye yang dipakainya seolah menegaskan apa pekerjaan yang ia lakoni.
"Yak, mundur!" kata sang tukang parkir begitu keras.
"Argh! Sialan banget, sih. Mengganggu aja!" sergahnya.
"Ayo, naik ke mobil! Aneh-aneh aja. Sejak kapan kampus kita punya tukang parkir, 'kan?" gerutu Caesar sembari membuka pintu mobilnya.
"Dia itu mencari uang. Jangan dijelek-jelekkan," bela Kyla.
"Bela aja terus. Kamu calon istrinya siapa, sih? Calonnya tukang parkir atau calon aku?"
Bola mata Kyla merotasi. Ia menarik sabuk pengaman dan melintangkannya di dada. Satu klik terdengar, sabuk sudah terpasang.
"Ya. Aku bukan calon keduanya."
"Maksud kamu, kamu enggak mau menikah denganku?"
__ADS_1
"Maksudku, aku adalah calon ibu dari anak-anakku. Itu aja. Udah, jangan diperumit. Aku mau tidur, ya."
Kyla pun menyandarkan kepalanya di kaca jendela kiri mobil. Dalam hitungan ketiga, Kyla pasti tidur. Satu, dua, tiga. Jeng! Kyla tertidur pulas seperti habis berperang dan kelelahan.