
Setelah beberapa saat, Kyla pun selesai merapikan kamar. Gadis itu menghela napas lelahnya seraya mengempaskan tubuh di atas kasur berlapis sprei motif abstraknya. Tangannya menyeka dahi, membiarkan buliran keringat hengkang dari pelipisnya.
"Kyla," panggil ibunya yang masih duduk di kursi belajar.
"Eh, iya, Bu?" balas Kyla sambil menegakkan tubuh, menghadap ke ibunya.
"Kamu kenapa?"
Gadis itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Kenapa, Nak? Biasanya, kamu tidak seperti ini."
"Hmm ... Kyla kesal, Bu."
"Kesal kenapa?"
"Kyla kesal karena tahu siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengan Kyla."
"Lho, bukannya waktu itu Ibu sudah memberitahumu? Kenapa kamu baru kesal sekarang?"
Kyla menghela napasnya. "Varo. Kata Ibu namanya Varo, kan?"
__ADS_1
"Iya. Namanya Varo. Memangnya kenapa?"
"Dia itu Caesar, Bu. Caesar Alvaro."
"Ah, iya. Memang itu nama lengkapnya."
"Ibu tahu itu? Kenapa tidak memberitahu Kyla?"
"Hmm ... kan, yang terpenting kamu bakal dijodohkan. Ibu kira, kamu bisa saling mengenal dengannya saat sudah menikah nanti," balas ibunya.
"Enggak bisa begitu, Bu. Kyla bisa mati kalau menikah dengan senior licik seperti dia."
"Hush! Kamu ini, jangan sembarangan bicara. Dia itu anak dari keluarga baik-baik, Kyla."
"Bu, dengarkan Kyla sebentar," pinta Kyla.
"Apa?"
"Dia memang berasal dari keluarga baik-baik. Iya, tapi hanya keluarganya yang baik. Dia tidak, Bu. Entah, apa benar dia anak Om Leo? Sifat mereka agak berbeda. La--"
"Cukup, Kyla. Berhenti menjelek-jelekkan Caesar dan keluarganya."
__ADS_1
Kyla langsung membungkam. Ia tak bisa membayangkan bagaimana harinya nanti jika ia menikah dengan Caesar. Orangtuanya bahkan sudah merestui itu. Sial sekali.
Suasana kamar bernuansa merah muda itu pun mendadak hening. Tak ada suara di antara dua beranak itu. Hingga satu helaan napas dari ibunya terdengar agak keras. Pasrah dan kesal.
"Dua hari lagi kamu akan dilamar secara resmi oleh Varo. Ibu harap, kamu bisa menjaga sikap dan menerima perjodohan ini," ucap ibunya sambil mengecup kening Kyla, lalu berlalu ke arah pintu keluar.
"Bu, Kyla enggak mau. Kyla belum ingin menikah. Kyla enggak akan bahagia dengan Caesar."
Langkah ibunya terhenti di depan pintu. Ia menoleh ke arah Kyla. Napasnya dihela beberapa kali secara dalam.
"Jangan begitu. Kamu pasti bahagia, Nak. Apa kamu tidak mau membantu ayah sedikit?"
"Bu ... Kyla mohon ...." Gadis itu hampir meneteskan air matanya.
Ia berjalan menghampiri ibunya yang masih terdiam di ambang pintu. Dipeluknya wanita paruh baya itu dengan sangat erat. Seolah melepaskan emosi kesedihan yang ia rasakan sekarang.
Ibunya hanya membalas dengan elusan di puncak kepala Kyla. Surai halus milik Kyla disentuh dan disisir dengan jarinya. Lalu, ia mencium kepala putri tunggalnya itu sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu pasti bahagia, Nak. Kamu putri Ibu yang paling baik. Kamu pasti disayangi. Jangan takut ya."
Kyla melepaskan pelukan sambil menatap lekat mata ibunya. Ia menggeleng pasrah. Mengisyaratkan penolakan tanpa bisa menyebut kata-kata lagi.
__ADS_1
"Tenang ya. Ibu akan sering mengunjungimu," jawab ibunya lagi. Kali ini setetes air mata mengalir di pipi wanita paruh baya tersebut.
Perkataan itu malah membuat Kyla semakin menangis sesenggukan. Ia tak bisa lagi menahan air matanya. Melalui itu, ia menumpahkan segala kekesalannya pada takdir yang ia rasa tidak adil.