
"Jangan sentuh aku, Kak!"
Mendengar penuturan gadis itu, Caesar otomatis terbahak. Ia menarik kembali tangannya dari surai pirang Kyla. Pipi gembil Kyla yang kini memerah dicubit oleh Caesar pelan. Menggemaskan.
"Apa yang ada di pikiran kamu, Kyla? Aku hanya mencoba menenangkan kamu. Itu saja."
"Bohong. Kamu itu mesum, Kak!"
"Kak? Haha, bagus. Biasakan memanggilku dengan panggilan itu, ya," tutur Caesar sambil mengacak puncak kepala Kyla.
"Terserah! Intinya kamu senior yang licik dan mesum!"
"Haha, mudah sekali kamu memberikan penilaian. Kita kan belum terlalu mengenal."
Kyla terdiam sejenak. Ucapan Caesar ada benarnya. Sejauh apa ia mengenal pria ini? Mengapa dengan mudah ia memberi penilaian? Ah, tidak. Kyla segera bergeleng cepat, memusnahkan pikiran positif yang berusaha menurunkan egonya.
Pria semacam Caesar harus diwaspadai.
"Dari cara kamu semua itu sudah terlihat."
"Wah, calon istriku ini sok tahu sekali."
Entah mengapa, rona merah tiba-tiba membuat semburat di wajah putih Kyla. Istri? Sungguh, kata itu menggelikan bagi Kyla.
__ADS_1
Hei, Kyla masih sembilan belas tahun! Wajar bila ia merasa risi dengan kata suami, istri, dan nikah, kan?
"Sekarang, ayo turun. Kamu sudah mandi, kan? Kita ke kampus bersama nanti."
Dengan nakalnya, Caesar sengaja mendekatkan indra pembaunya pada tubuh harum Kyla. Seolah-olah memastikan bahwa Kyla sudah wangi. Sontak Kyla melompat ke kasur--menjauh dari pria yang dianggapnya manusia termesum di dunia ini.
"Apa, sih? Aku sudah mandi! Tidak perlu mengendus-endus seperti hewan!" sergah Kyla yang kini berdiri di atas kasur empuknya.
Caesar memutar kepalanya ke belakang, mencari keberadaan gadis pujaan hatinya itu. Sebuah senyum terbit di bibir kering Caesar. Bagaimana tidak? Kyla sekarang duduk di pinggiran kepala ranjang, melipat tangan di dada seraya mengerutu tidak jelas.
"Hei, kamu sedang apa, Sayang?"
"Tidak usah memerhatikanku! Keluar sana!" usir Kyla.
Alasannya simpel. Kyla juga merasa salah tingkah sekarang. Mata elang Caesar benar-benar tajam dan bisa membuat siapa pun hanyut di dalamnya. Oh, tapi Kyka tidak akan terpengaruh. Ia akan tetap pada pendiriannya.
"Apalagi? Dari tadi kita sudah bicara panjang!"
Caesar menyunggingkan senyum sinis.
"Wah, jangan membentakku, Kyla. Aku ini senior kamu."
"Lantas, kenapa kalau senior?"
__ADS_1
"Aku ini senior kamu. Aku bisa melakukan apa saja padamu. Termasuk menikahimu."
"Tapi aku tidak mau, Kak!"
"Sstt, diam, Kyla. Turuti saja mauku dan kamu akan baik-baik saja."
Caesar merangkak ke atas tempat tidur. Ia berusaha mendekati Kyla yang berdiri dan menyandarkan punggung pada sisi kepala ranjang. Caesar terus merangkak mendekati Kyla.
Gadis itu terperanjat dalam panik. Tubuh Caesar semakin dekat dengan kaki putih mulusnya. Ditambah lagi kata-kata terakhir yang dikatakan Caesar : Turuti saja mauku dan kamu akan baik-baik saja.
Sialan!
"Jangan dekat-dekat! Turun dari tempat tidurku, Caesar!"
Pria itu berhenti merangkak. Ia mendongak ke arah Kyla yang posisinya lebih tinggi dari Caesar. Ada raut tidak setuju di wajahnya.
"Kamu memanggilku dengan nama lagi. Apa aku harus membuat peraturan beserta hukumannya?"
Kyla menggeleng cepat. Dasar gila!
"Maaf. Aku lupa," elak Kyla sambil menyembunyikan wajahnya.
"Lupa? Kamu lupa atau sengaja minta dihukum, Sayang?"
__ADS_1
Gawat! Caesar lanjut merangkak mendekat. Kyla harus menjauh. Ia melompat turun dari ranjang.
"Jangan menghindar. Kamu harus dihukum, Kyla," ucap Caesar dengan suara bas miliknya.