
"Hukum apa? Jangan macam-macam, ya, Kak!" ancam Kyla.
Gadis itu beringsut ke sisi lain ruang berukuran 3x4 tersebut. Ia memilih kursi deakt meja rias dan segera duduk di sana. Wajah yang mengarah ke Caesar dengan sangar, berharap membuat Caesar takut.
Padahal tidak. Pria berkulit putih itu mana pernah takut dengan perempuan, kecuali ibunya. Ya, Kyla salah lagi. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya ada usaha yang ia lakukan.
"Ayo, sini dihukum dulu, Sayang," goda Caesar sambil menyeringai.
Perlahan, ia turun dari ranjang berlapis sprei warna ungu muda tersebut. Ia menginjakkan kaki dengan wajah licik yang tak bisa diartikan. Kyla semakin bergidik ngeri dibuatnya.
"Kamu ini mau apa, sih? Sana jauh-jauh!" usir Kyla.
"Kamu mengusirku? Jangan begitu. Ya sudah, kamu tidak dihukum. Tapi kamu harus menurutiku."
Caesar yang sudah berada di hadapan Kyla tiba-tiba menunduk ke arah gadis itu. Kyla terkejut. Di pikirannya berbagai hal bisa saja dilakukan oleh pria licik ini.
"Mau apa kam—ahh, lepaskan!" teriak Kyla.
Bagaimana tidak. Caesar kini sudah merengkuh pinggangnya, lalu dengan secepat kilat membalikkan tubuh Kyla dan meletakkan gadis itu di bahu kekarnya. Ya, Caesar menggendong Kyla seperti memanggul karung beras. Sialan!
__ADS_1
"Diam, Sayang!" titah Caesar.
Jemari kasar Caesar menyentuh gagang pintu kamar Kyla. Ia membukanya dengan mudah, lalu keluar menuju ruang tamu. Ia tahu, Kyla sudah siap menuju kampus.
"Kita ke kampus sekarang," ujar Caesar dengan suara basnya.
"Lepaskan aku! Ah, aku takut ... aku takut jatuh!"
Kyla terus berteriak tak karuan. Hingga suara cemprengnya sampai di telinga Salma yang ada di ruang tamu. Atensi wanita paruh baya itu mengarah padanya.
Saat melihat Kyla dan Caesar dalam posisi seperti itu, bukannya membantu, ia malah tertawa geli. Putri tunggalnya sudah lama tidak bertingkah seperti itu. Lucu saja. Mereka seperti dua kakak beradik yang sedang ribut.
"Ibu, tolong Kyla, Bu! Dia orang mesum!" mohon Kyla dengan tatapan memelas andalannya.
Salma lagi-lagi menggelakkan tawa.
"Kalian ini. Seperti anak kecil saja," ucapnya.
"Ibu, Kyla tidak mau menikah dengan pria kasar seperti Caesar ini, Bu," rengek Kyla yang masih berada di gendongan Caesar.
__ADS_1
Alis Caesar terangkat. Baru kali ini ada gadis yang berani melawan dan menjelekkan namanya seperti ini. Ia pun dengan spontan mencubit betis kiri Kyla dengan sejumput cubitan kecil yang menyakitkan.
Ya, ancaman agar Kyla diam maksudnya.
"Aku tidak kasar, Kyla. Aku hanya ingin memanjakanmu," elak Caesar.
Kyla yang mengerti kode dari Caesar, kini hanya diam. Lagi pula, dalam kondisi seperti ini pasti ibunya akan membela Caesar.
"Sialan," gumam Kyla kecil. Terdengar di telinga Caesar. Namun pria itu tak menggubris.
"Ya sudah, kalian berangkat sana. Hati-hati di jalan, ya!"
"Baik, Tante," jawab Caesar.
"Nak Caesar, tolong jaga Kyla, ya. Kalau dia bandel, lapor Tante saja," imbuh Salma lagi.
"Haha, itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Tante. Kami berangkat dulu," jawab Caesar sambil tersenyum.
Kyla mendengkus pasrah. Tenaganya kalah kuat dibanding pria beralis tebal ini. Ia pun menampakkan wajah sendu saat Salma melihatnya meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Bu ...," lirih Kyla.
Sebuah lambaian hangat diberikan Salma untuk menjawab putri tunggalnya tersebut.