Dinikahi Senior Licik

Dinikahi Senior Licik
Chapter 29


__ADS_3

Cup!


Setelah mencium, Caesar segera membuang muka. Entah malu atau apa. Begitu pula dengan Kyla yang langsung mengalihkan tatap ke kolam renang. Gaunnya yang indah sesekali diremas guna menyalurkan perasaan aneh ini.


"Sejujurnya, aku menikahimu karena disuruh ayahku. Demi menjadi pewaris," kata Caesar.


Hati Kyla seperti sedang diaduk-aduk. Baru saja ia kaget bercampur senang. Namun, sekarang, ia malah dibuat kesal. Serendah itukah ia di mata Caesar?


"Maksudnya, aku hanyalah batu loncatan?" tanya Kyla tidak terima. Ia mengelap bekas kecupan Caesar di pipinya sambil menggerutu.


Cup!


Lagi-lagi Caesar mengecup pipi kanan gadis itu. Tanpa izin. Tanpa permisi. Mata Kyla terbelalak kaget, tetapi ia tidak tergerak untuk memberi tamparan pada Caesar.


Caesar terus memandang Kyla dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Perempuan itu dibuat salah tingkah. Terlebih, ketika Caesar menyelipkan sisa helaian rambut Kyla ke belakang telinganya.


"Walaupun aku menikahimu karena perjodohan, tetapi kuakui bahwa kau memang cantik."

__ADS_1


Astaga. Tolong selamatkan jantung Kyla yang terasa hampir meledak saat ini. Caesar benar-benar mempermainkan perasaannya.


"Menjauhlah, Kak," pinta Kyla sambil mendorong pundak Caesar agar lelaki itu menjauh dari tubuhnya. "Emm, suara mesin mobil kami sudah terdengar. Ayah pasti telah menungguku di depan. Aku pamit dulu," lanjut Kyla.


Belum sempat berdiri, lengannya ditarik lembut oleh Caesar. Karena titik keseimbangannya hilang, gadis itu pun terhuyung. Tubuhnya mengikuti arah tarikan tangan Caesar. Ia kembali duduk di kursi taman, di sebelah seniornya.


"Kau salah tingkah, hmm?" tanya Caesar.


"Eh, tidak seperti itu."


"Ayolah, apa kau tidak bisa membedakan mana suara mesin mobil dan mesin pompa air? Itu bukan suara mobilmu. Mereka pasti membiarkan kita mengobrol," ujar Caesar.


"Kita harus membiasakan diri. Jangan canggung seperti tadi, ya," kata Caesar memperingatkan.


"Baik, Caesar. Ah, maksudku Kak Caesar," cicit Kyla.


Caesar mengusap puncak kepala Kyla. "Kau mau pulang atau menginap di sini?"

__ADS_1


"Eh? Aku jelas mau pulang. Untuk apa aku di sini?" jawabnya.


"Untuk menemaniku sampai besok pagi. Memangnya, apa lagi?"


Kyla mendengkus, menyandarkan punggungnya di kursi taman. "Aku tidak mau. Lagi pula, besok, kita harus pergi kuliah," tolak Kyla.


Merasa tertolak, Caesar jadi kesal kembali. Namun, di sisi lain, ia merasa bahwa tingkah gadis ini memang cukup menggemaskan. Apa ia bisa memperalat gadis polos ini?


"Ya, sudah. Kita ke ruang tamu sekarang. Mereka sudah menunggu. Besok, akan kujemput lagi. Kita pergi kuliah bersama," ujar Caesar penuh ketegasan.


Tidak punya jawaban lain, Kyla pun terpaksa mengangguk mengiyakan. Tanpa aba-aba, diusak-usaklah rambut Kyla oleh Caesar. Gemas sekali.


***


Esok paginya, mobil Caesar sudah terparkir apik di sisi depan pintu garasi rumah Kyla. Pria itu bersandar di badan kiri mobil sambil memeriksa pesan-pesan yang masuk di ponselnya. Pukul tujuh pagi, memang terlalu dini untuk mendatangi kampus. Namun, Caesar tidak peduli. Entah kenapa, ia terlalu bersemangat hari ini.


Tidak lama setelah menunggu, sang calon istrinya pun keluar dengan pakaian kasual. Cocok untuk musim kemarau yang teriknya kadang tidak terkira. Ia tersenyum, menyapa Caesar yang juga melihatnya.

__ADS_1


"Tidak usah cantik-cantik kalau pergi ke kampus. Nanti orang pada iri," kata Caesar tiba-tiba.


Caesar sialan. Tahu saja apa yang bisa membuat Kyla mati gaya. Pipinya otomatis merona merah padam. Lucu memang.


__ADS_2